{"id":24363,"date":"2022-09-15T15:11:49","date_gmt":"2022-09-15T08:11:49","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=24363"},"modified":"2022-09-15T15:11:49","modified_gmt":"2022-09-15T08:11:49","slug":"bagaimana-hukum-nikah-mutah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/","title":{"rendered":"Hukum Nikah Mut\u2019ah dalam Islam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Pengertian_Nikah_Mutah\" >Pengertian Nikah Mut\u2019ah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Sejarah_dan_Latar_Belakang_Nikah_Mutah\" >Sejarah dan Latar Belakang Nikah Mut\u2019ah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Pandangan_Ulama_tentang_Hukum_Nikah_Mutah\" >Pandangan Ulama tentang Hukum Nikah Mut\u2019ah<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Mazhab_Sunni\" >Mazhab Sunni<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Mazhab_Syiah\" >Mazhab Syiah<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Dalil_Al-Quran_dan_Hadits_Mengenai_Nikah_Mutah\" >Dalil Al-Quran dan Hadits Mengenai Nikah Mut\u2019ah<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Al-Quran\" >Al-Quran<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Hadits\" >Hadits<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Dampak_Negatif_Nikah_Mutah\" >Dampak Negatif Nikah Mut\u2019ah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bagaimana-hukum-nikah-mutah\/#Daftar_Pustaka\" >Daftar Pustaka<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Nikah mut\u2019ah, yang juga dikenal sebagai &#8220;nikah kontrak&#8221; atau &#8220;pernikahan sementara&#8221;, merupakan topik yang memicu banyak perdebatan dalam dunia Islam. Secara umum, nikah ini mengandung unsur kesepakatan antara seorang pria dan wanita untuk menikah untuk jangka waktu tertentu dengan tujuan tertentu, tanpa adanya ikatan jangka panjang seperti dalam pernikahan biasa. Pada artikel ini, kita akan membahas hukum nikah mut\u2019ah menurut perspektif Islam, mengupas sejarahnya, pandangan ulama, serta alasan di balik pengharamannya dalam Islam.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Nikah_Mutah\"><\/span>Pengertian Nikah Mut\u2019ah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Nikah mut\u2019ah adalah bentuk pernikahan yang dilakukan dengan kontrak waktu tertentu. Pihak wanita dan pria yang terlibat dalam nikah mut\u2019ah sepakat untuk menikah selama waktu yang telah ditentukan, misalnya beberapa bulan atau tahun, dan setelah itu pernikahan tersebut berakhir secara otomatis. Nikah ini banyak ditemukan dalam mazhab Syiah, yang menganggapnya sah dan dibolehkan dalam kondisi tertentu. Namun, mazhab Sunni secara umum menganggapnya sebagai praktik yang dilarang oleh Nabi Muhammad SAW setelah masa tertentu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_dan_Latar_Belakang_Nikah_Mutah\"><\/span>Sejarah dan Latar Belakang Nikah Mut\u2019ah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Nikah mut\u2019ah pada awalnya diperbolehkan oleh Rasulullah SAW pada masa awal Islam, khususnya ketika para sahabat terlibat dalam peperangan dan berada dalam situasi darurat. Pada masa perang, terutama dalam peperangan seperti Perang Khaibar dan Perang Hunain, Rasulullah memberi izin kepada pasukan Muslim untuk melakukan nikah mut\u2019ah sebagai cara untuk melindungi diri dari perbuatan zina. Namun, setelah beberapa waktu, terutama pasca penaklukan Mekah, Rasulullah SAW secara tegas mengharamkan nikah mut\u2019ah dan menjadikannya dilarang hingga hari kiamat.<\/p>\n<p>Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa, Rasulullah SAW memberikan keringanan untuk melakukan nikah mut\u2019ah dalam situasi perang. Tetapi beliau kemudian melarang praktik tersebut setelah situasi tersebut berlalu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pandangan_Ulama_tentang_Hukum_Nikah_Mutah\"><\/span>Pandangan Ulama tentang Hukum Nikah Mut\u2019ah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mazhab_Sunni\"><\/span>Mazhab Sunni<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sebagian besar ulama dari kalangan Sunni sepakat bahwa nikah mut\u2019ah adalah haram. Dalam banyak hadits yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi, seperti Ali bin Abi Talib dan Ibnu Umar, nikah mut\u2019ah dilarang dengan tegas setelah Rasulullah SAW mengharamkannya. Hadits-hadits tersebut menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang nikah mut\u2019ah setelah Fathu Makkah, dan hukum tersebut berlaku untuk selamanya.<\/p>\n<p>Selain itu, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, hukum haramnya nikah mut\u2019ah ditegaskan kembali dalam khotbahnya di hadapan para sahabat. Beliau menyatakan bahwa nikah mut\u2019ah adalah suatu bentuk perbuatan yang merusak, dengan banyak dampak negatif seperti bercampurnya nasab dan status anak yang lahir dari pernikahan tersebut.