{"id":25166,"date":"2022-11-04T15:48:30","date_gmt":"2022-11-04T08:48:30","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25166"},"modified":"2022-11-04T15:48:30","modified_gmt":"2022-11-04T08:48:30","slug":"induk-akhlak-tercela-dan-penyakit-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/induk-akhlak-tercela-dan-penyakit-hati\/","title":{"rendered":"Induk Akhlak Tercela dan Penyakit Hati"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/induk-akhlak-tercela-dan-penyakit-hati\/#A_hubbu_ad-Dunya\" >A.\u00a0hubbu ad-Dunya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/induk-akhlak-tercela-dan-penyakit-hati\/#B_Hasad\" >B. Hasad<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/induk-akhlak-tercela-dan-penyakit-hati\/#C_Takabur-Ujub\" >C. Takabur-Ujub<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/induk-akhlak-tercela-dan-penyakit-hati\/#D_Riya\" >D.\u00a0\u00a0Riya\u2019<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"A_hubbu_ad-Dunya\"><\/span><strong>A.\u00a0hubbu ad-Dunya<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><strong>1. Pengertian Hubbu ad-Duny<\/strong><\/p>\n<p>Hubbu ad-Dunya berarti cinta dunia, yaitu menganggap hartabenda adalah segalanya. Penyakit Hubbu ad-Dunya(cinta pada dunia) berawal dari penyakit iman, yang berakar pada persepsi yang salah bahwa dunia ini adalah tujuan akhir kehidupan, sehingga akhirat dilupakan. sebagaimana di singgung pada hadis berikut.\u201c<em>Akan datang suatu masa umat lain akan memperebutkan kamu ibarat orang-orang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.\u201d Sahabat bertanya, \u201cApakah lantaran pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit Ya Rasulullah?\u201d. Dijawab oleh beliau, \u201cBukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas laut, dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa.\u201d Sahabat bertanya, \u201cApa yang dimaksud kelemahan jiwa, Ya Rasulullah?\u201d Beliau menjawab, \u201cCinta dunia dan takut mati!\u201d.<\/em>\u00a0(HR. Abu Daud).<\/p>\n<p><strong>2. Ciri-ciri Hubbu ad-Dunya<\/strong><\/p>\n<p>1) Menganggap dunia sebagai tujuan utama, bukan sebagai sarana mencapai kebahagiaan akhirat<\/p>\n<p>2)\u00a0\u00a0Suka mengumpulkan harta benda dengan menghalalkan segala cara tanpa memperhatikan halal dan haramnya<\/p>\n<p><em>Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.<\/em>\u00a0(QS. At-Takastur\u00a0\u00a0: 1-2)<\/p>\n<p>3)\u00a0\u00a0Kikir, tidak rela sediki pun hartanya lepas atau berkurang.<\/p>\n<p><strong>3. Bahaya Hubbu ad-Dunya<\/strong><\/p>\n<p>1)\u00a0\u00a0Cinta dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah.<\/p>\n<p>2) Jika seorang telah dikuasai (hatinya) oleh iblis, maka akan menjadi lemah, iblis akan membolak-balikan hatinya bagaikan seorang anak kecil mempermainkan bola.<\/p>\n<p>3) Cinta dunia merupakan sumber segala kesalahan karena cinta dunia, sering mengakibatkan seseorang cinta terhadap harta benda dan di dalam harta benda terdapat banyak penyakit.<\/p>\n<p><strong>4. Cara Menghindari Hubbu ad-Dunya<\/strong><\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0Mengingat kehidupan di dunia itu hanya sementara. (QS. Al-hadid : 20)<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0Perbanyak mengingat kematian. (QS. Ali Imran: 185)<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0Meyakini dan menyadari bahwa setiap tindakan kita direkam oleh anggota badan kita, yang nanti di hari akhir akan bersaksi di depan Allah (QS. Fushshilat: 20 &#8211; 22)<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0Qana\u2019ah, yaitu rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"B_Hasad\"><\/span><strong>B. Hasad<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><strong>a. Pengertian<\/strong><\/p>\n<p>Hasad berarti dengki maksudnya suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan rasa marah, tidak suka karena rasa iri. Orang yang hasut menginginkan kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berharap supaya berpindah kepadanya. Sifat inilah yang menempel pada diri Iblis. Ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk menundukkan diri kepada Adam, ia menolak mentah-mentah. Sifat angkuhnya keluar menjadi pernyataan yang sangat vokal. Allah berfirman: &#8220;<em>Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?