{"id":25173,"date":"2022-11-04T15:53:42","date_gmt":"2022-11-04T08:53:42","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25173"},"modified":"2022-11-04T15:53:42","modified_gmt":"2022-11-04T08:53:42","slug":"macam-macam-kenikmatan-surga-dalam-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-kenikmatan-surga-dalam-islam\/","title":{"rendered":"Macam-macam Kenikmatan Surga dalam Islam"},"content":{"rendered":"<p>Termasuk perkara yang paling agung dan paling mulia yang paling tinggi kedudukannya di mata Ahlussunnah, sebaliknya paling keras bagi Ahlu Bid\u2019ah dan aliran sesat adalah\u00a0melihat wajah Allah di Surga.\u00a0Hal ini merupakan kenikmatan terbesar yang Allah sediakan bagi penghuni Surga.<\/p>\n<p>Allah berfirman dalam surat Yunus: 26 yang artinya:\u00a0<em>\u201cBagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan\u00a0<u>tambahannya (melihat wajah Allah<\/u>). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka Itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.\u201d<\/em>\u00a0Dan dalam surat al-Qiyamah: 22-23<em>\u00a0yang artinya: \u201cWajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat\u201d.\u00a0<\/em>Demikian pula ketetapan melihat wajah Allah ditetapkan oleh hadits Nabi yang shahih, pada riwayat muslim no. 181 dari sahabat Suhaib.<\/p>\n<p><strong>Memandang wajah Allah yang mulia,<\/strong>sebagaimana diriwayatkan dari Shuhaib, bahwa Nabi\u00a0<em>shollallohu \u2018alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda, \u201cJika surga telah dimasuki oleh para penghuninya, ada yang menyeru :\u00a0<em>\u2018Wahai penduduk surga, sesungguhnya Alloh mempunyai suatu janji untuk kalian yang janji tersebut berada di sisi Allah, di mana Dia ingin menuaikannya<\/em>.\u2019 Mereka berkata :\u00a0<em>\u2018Apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan-timbangan kami, memasukkan kami ke surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?<\/em>\u2018 Beliau melanjutkan :\u00a0<em>\u2018Maka Allah menyingkapkan hijabnya (tabirnya), sehingga\u00a0<u>mereka melihat-Nya (wajah Allah)<\/u>. Demi Allah, Allah belum pernah memberikan sesuatu pun yang lebih mereka cintai dan menyejukkan pandangan mereka daripada melihat-Nya<\/em>.\u201d (HR. Muslim).<\/p>\n<p><strong>Merasakan nikmatnya sungai susu, arak, dan madu<\/strong>, sebagaimana Allah\u00a0<em>Ta\u2019ala<\/em>berfirman yang artinya,\u201d (<em>Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.<\/em>\u201d (Muhammad : 15).Allah berfirman dalam surat Muhammad: 15 yang artinya:<em>\u201cPerumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka<\/em>\u201d. Imam Ibnul Qayyim berkata: \u201c<em>sungai-sungai tersebut mengalir di bawah-bawah kamar, istana-istana, dan kebun-kebun mereka.<a name=\"_ftnref6\"><\/a>\u201d<\/em><\/p>\n<p>Rasulullah bersabda yang artinya: \u201c<em>Al-Kautsar adalah sungai di surga, kedua tepinya terbuat dari emas, alirannya di atas mutiara dan permata yaqut, tanahnya lebih harum dari minyak kesturi, airnya lebih manis daipada madu, dan lebih putih daripada salj<\/em><a name=\"_ftnref7\"><\/a><em>u.<\/em>\u201d (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari sahabat Abdullah ibn Umar, dan disahihkan oleh al-Albani di\u00a0<em>Shohih Sunan<\/em>\u00a0<em>at-Tirmidzi<\/em>\u00a0no. 3361)<\/p>\n<p><strong>Mendapatkan isteri yang masih belia dan berumur sebaya<\/strong>, sebagaimana firman Allah yang artinya, \u201d<em>Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya.<\/em>\u201d (An Naba\u2019 : 31-33).<\/p>\n<p><strong>\u00a0Hidup kekal dengan nikmat lahir dan batin<\/strong>, sebagaimana Rasulullah\u00a0<em>shollallohu \u2018alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda yang artinya, \u201c<em>Siapa yang masuk surga selalu merasa nikmat, tidak pernah susah, pakaiannya tidak pernah cacat, dan kepemudaannya tidak pernah sirna.<\/em>\u201d (HR. Muslim).<\/p>\n<p><strong>Diberi umur muda<\/strong>, sebagaimana Nabi<em>\u00a0shollallohu \u2018alaihi wa sallam<\/em>\u00a0bersabda yang artinya, \u201c<em>Ahli surga, berbadan indah tanpa bulu, matanya indah bercelak, umurnya 30 atau 33 tahun.<\/em>\u201d (<em>Shohihul Jaami\u2019<\/em>).<\/p>\n<p><strong>Para Penghuni surga akan dihiasi dengan gelang emas dan mereka memaki pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal,<\/strong> mereka duduk sambil bersandar diatas dipan-dipan yang indah (Al Kahfi: 30-31). Kasur suga adalah kasur tebal lagi empuk. Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra (Ar-Rahman:54, 76 dan Al-Ghasyiyah: 13-16)<\/p>\n<p><strong>Kemah, ranjang dan sofa surga <\/strong>: Rasululullah S.A.W bersabda \u201d Seusungguhnya bagi setiap mukmin di surga disiapkan kemah dari suatu mutiara lu\u2019lu yang berongga. Tingginya 60 mil. Di dalamnya terdapat keluarganya dan orang beriman berjalan mengelilingi mereka. Sebagian mereka tidak bisa melihat sebagian yang lain (HR Bukhari dan Muslim). Allah Ta\u2019ala berfirman: Mereka bertelekan di atas diapan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari cantik bermata jeli (Ath-Thur: 20).<\/p>\n<p><strong>Pelayan di surga . <\/strong>Yang senantiasa sibuk melayani penghuni surga adalah wildanun mukholladun . Mereka adalah anak orang-orang muslim yang meninggal sewaktu kecil,. Allah Ta\u2019ala berfirman: Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir (Al-Waqi\u2019ah: 17-18)<\/p>\n<p><strong>Kendaraan mereka adalah unta dan kuda yang bersayap yang terbuat dari mutiara yaquth<\/strong>. Hubungan Intim di Surga Dalam menafsirkan firman Allah yang berbunyi \u201cSesungguhnya penduduk surga itu bersenang-senang dalam kesibukan\u201d (Yaasin: 55). Ibnu Mas\u2019ud, Ibnu Abbas, Al Auza\u2019i dan Muqotil berkata, \u201cKesibukan mereka adalah memecah keperawanan istri-istrinya\u201d Rasulullah. S.A.W bersabda tentang hubungan jimak para penghuni surga \u201cDi surga seorang mukmin diberi kekuatan sekian banyak menggauli wanita\u201d (HR. Tirmidzi, shahih). Abu Umamah berkata, Rasulullah S.A.W pernah ditanya \u201cApakah penduduk surga melakukan hubungan suami istri ?\u201d. Beliau S.A.W menjawab \u201cpenis yang tidak pernah lemas, syahwat yang tidak pernah padam, dan jimak demi jimak\u201d.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Termasuk perkara yang paling agung dan paling mulia yang paling tinggi kedudukannya di mata Ahlussunnah, sebaliknya paling keras bagi Ahlu Bid\u2019ah dan aliran sesat adalah\u00a0melihat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-25173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25173\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}