{"id":25110,"date":"2022-11-03T15:15:06","date_gmt":"2022-11-03T08:15:06","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25110"},"modified":"2022-11-03T15:15:06","modified_gmt":"2022-11-03T08:15:06","slug":"globalisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/globalisasi\/","title":{"rendered":"Globalisasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut bahasa, global ialah seluruhnya, menyeluruh.\u00a0Sedangkan globalisasi ialah pengglobalan secara keseluruhan aspek kehidupan, perwujudan (peningkatan\/perubahan) secara menyeluruh disegala aspek kehidupan. Kemudian membaca pengertian secara luas globalisasi adalah proses pertumbuhan\u00a0negara-negara maju\u00a0 seperti halnya Amerika, Eropa dan Jepang, yang telah\u00a0 melakukan ekspansi besar-besaran. Kemudian berusaha mendominasi dan merubah \u00a0dunia dengan kekuatan teknologi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, militer, ekonomi, dan pendidikan itu sendiri, di Indonesia pada khususnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut\u00a0David\u00a0Held dan Anthony Mc Grew, tidak ada definisi globalisasi yang tepat yang di sepakati bersama. Globalisasi dapat di pahami dalam pemahaman yang beragam sebagai kedekatan jarak, ruangan waktu yang menyempit, pengaruh yang cepat, dan dunia yang menyempit, perbedaanya hanya terletak pada penekanan dari sudut pandang \u00a0material, ruangan dan waktu, serta aspek-aspek kognitif dari\u00a0globalisasi, dari sudut peristilahan kata globalisasi sebenarnya masih mengalami problem karena \u00a0realitas serta subyektifitas pemakaian kata tersebut, namun globalisasi secara sederhana dapat di tunjukkan dalam bentuk perluasan skala, pengembangan wilayah, dan percepatan pengaruh dari arus dan pola-pola inter-regional dalam interaksi sosial.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu menurut sebagian orang, globalisasi adalah menghilangkan dinding dan jarak antara satu bangsa lain, dan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga semuanya menjadi dekat dengan kebudayaan dunia, pasar dunia dan keluarga dunia. Sebagian lain mengatakan globalisasi ialah mengubah dunia menjadi perkampungan dunia, hal ini sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Era globalisasi dewasa ini dan di masa mendatang sedang akan akan mempengaruhi perkembangan sosial budaya masyarakat muslim Indonesia umumnya, atau pendidikan Islam, termasuk pesantren khususnya. Argumen panjang lebar tak perlu dikemukakan lagi, bahwa masyarakat muslim tidak bisa menghindari diri dari proses globalisasi tersebut, apalagi jika ingin\u00a0<em>survive<\/em>\u00a0dan berjaya di tengah perkembangan dunia yang kian kompetetif di masa kini abad 21.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Globalisasi sebenarnya bukanlah fenomena baru sama sekali bagi masyarakat muslim Indonesia. Perbentukan dan perkembangan masyarakat muslim Indonesia bahkan berbarengan dengan datangnya berbagai gelombang global secara konstan dari waktu ke waktu. Sumber globalisasi adalah\u00a0Timur\u00a0Tengah, khususnya mula-mula\u00a0Makkah,\u00a0Madinah dan juga akhir abad 19 dan awal abad 20 juga\u00a0Kairo. Karena itu, globalisasi ini bersifat religio-intelektual, meski dalam kurun waktu tertentu juga diwarnai oleh semangat religio-politik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, globalisasi yang berlangsung dan melanda masyarakat muslim Indonesia sekarang ini menampilkan sumber atau watak yang berbeda. Proses globalisasi dewasa ini, tidak lagi bersumber dari\u00a0Timur\u00a0Tengah melainkan dari barat, yang terus memegang supremasi dan hegemoni dalam berbagai wilayah kehidupan masyarakat dunia pada umumnya. Globalisasi yang bersumber dari barat tampil dengan watak ekonomi-politik dan sains-teknologi. Dominasi dan hegemoni politik barat dalam segi-segi tertentu mungkin saja telah \u201cmerosot\u201d khususnya sejak berakhirnya perang dunia kedua. Tetapi hegemoni ekonomi dan sains-teknologi barat tetap belum