{"id":25113,"date":"2022-11-03T15:24:46","date_gmt":"2022-11-03T08:24:46","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25113"},"modified":"2022-11-03T15:24:46","modified_gmt":"2022-11-03T08:24:46","slug":"problematika-pendidikan-islam-di-era-globalisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/problematika-pendidikan-islam-di-era-globalisasi\/","title":{"rendered":"Problematika Pendidikan Islam Di Era Globalisasi"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/problematika-pendidikan-islam-di-era-globalisasi\/#Dichotomic\" >Dichotomic<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/problematika-pendidikan-islam-di-era-globalisasi\/#To_General_Knowledge\" >To General Knowledge<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/problematika-pendidikan-islam-di-era-globalisasi\/#Lack_of_Spirit_of_Inquiry\" >Lack of Spirit of Inquiry.<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/problematika-pendidikan-islam-di-era-globalisasi\/#Certificate_Oriented\" >Certificate Oriented<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagai\u00a0<em>the agent of social change<\/em>, pendidikan\u00a0Islam dituntut untuk mampu memainkan peran secara dinamis dan proaktif diantara belitan berbagai persoalan besar, dihadapkan juga dengan tantangan prospek ke depan. Beberapa problem utama yang mewarnai atmosfer dunia pendidikan islam pada umumnya setidaknya dapat diklasifikasikan dalam lima hal. Jika dianalisis, maka dapat disimpulkan bahwa problem-problem tersebut merupakan rangkaian yang saling terkait. Persoalan tersebut adalah sebagai berikut:<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dichotomic\"><\/span><em>Dichotomic<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan islam adalah\u00a0<em>dichotomy\u00a0<\/em>dalam beberapa aspek yaitu antara\u00a0ilmu Agama dengan\u00a0ilmu Umum, antara\u00a0wahyu dengan\u00a0akal setara antara\u00a0wahyu dengan\u00a0alam.\u00a0Munculnya problem dikotomi dengan segala perdebatannya telah berlangsung sejak lama. Boleh dibilang gejala ini mulai tampak pada masa-masa pertengahan. Menurut Rahman, dalam melukiskan watak ilmu pengetahuan islam zaman pertengahan menyatakan bahwa, muncul persaingan yang tak berhenti antara\u00a0<em>hukum<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>teologi\u00a0<\/em>untuk mendapat julukan sebagai mahkota semua ilmu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"To_General_Knowledge\"><\/span><em>To General Knowledge<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kelemahan dunia pendidikan Islam berikutnya adalah sifat ilmu pengetahuannya yang masih terlalu general\/umum dan kurang memperhatikan kepada upaya penyelesaian masalah (<em>problem solving)<\/em>. Produk-produk yang dihasilkan cenderung kurang membumi dan kurang selaras dengan dinamika masyarakat. Menurut Syed Hussein Alatas kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan, mendefinisikan, menganalisis dan selanjutnya mencari jalan keluar\/pemecahan masalah tersebut merupakan karakter dan sesuatu yang mendasar kualitas sebuah intelektual. Ia menambahkan, ciri terpenting yang membedakan dengan non-intelektual adalah tidak adanya kemampuan untuk berfikir dan tidak mampu untuk melihat konsekuensinya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Lack_of_Spirit_of_Inquiry\"><\/span><em>Lack of Spirit of Inquiry<\/em>.<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Persoalan besar lainnya yang menjadi penghambat kemajuan dunia pendidikan islam ialah rendahnya semangat untuk melakukan penelitian\/penyelidikan. Syed Hussein Alatas merujuk kepada pernyataan\u00a0<em>The Spiritus Rector\u00a0<\/em>dari Modernisme Islam, Al Afghani, yang menganggap rendahnya\u00a0<em>The Intelectual Spirit\u00a0<\/em>(semangat intelektual) menjadi salah satu faktor terpenting yang menyebabkan kemunduran Islam di Timur Tengah.