{"id":25049,"date":"2022-11-03T13:34:09","date_gmt":"2022-11-03T06:34:09","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=25049"},"modified":"2022-11-03T13:34:09","modified_gmt":"2022-11-03T06:34:09","slug":"cara-islam-memfilter-perkembangan-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-islam-memfilter-perkembangan-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi\/","title":{"rendered":"Cara Islam Memfilter Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-islam-memfilter-perkembangan-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi\/#Aqidah_Islam_Sebagai_Dasar_Iptek\" >Aqidah Islam Sebagai Dasar Iptek<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-islam-memfilter-perkembangan-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi\/#Syariah_Islam_Standar_Pemanfaatan_Iptek\" >Syariah Islam Standar Pemanfaatan Iptek<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat dan membentuk cabang\u00a0 ilmu masing-masing secara spesifik yang dikenal dengan disiplin ilmu. Ilmu pengetahuan yang berisi tentang teori-teori yang telah dikembangkan dalam bentuk aplikasi praktis itu disebut dengan teknologi,\u00a0teknologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berkembang secara mandiri, menciptakan dunia tersendiri. Akan tetapi teknologi tidak mungkin berkembang tanpa didasari ilmu pengetahuan yang kokoh. Maka ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan.\u00a0keduanya berkembang pesat\u00a0 dalam kehidupan manusia modern saat ini yang memberikan manfaat dalam membantu manusia mencapai kesejahteraan hidup.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini, tidak bisa dipungkiri, banyak menghantarkan manusia kepada kemudahan efektivitas, dan efesiensi hidup. Dengan IPTEK manusia telah mampu meraih apa yang dulu dianggap sesuatu yang mustahil. Namun disisi lain, kemajuan IPTEK membawa akses negatif dan destruktif yang merugikan dan mengancam keberlangsungan umat manusia dan alam lingkungan. Proses dehumanisasi dan terancamnya keseimbangan ekologis dan kelestariannya alam, merupakan imbas negatif dari kemajuan IPTEK. Oleh karena itu, ilmuwan tidak cukup hanya dengan ilmunya saja, tetapi harus dibekali dengan iman dan takwa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan begitu, hasil-hasil kemajuan IPTEK akan dijadikan sebagai sarana bagi manusia untuk mengeksiskan dirinya sebagai khalifah di bumi, di samping sebagai \u201cabdun\u201d, hamba Allah. Ilmuwan yang beriman dan bertaqwa akan memanfaatkan kemajuan IPTEK. Menjaga, memelihara, melestarikan, keberlangsungan hidup manusia dan keseimbangan ekologi dan bukan untuk\u00a0<em>fasad fil ardh (Kerusakan di bumi).\u00a0<\/em>Firman Allah SWT:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u0638\u064e\u0647\u064e\u0631\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0633\u064e\u0627\u062f\u064f \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0631\u0651\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u062d\u0652\u0631\u0650 \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0633\u064e\u0628\u064e\u062a\u0652 \u0623\u064e\u064a\u0652\u062f\u0650\u064a \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0644\u0650\u064a\u064f\u0630\u0650\u064a\u0642\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a \u0639\u064e\u0645\u0650\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0644\u064e\u0639\u064e\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0631\u0652\u062c\u0650\u0639\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:\u00a0<em>\u201cTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)\u201d\u00a0(QS.Ar.Ruum: 41)<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari ayat diatas, menjelaskan\u00a0 kerusakan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang akan berdampak kembali pada manusia itu sendiri. Fenomena ini telah terasa salah satunya disebabkan oleh penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dasarnya \u201c Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam di arahkan untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan. IPTEK merupakan alat atau media bukan tujuan\u201d.(Toto Suryana:2008:140) \u00a0Oleh karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi jangan sampai mengatur manusia sebagai penciptannya. Untuk itu diperlukan upaya-upaya untuk menyertakan nilai-nilai ke dalam\u00a0 IPTEK yang disebut dengan Islamisasi ilmu pengetahuan,\u201dIslamisasi ilmu pengetahuan bertujuan untuk menyertakan nilai-nilai islam ke dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ilmu tidak berdiri sendiri\u00a0 di tempat netral, namun\u00a0 menjadi dasar pemikiran ilmiah saat ini\u201d.(Toto Suryana: 2008:140)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Cara islam sendiri memfilter ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu sesuai dengan paradigma islam yaitu Aqidah islam sebagai dasar IPTEK dan syariat islam menjadi standarisasi IPTEK,\u00a0Dibawah ini adalah pemaparannya.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Aqidah_Islam_Sebagai_Dasar_Iptek\"><\/span><strong>Aqidah Islam Sebagai Dasar Iptek<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah cara pertama islam memfilter perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dikehidupan manusia, yaitu\u00a0<em>aqidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek<\/em>.