&#8221; Menjawab iblis &#8220;Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah<\/em>&#8220;. (Q.S. Al-A\u2019raf: 12)<\/p>\n<p>Orang sombong, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis, bukanlah mereka yang selalu berpakaian bagus dan berpenampilan trendi. Yang dimaksud orang sombong dalah mereka yang menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain. Sifat perusak kedua adalah serakah.<\/p>\n<p>Orang yang serakah. Ia tak pernah puas dengan kekayaannya. Dalam perhitungannya, harta yang dimilikinya selalu belum genap. Dalam pikirannya selalu menari-nari berbagai keinginan untuk menggenapinya. Sifat perusak ketigaadalah hasut, iri dan dengki. Setiap negara mengandung tiga golongan masyarakat, yaitu penguasa, pengusaha, dan rakyat biasa. Jika penguasanya sombong, pengusahanya serakah, dan rakyatnya iri hati, maka negara itu pasti hancur. Inilah yang barangkali terjadi sekarang.<\/p>\n<p><strong>b.\u00a0\u00a0Bahaya Hasad<\/strong><\/p>\n<p>Larangan melakukan hasad disebabkan karena mengandung beberapa efek negatif, di antaranya:<\/p>\n<p>1)\u00a0\u00a0Hasad salah satu sifat Iblis yang akan merusak amal kebaikan. \u201c<em>Jauhilah olehmu sifat dengki, sesungguhnya dengki itu akan memakan kebajikan sebagaimana api memakan kayu bakar<\/em>\u201c (HR. Abu Daud)<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0Di samping itu hasad juga merusak tatanan masyarakat. Hasad merusak pergaulan menjadi tidak harmonis dan tidak tulus.<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0Orang yang memiliki sifat hasad pasti tidak pernah merasa\u00a0\u00a0bahagia, sebab hatinya selalu gelisah jika ada orang lain memperoleh kebahagiaan.<\/p>\n<p><strong>c.\u00a0\u00a0Cara Mengobati Penyakit Hasad<\/strong><\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0Menanamkan kesadaran bahwa sifat dengki akan membuat seseorang menderita batin;<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0Menumbuhkan kesadaran bahwa akibat dari dengki itu adalah permusuhan dan permusuhan akan membawa petaka;<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0Kita saling mengingatkan dan saling menasehati;<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"C_Takabur-Ujub\"><\/span><strong>C. Takabur-Ujub<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><strong>a. Pengertian Takabur-Ujub<\/strong><\/p>\n<p>Secara bahasa (etimologi), \u2018Ujub,berasal dari kata \u201c\u2019ajaba\u201d, yang artinya \u201ckagum, terheran-heran, takjub.\u00a0\u00a0Al-I\u2019jabu bin Nafsi berarti kagum pada diri sendiri. Sedangkan takabur berarti \u201csombong\u201d atau \u201cberusaha menampakkan keagungan diri\u201d. Dalam kitab lisanul Arab, antara lain disebutkan bahwa at-takabur wal istikbarberarti at-ta\u2019azzhum(sombong\/ Kibr).<\/p>\n<p>Secara istilah dapat kita pahami bahwa \u2018ujub yaitu suatu sikap membanggakan diri, dengan memberikan satu penghargaan yang terlalu berlebihan kepada kemampuan diri. Jadi seorang yang memiliki akhlak Kibr melihat dirinya lebih tinggi dari orang lain, karenanya ia merasa bangga berlebihan, gembira dan puas terhadap apa yang diyakininya<\/p>\n<p><strong>b. Penyebab Takabur-Ujub<\/strong><\/p>\n<p>1)\u00a0\u00a0Ujub dan takabur karena kelebihan fisik, misalnya tampan, cantik dan kuat.<\/p>\n<p>2)\u00a0\u00a0Ujub dan takabur karena kekuatan fisiknya dalam melawan musuh.<\/p>\n<p>3) Ujub dan takabur karena ilmu, akal dan kecerdikannya dalam memahami ilmu-ilmu agama dan juga urusan-urusan keduniaannya.<\/p>\n<p><strong>c. Bahaya Takabur-Ujub<\/strong><\/p>\n<p>1). \u2018Ujub menyebabkan timbulnya rasa sombong (takabur).<\/p>\n<p>2). Bila seseorang sudah dihinggapi penyakit \u2018ujub dan takabur, ia lupa pada bahaya-bahaya \u2018ujubdan takabur itu sendiri.<\/p>\n<p>3). Karena \u2018ujubdan takabur membuat seseorang kurang sadar terhadap kedudukan dirinya, ia akan memuji-muji dirinya, menyanjung dirinya sendiri dan menganggap suci dirinya.