{"id":25188,"date":"2022-11-04T16:05:28","date_gmt":"2022-11-04T09:05:28","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25188"},"modified":"2022-11-04T16:05:28","modified_gmt":"2022-11-04T09:05:28","slug":"arti-takdir-yang-buruk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/arti-takdir-yang-buruk\/","title":{"rendered":"Arti Takdir yang Buruk"},"content":{"rendered":"<p>Dalam beberapa hadits yang shahih disebutkan bahwa ada takdir Allah <em>Ta\u2019ala<\/em> yang bersifat \u201cburuk\u201d, misalnya dalam hadits Jibril yang terkenal Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> bersabda: \u201c(Iman itu adalah) kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, serta beriman kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk\u201d.[1]<\/p>\n<p>Juga dalam doa qunut pada waktu shalat witir, yang diajarkan oleh Nabi r kepada cucu kesayangan beliau, Hasan bin Ali <em>radhiyallahu \u2018anhu<\/em>: \u201c\u2026(Ya Allah) jagalah diriku dari keburukan takdir yang Engkau tetapkan\u201d.[2]<\/p>\n<p>Apakah arti \u201ctakdir-Nya yang buruk\u201d? Apakah ada perbuatan-Nya yang buruk? Bukankah Allah<em>Ta\u2019ala<\/em> maha indah dan sempurna semua sifat dan perbuatan-Nya, serta maha suci dari semua bentuk keburukan? Sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> dalam doa iftitah: \u201c\u2026Kebaikan itu semua ada di tangan-Mu, dan keburukan itu tidaklah ada pada-Mu\u2026\u201d.[3]<\/p>\n<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-\u2018Utsaimin <em>rahimahullah<\/em> menjawab pertanyaan di atas[4] dalam ucapan beliau: \u201cKeburukan (yang ada) pada takdir bukanlah ditinjau dari takdir Allah (perbuatan-Nya menakdirkan), akan tetapi keburukan tersebut (ada pada) <em>al-maqduur<\/em> (sesuatu yang ditakdirkan\/ditetapkan-Nya), karena (kata) <em>al-qadar<\/em> (bisa) berarti <em>at-taqdir<\/em> (perbuatan Allah menakdirkan) dan (bisa) berarti <em>al-maqduur<\/em> (sesuatu yang ditakdirkan\/ditetapkan-Nya). Sebagaimana (kata <em>al-khalqu<\/em> bisa berarti) menciptakan (perbuatan Allah <em>Ta\u2019ala<\/em>) dan (bisa berarti) makhluk (yang diciptakan-Nya)\u2026<\/p>\n<p>Oleh karena itu, (jika) ditinjau dari perbuatan Allah menakdirkan maka tidak ada (padanya) keburukan (sedikitpun) bahkan semua adalah kebaikan, meskipun tidak sesuai dengan (keinginan) manusia dan meskipun menyakitkan baginya. Adapun kalau ditinjau dari <em>al-maqduur<\/em> (sesuatu yang ditakdirkan\/ditetapkan-Nya) maka kita katakan: ada yang baik dan ada yang buruk. Sehingga arti (kalimat) \u201ctakdir yang baik dan yang buruk\u201d adalah <em>al-maqduur<\/em> (sesuatu yang ditakdirkan\/ditetapkan-Nya) ada yang baik dan ada yang buruk.<\/p>\n<p>Kita bisa menjadikan contoh dalam masalah ini dengan firman Allah <em>Ta\u2019ala<\/em>:<\/p>\n<p><strong>{\u0638\u064e\u0647\u064e\u0631\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0633\u064e\u0627\u062f\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0631\u0651\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u062d\u0652\u0631\u0650 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0633\u064e\u0628\u064e\u062a\u0652 \u0623\u064e\u064a\u0652\u062f\u0650\u064a \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0644\u0650\u064a\u064f\u0630\u0650\u064a\u0642\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a \u0639\u064e\u0645\u0650\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0644\u064e\u0639\u064e\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0631\u0652\u062c\u0650\u0639\u064f\u0648\u0646\u064e}<\/strong><\/p>\n<p><em>\u201cTelah nampak kerusakan (bencana) di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (dosa) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)\u201d<\/em> (QS ar-Ruum:41).<\/p>\n<p>Dalam ayat ini Allah <em>Ta\u2019ala<\/em> menjelaskan kerusakan (bencana) yang terjadi (di muka bumi), beserta sebab dan tujuan (hikmah)nya. Kerusakan (bencana) adalah keburukan, sebabnya perbuatan buruk (dosa) manusia, dan tujuan (ditimpakan-Nya) bencana tersebut adalah \u201csupaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)\u201d.<\/p>\n<p>Maka terjadinya keburukan (bencana) di daratan dan di lautan adalah dengan hikmah (yang agung), meskipun bencana itu sendiri adalah keburukan, akan tetapi karena padanya ada hikmah yang agung (yaitu agar manusia kembali ke jalan yang benar), maka dengan ini (berarti) perbuatan Allah menakdirkan bencana tersebut adalah kebaikan.<\/p>\n<p>Demikian pula perbuatan maksiat dan kekafiran adalah keburukan, dan semuanya (terjadi) dengan ketetapan takdir-Nya, akan tetapi (Dia menakdirkannya) dengan hikmah yang agung, kalau bukan karena (hikmah tersebut) maka akan sia-sialah hukum-hukum syariat (yang Allah <em>Ta\u2019ala<\/em> turunkan) dan (jadilah) penciptaan manusia tanpa tujuan dan makna\u201d.[5]<\/p>\n<p>[1] HSR Muslim (no. 8).<\/p>\n<p>[2] HR Abu Dawud (no. 1425), an-Nasa\u2019i (no. 1745), Ibnu Majah (no. 1178), dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah <em>rahimahullah<\/em> (no. 1095), Ibnu Hibban (no. 722) dan Syaikh al-Albani <em>rahimahullah<\/em>.<\/p>\n<p>[3] HSR Muslim (no. 771).<\/p>\n<p>[4] Lihat juga keterangan Imam an-Nawawi <em>rahimahullah<\/em> dalam \u201cSyarhu shahiihi Muslim\u201d (6\/59).<\/p>\n<p>[5] Kitab \u201cSyarhul aqiidatil waasithiyyah\u201d (2\/191-192).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam beberapa hadits yang shahih disebutkan bahwa ada takdir Allah Ta\u2019ala yang bersifat \u201cburuk\u201d, misalnya dalam hadits Jibril yang terkenal Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25188","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25188","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25188"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25188\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25188"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25188"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25188"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}