tergoyahkan. Meski muncul beberapa beberapa kekuatan ekonomi baru seperti Jepang, dan\u00a0Korea\u00a0Selatan, tetapi \u201ckultur\u201d hegemoni ekonomi dan sains-teknologi tetap sarat dengan nilai barat. Dengan demikian hegemoni tadi\u00a0 menemukan momentum baru yang pada gilirannya mempercepat proses globalisasi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hegemoni ekonomi dan sains-teknologi jelas bukan pesoalan sederhana. Hegemoni dalam bidang-bidang ini bukan hanya menghasilkan globalisasi ekonomi, dan sains-teknologi, tetapi juga dalam bidang-bidang lain; intelektual, sosial, nilai-nilai, gaya hidup, dst. Globalisasi\u00a0CocaCola dan Mc\u00a0Donald bukan sekedar ekspansi ekonomi, tetapi juga gaya hidup dengan segala implikasinya. Globalisasi Mc\u00a0Donald misalnya menimbulkan perubahan dari pola jenis makanan yang dikonsumsi masyarakat. Perubahan ini pada gilirannya menimbulkan implikasi-implikasi tertentu bagi kesehatan masyarakat,\u00a0penyakit-penyakit semacam kolesterol,\u00a0<em>obesse<\/em>\u00a0(kegemukan).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut adalah salah satu contoh dampak dari arus globalisasi dari Barat yang notabenenya masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan<em>\u00a0junk food.\u00a0<\/em>Hal yang sama juga bisa dilihat pada hegemoni Barat pada sains dan teknologi. Hegemoni barat dalam bidang telekomunikasi, misalnya telah memunculkan globalisasi \u201ckota segi empat\u201d yang bernama televisi. Benda ini sebagai produk sains-teknologi yang \u201cbebas nilai\u201d tetapi muatan yang dibawanya tidak diragukan lagi sarat dengan nilai tertentu. Seperti ucapan ahli telekomunikasi Marshall McLuhan: \u201c<em>Medium is the message<\/em>\u201d lalu yang terjadi adalah \u201ctelenovelisasi\u201d masyarakat muslim, dan masih banyak lagi acara televisi dari Barat. Melalui program-program tersebut terjadi ekspansi dan penetrasi\u00a0 nilai-nilai semacam \u201ckeserbalonggaran\u201d (<em>permissivenes<\/em>) hubungan antara laki-laki dan perempuan, kehidupan yang serba materialistik, hedonistik, atau kultur-kekerasan yang semua tidak cocok dengan nilai-nilai budaya dan agama masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Perkembangan masyarakat pada umumnya dan Indonesia pada khususnya mau tidak mau akan menuju pada masyarakat informasi\u00a0<em>(informatical society)<\/em>, sebagai bentuk dari globalisasi dan kelanjutan atau perkembangan dari masyarakat industri atau modern. Jika masyarakat memiliki ciri-ciri rasional, berorientasi ke depan, bersikap terbuka, menghargai waktu, kreatif, mandir dan inovatif, maka pada masyarakat informasi ciri-ciri tersebut telah cukup. Pada masyarakat informasi, manusia selain memiliki ciri-ciri masyarakat pada umumnya, juga harus memiliki ciri-ciri lain, yaitu mampu menguasai dan mampu mendayagunakan arus informasi, mampu bersaing, terus menerus belajar (serba ingin tahu), mampu menjelaskan, imajinatif, mampu mengubah tantangan menjadi peluang, dan menguasai kemampuan berbagai metode dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemajuan dalam bidang informasi tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Pada era reformasi yang sanggup bertahan hanya mereka yang berorientasi ke depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan dan ciri-ciri lain sebagaimana dimiliki masyarakat modern. Dari keadaan ini semua masyarakat suatu bangsa dengan bangsa yang lain menjadi satu dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Itulah gambaran masa depan yang akan terjadi, dan umat manusia mau tidak mau harus menghadapinya. Masa depan yang demikian itu selanjutnya akan mempengaruhi dunia pendidikan baik dari segi kelembagaan, prasarana, dll. Hal ini pada gilirannya menjadi tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan ilmu sosial profetik yang dibangun dari ajaran Islam, kita tidak perlu takut atau khawatir terhadap dominasi sains barat dan arus globalisasi yang terjadi saat