<\/p>\n<p><strong>d. Cara Menghindari Takabur-Ujub<\/strong><\/p>\n<p>1)\u00a0\u00a0Kita harus memiliki sifat percaya diri, tetapi jika sudah memasuki ketakaburan dan menganggap rendah terhadap yang lain, inilah yang dikatakan ujubyang di larang agama. Hal tersebut harus dihindari dengan cara bahwa kita harus percaya diri tetapi ingat bahwa kita tetap punya sisi lemah. Orang lain juga mempunyai potensi dan kita harus menghargai potensi tersebut. Ada pepatah yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit.<\/p>\n<p>2)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kita harus ingat dan sadar, bahwa dalam sejarah, orang yang ujub, takabur dengan kekuatannya, maka Allah yang akan menghancurkannya, karea Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.<\/p>\n<p>3) Kita juga harus sadar bahwa ilmu yang kita miliki sangatlah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah Swt. Bakhan sesungguhnya ilmu kita lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang sekitar kita.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"D_Riya\"><\/span><strong>D.\u00a0\u00a0Riya\u2019<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p><strong>a. Pengertian<\/strong><\/p>\n<p>Riya\u2019\u00a0\u00a0adalah mengerjakan suatu perbuatan atau ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang lain, bukan karena Allah semata. Orang riya\u2019 tidak ikhlas dalam beramal, ia senantiasa pamer dan cari perhatian supaya mendapat pujian, sanjungan dan pengakuan.Ada beberapa ayat yang membahas tentang riya\u2019 antara lain : QS. Al-Ma\u2019un\u00a0\u00a0: 4-7, QS. Al-Baqarah : 264, dan QS. An-Nisa\u2019 : 142.<\/p>\n<p><strong>b. Bentuk Riya\u2019<\/strong><\/p>\n<p>1. Riya\u2019 dalam niat<\/p>\n<p>Ketika seseorang akan melakukan sebuah amal dalam hatinya telah ada keinginan atau tujuan selain mencari ridha Allah.Ia sejak awal telah mempunyai niat tidak ikhlas. Padahal diterima atau tidaknya amal ibadah yang kita lakukan sangatlah bergantung pada niat. \u201c Sesungguhnya sahnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya\u201d (HR. Muslim)<\/p>\n<p>2. Riya\u2019 dalam perbuatan<\/p>\n<p>Yang dimaksud dengan riya\u2019 dalam perbuatan adalah ketika kita melakukan sebuah amal ibadah ia berharap mendapat perhatian dari orang lain. Ciri-cirinya adalah ia melakukan amal ibadah dengan sungguh-sungguh, penuh semangat tatkala ada orang lain yang melihatnya. Contoh: seorang anak belajar sungguh-sungguh ketika orang tuanya ada di rumah. Namun tatkala orang tuanya tidak ada, ia tidak belajar lagi atau menjadi kendor semangatnya.Salah satu sifat lagi yang erat kaitannya dengan riya\u2019 adalah sum\u2019ah, yaitu suka memperdengarkan atau menceritakan kebaikankebaikannya, keberhasilannya kepada orang lain dengan tujuan ia mendapat pujian dari orang yang mendengarkan atau ia ingin dikatakan hebat.<\/p>\n<p><strong>c. Bahaya Riya\u2019<\/strong><\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0Akan merasa hampa dan kecewa dalam batinnya apabila perhatian atau pujian yang ia harapkan ternyata tidak ia dapatkan;<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0Muncul rasa tidak puas terhadap apa yang ia lakukan;<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0Muncul sikap keberpura-puraan;<\/p>\n<p><strong>d. Cara Menanggulangi Penyakit Riya\u2019<\/strong><\/p>\n<p>Upaya-upaya agar penyakit ruhani tersebut lenyap dari diri kita,di antaranya dengan cara:<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0Memfokuskan niat ibadah, bahwa ibadah kita hanya untuk Allah;<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0Hindari sikap suka memamerkan sesuatu yang kita punya, karena pada hakikatnya yang kita punya itu hanyalah milik Allah;<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0Tidak menimbulkan kecemburuan sosial bagi orang lain;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A.\u00a0hubbu ad-Dunya 1. Pengertian Hubbu ad-Duny Hubbu ad-Dunya berarti cinta dunia, yaitu menganggap hartabenda adalah segalanya. Penyakit Hubbu ad-Dunya(cinta pada dunia) berawal dari penyakit iman,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25166","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25166","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25166"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25166\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}