{"id":25176,"date":"2022-11-04T16:00:33","date_gmt":"2022-11-04T09:00:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25176"},"modified":"2022-11-04T16:00:33","modified_gmt":"2022-11-04T09:00:33","slug":"definisi-qadha-dan-qadar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/definisi-qadha-dan-qadar\/","title":{"rendered":"Definisi Qadha dan Qadar"},"content":{"rendered":"<p>Secara bahasa <em>al-qadar<\/em> berarti akhir dan batas dari sesuatu[1], maka arti kalimat: \u201cmenakdirkan sesuatu\u201d adalah mengetahui kadar dan batasannya.[2]<\/p>\n<p>Adapun pengertian <em>al-qadar<\/em> dalam syariat adalah keterkaitan ilmu dan kehendak Allah yang terdahulu terhadap semua makhluk (di alam semesta) sebelum Dia menciptakannya. Maka tidak ada sesuatupun yang terjadi (di alam ini) melainkan Allah telah mengetahui, menghendaki dan menetapkannya[3], sesuai dengan kandungan hikmah-Nya yang maha sempurna.[4]<\/p>\n<p>Imam an-Nawawi <em>rahimahullah<\/em> berkata: \u201cKetahuilah bahwa mazhab\/keyakinan para pengikut kebenaran adalah menetapkan (mengimani) takdir Allah, yang berarti bahwa Allah <em>Ta\u2019ala<\/em> telah menetapkan takdir (dari) segala sesuatu secara <em>azali<\/em> (terdahulu), dan Dia <em>\u2018Azza wa jalla<\/em> maha mengetahui bahwa semua itu akan terjadi pada waktu-waktu (tertentu), dan di tempat-tempat (tertentu) yang diketahui-Nya, yang semua itu terjadi sesuai dengan ketetapan takdir-Nya\u201d.[5]<\/p>\n<p>Sedangkan pengertian <em>al-qadha\u2019<\/em> secara bahasa adalah hukum, adapun dalam syariat pengertiannya kurang lebih sama dengan <em>al-qadar<\/em>, keculai jika keduanya disebutkan dalam satu kalimat maka mempunyai arti sendiri- sendiri.[6]<\/p>\n<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-\u2018Utsaimin <em>rahimahullah<\/em> ketika menjelaskan perbedaan antara keduanya, beliau berkata: \u201c<em>al-Qadar<\/em> adalah apa yang Allah <em>Ta\u2019ala<\/em> takdirkan secara <em>azali<\/em> (terdahulu) tentang apa yang akan terjadi pada (semua) makhluk-Nya. Sedangkan <em>al-qadha\u2019<\/em> adalah ketetapan Allah <em>Ta\u2019ala<\/em> pada (semua) makhluk-Nya, dengan menciptakan, meniadakan (mematikan) dan merubah (keadaan mereka). Maka ini berarti takdir Allah mendahului (<em>al-qadha<\/em>)\u201d[7]<\/p>\n<p>[1] Lihat kitab \u201cMu\u2019jamu maqaayiisil lughah\u201d (5\/51).<\/p>\n<p>[2] Lihat kitab \u201cal-Irsyaad ila shahiihil I\u2019tiqaad\u201d (hal. 226).<\/p>\n<p>[3] Keterangan Syaikh Shaleh al-Fauzan <em>hafidhahullah<\/em> dalam kitab \u201cal-Irsyaad ila shahiihil I\u2019tiqaad\u201d (hal. 226).<\/p>\n<p>[4] Lihat kitab \u201cSyarhu ushuulil iman\u201d (hal. 50) tulisan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-\u2018Utsaimin <em>rahimahullah<\/em>.<\/p>\n<p>[5] Kitab \u201cSyarhu shahihi Muslim\u201d (1\/154).<\/p>\n<p>[6] Lihat keterangan Syaikh al-\u2018Utsaimin <em>rahimahullah<\/em> dalam kitab \u201cSyarhul aqiidatil waasithiyyah\u201d (2\/187-188).<\/p>\n<p>[7] Kitab \u201cSyarhul aqiidatil waasithiyyah\u201d (2\/188).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Secara bahasa al-qadar berarti akhir dan batas dari sesuatu[1], maka arti kalimat: \u201cmenakdirkan sesuatu\u201d adalah mengetahui kadar dan batasannya.[2] Adapun pengertian al-qadar dalam syariat adalah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25176","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25176","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25176"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25176\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25176"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25176"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25176"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}