ini. Islam selalu membuka diri terhadap seluruh warisan peradaban. Islam adalah sebuah paradigma terbuka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sejak beberapa abad yang lalu Islam mewarisi tradisi sejarah dari seluruh warisan peradaban manusia, kami tidak membangun dari ruang hampa. Hal itu dapat dipahami dari kandungan surat al-Maidah ayat 3 yang artinya:\u00a0<em>\u201cPada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah kucukupkan untukmu nikmatKu, dan telah ku ridhai Islam sebagai agama bagimu\u201d<\/em>kata telah kusempurnakan agamaKu mengandung arti bukan membuat baru atau membangun dari ruang hampa melainkan dari bahan-bahan yang sudah ada. Hal itu dapat dilihat dari kenyataan sejarah. Semua agama dan peradaban mengalami proses, meminjam dan memberi dalam interaksi mereka satu sama lain sepanjang sejarah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi Islam bukanlah agama yang tertutup. Islam adalah sebuah paradigma yang terbuka, sebagai mata rantai peradaban dunia. Islam mewarisi peradaban Yunani dan Romawi di Barat, dan peradaban Persia, India dan Cina di Timur. Ketika abad 8\u00a0sampai\u00a015 peradaban Barat dan Timur tenggelam dan menjalani kemerosotan, Islam bertindak sebagai pewaris utamanya untuk kemudian diambil alih oleh Barat sekarang melalui\u00a0<em>renaisance<\/em>. Islam menjadi mata rantai yang penting dalam sejarah peradaban dunia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Islam mengembangkan matematika India,\u00a0ilmu kedoktean dari China, sistem pertahanan Sasanid<strong>,\u00a0<\/strong>logika\u00a0Yunani, dll. Namun dalam proses penerimaanya itu terdapat dialektika internal. Misalnya untuk bidang-bidang pengkajian tertentu Islam menolak bagian logika Yunani yang rasional, diganti dengan cara berpikir intuitif yang menekankan rasa seperti yang dikenal dalam tasawuf.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bukti sejarah tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa sejak kelahirannya limabelas abad yang lalu Islam telah tampil sebagai agama yang terbuka, akomodatif serta berdampingan dengan agama, kebudayaan dan peradaban lainnya. Akan tetapi dalam waktu bersamaan Islam juga tampil memberikan kritik, perbaikan bahkan penolakan dengan cara-cara yang sangat simpatik dan tidak menimbulkan gejolak sosial. Dengan sifat dan karakteristik ajaran Islam itu melalui ilmu sosial yang berwawasan profetik sebagaimana yang disebutkan di atas, Islam siap untuk memasuki era globalisasi.[20]\u00a0Era globalisasi yang ditandai dengan adanya perubahan di bidang ekonomi, teknologi, sosial, informasi, dsb akan dapat diambil manfaat sebaik-baiknya dan dapat dibuang hal-hal yang membahayakan.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Azizy, Qodri Azizy,\u00a0<em>Melawan Globalisasi: Interpresi Agama Islam<\/em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Azra,\u00a0Azyumardi,\u00a0<em>P<\/em><em>endidikan\u00a0<\/em><em>I<\/em><em>slam<\/em><em>:<\/em><em>\u00a0<\/em><em>T<\/em><em>radisi dan\u00a0<\/em><em>M<\/em><em>odernisasi\u00a0<\/em><em>M<\/em><em>enuju\u00a0<\/em><em>M<\/em><em>ilenium\u00a0<\/em><em>B<\/em><em>aru<\/em>,\u00a0Jakarta:\u00a0Logos\u00a0Wacana\u00a0Ilmu, 1999.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Daulay,\u00a0Haidar Putra dan Nurgaya Pasa,\u00a0<em>Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah<\/em>, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut bahasa, global ialah seluruhnya, menyeluruh.\u00a0Sedangkan globalisasi ialah pengglobalan secara keseluruhan aspek kehidupan, perwujudan (peningkatan\/perubahan) secara menyeluruh disegala aspek kehidupan. Kemudian membaca pengertian secara luas&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-25110","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25110","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25110"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25110\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}