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Memorisasi<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Fazlurahman menggambarkan bahwa, kemerosotan secara gradual dari standar-standar akademis yang berlangsung selama berabad-abad tentu terletak pada kenyataan bahwa, karena jumlah buku-buku yang tertera dalam kurikulum sedikit sekali, maka waktu yang diperlukan untuk belajar juga terlalu singkat bagi pelajar untuk dapat menguasai materi-materi yang seringkali sulit untuk dimengerti, tentang aspek-aspek tinggi ilmu keagamaan pada usia yang relatif muda dan belum matang.\u00a0Hal ini pada gilirannya menjadikan belajar lebih banyak bersifat\u00a0studi tekstual<em>\u00a0<\/em>daripada\u00a0pemahaman<em>\u00a0<\/em>pelajaran yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan dorongan untuk belajar dengan sistem hafalan (<em>memorizing<\/em>) daripada pemahaman yang sebenarnya. Kenyataan menunjukkan bahwa abad-abad pertengahan yang akhir hanya menghasilkan sejumlah besar karya-karya komentar dan bukan karya-karya yang pada dasarnya orisinal.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Certificate_Oriented\"><\/span><em>Certificate Oriented<\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pola yang dikembangkan pada masa awal-awal Islam, yaitu\u00a0<em>thalab al<\/em><em>&#8211;<\/em><em>\u2019<\/em><em>i<\/em><em>lm,\u00a0<\/em>telah memberikan semangat di kalangan muslim untuk gigih mencari ilmu, melakukan perjalanan jauh, penuh resiko, guna mendapatkan kebenaran suatu\u00a0<em>hadits,\u00a0<\/em>mencari guru diberbagai tempat, dan sebagainya.\u00a0Hal tersebut memberikan isyarat bahwa karakteristik para ulama muslim masa-masa awal didalam mencari ilmu adalah\u00a0<em>knowledge oriented.\u00a0<\/em>Sehingga tidak mengherankan jika pada masa-masa itu, banyak lahir tokoh-tokoh besar yang memberikan banyak konstribusi berharga, ulama-ulama\u00a0<em>encyclopedic,\u00a0<\/em>karya-karya besar sepanjang masa. Sementara, jika dibandingkan dengan pola yang ada pada masa sekarang dalam mencari ilmu menunjukkan kecenderungan adanya pergeseran dari\u00a0<em>knowledge oriented\u00a0<\/em>menuju\u00a0<em>certificate oriented\u00a0<\/em>semata. Mencari ilmu hanya merupakan sebuah proses untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah saja, sedangkan semangat dan kualitas keilmuan menempati prioritas berikutnya.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>Al- Qardhawi,\u00a0Yusuf,\u00a0<em>Pendidikan Islam dan\u00a0<\/em><em>M<\/em><em>adrasah Hasan Al-Banna<\/em>, terj. Bustami A. Gani dan Zainal Ahmad, Jakarta: Bulan Bintang, 1980.<\/p>\n<p><em>Al-Alim Al-Quran Dan Terjemahnnya Edisi Ilmu Pengetahuan<\/em>, Bandung: Al Mizan Publishing House, 2011.<\/p>\n<p>Anshari,\u00a0Endang Saifudin,\u00a0<em>P<\/em><em>okok-<\/em><em>P<\/em><em>okok\u00a0<\/em><em>P<\/em><em>ikiran tentang Islam<\/em>,\u00a0Jakarta: Usaha Enterprise, 1976.<\/p>\n<p>Arifin, M,\u00a0<em>Ilmu Pendidikan Islam<\/em>, Bandung: Bumi Aksara, 1989.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai\u00a0the agent of social change, pendidikan\u00a0Islam dituntut untuk mampu memainkan peran secara dinamis dan proaktif diantara belitan berbagai persoalan besar, dihadapkan juga dengan tantangan prospek&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-25113","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25113","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25113"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25113\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25113"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25113"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25113"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}