\u00a0Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat ini. Bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini umat Islam telah telah terjerumus dalam sikap mengekor Barat dalam segala-galanya; dalam pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem pendidikan yang diikuti orang Islam, diajarkan sistem ekonomi kapitalis yang pragmatis serta tidak kenal halal haram. Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim. Misalnya Teori Darwin yang dusta dan sekaligus bertolak belakang dengan Aqidah Islam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kekeliruan paradigmatis ini harus dikoreksi. Ini tentu perlu perubahan fundamental dan perombakan total. Dengan cara mengganti paradigma sekuler yang ada saat ini, dengan paradigma Islam yang memandang bahwa Aqidah Islam (bukan paham sekularisme) yang seharusnya dijadikan basis bagi bangunan ilmu pengetahuan manusia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Namun di sini perlu dipahami dengan seksama, bahwa ketika Aqidah Islam dijadikan landasan iptek, bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari al-Qur`an dan al-Hadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandardisasi benar salahnya dengan tolok ukur al-Qur`an dan al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syariah_Islam_Standar_Pemanfaatan_Iptek\"><\/span><strong>Syariah Islam Standar Pemanfaatan Iptek<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Cara islam memfilter perkembangan IPTEK kedua Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sedangkan iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah diharamkan syariah Islam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keharusan tolok ukur syariah ini didasarkan pada banyak ayat dan juga hadits yang mewajibkan umat Islam menyesuaikan perbuatannya (termasuk menggunakan iptek) dengan ketentuan hukum Allah dan Rasul-Nya. Antara lain firman Allah:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Artinya :\u00a0<\/em><em>Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Qs. an-Nisaa` [4]: 65).<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Firman Allah yang lainnya :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya\u2026[i\/]\u201d\u00a0<\/em>(Qs. al-A\u2019raaf [7]: 3).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sabda Rasulullah Saw:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cBarangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.\u201d [HR. Muslim].<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kontras dengan ini, adalah apa yang ada di Barat sekarang dan juga negeri-negeri muslim yang bertaqlid dan mengikuti Barat secara membabi buta. Standar pemanfaatan iptek menurut mereka adalah manfaat, apakah itu dinamakan pragmatisme atau pun utilitarianisme. Selama sesuatu itu bermanfaat, yakni dapat memuaskan kebutuhan manusia, maka ia dianggap benar dan absah untuk dilaksanakan. Meskipun itu diharamkan dalam ajaran agama.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan standar manfaat itulah yang dapat menjelaskan, mengapa orang Barat mengaplikasikan iptek secara tidak bermoral, tidak berperikemanusiaan, dan bertentangan dengan nilai agama. Misalnya menggunakan bom atom untuk membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa, memanfaatkan bayi tabung tanpa melihat moralitas (misalnya meletakkan embrio pada ibu pengganti), mengkloning manusia (berarti manusia bereproduksi secara a-seksual, bukan seksual), mengekploitasi alam secara serakah walaupun menimbulkan pencemaran yang berbahaya, dan seterusnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, sudah saatnya standar manfaat yang salah itu dikoreksi dan diganti dengan standar yang benar. Yaitu standar yang bersumber dari pemilik segala ilmu yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang amat mengetahui mana yang secara hakiki bermanfaat bagi manusia, dan mana yang secara hakiki berbahaya bagi manusia. Standar itu adalah segala perintah dan larangan Allah Swt. yang bentuknya secara praktis dan konkret adalah syariah Islam.<\/p>\n<ol start=\"24\">\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em> Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em> Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS.AL.Ibrahim:24-25)<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ayat diatas menjelaskan bahwasannya Allah SWT memberikan perumpamaan Pohon sebagai integrasi antara akidah, syariah, dan akhlak atau iman, ilmu, dan amal. Di awali dengan akar pohon yang diibaratkan sebagai iman yang memperkokoh tegaknya ajaran islam, ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan-dahan itulah cabang-cabang ilmu pengetahuan sedangkan amal ibarat buah yang di ibaratkan dengan teknologi atau hasil dari produk teknologi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat dan membentuk cabang\u00a0 ilmu masing-masing secara spesifik yang dikenal dengan disiplin ilmu. Ilmu pengetahuan yang berisi tentang teori-teori yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-25049","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25049","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25049"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25049\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25049"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25049"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25049"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}