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mazhab_Syiah\"><\/span>Mazhab Syiah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Di sisi lain, mazhab Syiah memiliki pandangan yang berbeda mengenai nikah mut\u2019ah. Mereka berpendapat bahwa nikah mut\u2019ah masih sah dan dapat dilakukan dalam keadaan tertentu. Dalam pandangan Syiah, nikah mut\u2019ah adalah sebuah solusi yang halal bagi individu yang menghadapi kesulitan untuk menikah dalam pernikahan permanen, terutama jika terjadi kondisi darurat atau keperluan tertentu. Beberapa ulama Syiah berpendapat bahwa nikah mut\u2019ah tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam, dan bahkan dapat dianggap sebagai bentuk kemudahan dalam situasi tertentu.<\/p>\n<p>Imam Ja\u2019far al-Sadiq, salah satu ulama terkemuka dari kalangan Syiah, menganggap nikah mut\u2019ah sebagai bentuk hubungan yang sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Meskipun demikian, pandangan ini tidak diterima oleh mayoritas ulama Sunni yang beranggapan bahwa nikah mut\u2019ah bertentangan dengan prinsip dasar dalam pernikahan yang seharusnya bersifat permanen dan memberi hak-hak kepada wanita serta anak yang lahir dari pernikahan tersebut.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dalil_Al-Quran_dan_Hadits_Mengenai_Nikah_Mutah\"><\/span>Dalil Al-Quran dan Hadits Mengenai Nikah Mut\u2019ah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Al-Quran\"><\/span>Al-Quran<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Beberapa ayat dalam Al-Quran sering dikaitkan dengan perdebatan tentang nikah mut\u2019ah, terutama ayat-ayat yang mengatur tentang hubungan seksual dan pernikahan. Di antaranya adalah surat Al-Ma\u2019arij (29-31) yang menjelaskan bahwa hubungan badan yang sah hanya terjadi antara suami-istri yang sah, dan hubungan dengan perempuan yang bukan istri atau budak tidak diperbolehkan. Ayat ini dipahami oleh sebagian ulama sebagai larangan terhadap nikah mut\u2019ah.<\/p>\n<p>Selain itu, dalam surat An-Nisa (25) juga disebutkan tentang pernikahan dengan budak wanita, namun hal ini berbeda dengan nikah mut\u2019ah karena nikah mut\u2019ah melibatkan kesepakatan waktu dan tidak memberi hak-hak yang sama dengan pernikahan permanen.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hadits\"><\/span>Hadits<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW jelas menyatakan bahwa beliau mengizinkan nikah mut\u2019ah pada awalnya, tetapi kemudian melarangnya secara tegas. Salah satu hadits yang sering dikutip adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Al-Bukhari: &#8220;Sesungguhnya aku telah mengizinkan kalian untuk menikahi wanita dengan nikah mut\u2019ah, tetapi sesungguhnya Allah mengharamkannya sampai hari kiamat.&#8221;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_Negatif_Nikah_Mutah\"><\/span>Dampak Negatif Nikah Mut\u2019ah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Nikah mut\u2019ah dinilai oleh banyak ulama sebagai praktik yang dapat menimbulkan dampak negatif yang serius dalam masyarakat. Beberapa alasan mengapa nikah mut\u2019ah diharamkan antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li>Bercampurnya Nasab: Anak yang lahir dari nikah mut\u2019ah tidak memiliki hubungan nasab yang jelas dengan ayahnya, yang dapat menyebabkan masalah hukum dan sosial.<\/li>\n<li>Disia-siakannya Anak: Anak yang lahir dari nikah mut\u2019ah seringkali tidak mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya, mirip dengan anak yang lahir dari perbuatan zina.<\/li>\n<li>Penyalahgunaan Wanita: Wanita dalam pernikahan mut\u2019ah bisa dianggap sebagai objek sementara, yang berpindah dari satu pria ke pria lain tanpa adanya ikatan yang jelas dan permanen.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Hukum nikah mut\u2019ah dalam Islam sangat bergantung pada pandangan mazhab yang dianut. Dalam mazhab Sunni, nikah mut\u2019ah jelas diharamkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip pernikahan yang sah dalam Islam, yang mengutamakan hak-hak wanita dan anak yang lahir dari pernikahan. Sementara itu, dalam mazhab Syiah, nikah mut\u2019ah dibolehkan dalam situasi tertentu. Namun, secara keseluruhan, banyak ulama dan ahli fiqih yang menilai bahwa praktik ini membawa dampak negatif, baik bagi individu maupun masyarakat. Oleh karena itu, meskipun nikah mut\u2019ah pernah diperbolehkan dalam kondisi darurat, pengharamannya di kemudian hari menunjukkan bahwa Islam lebih mengutamakan pernikahan yang permanen dan memberi hak-hak yang jelas bagi setiap pihak yang terlibat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Daftar_Pustaka\"><\/span>Daftar Pustaka<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<ol>\n<li>Almanhaj (almanhaj.or.id). (n.d.). <em>Nikah Mut\u2019ah (Kawin Kontrak)<\/em>. Retrieved from https:\/\/almanhaj.or.id<\/li>\n<li>Gramedia Literasi (www.gramedia.com). (n.d.). <em>Nikah Mut\u2019ah Adalah: Pengertian, Sejarah, dan Hukum Islam<\/em>. Retrieved from https:\/\/www.gramedia.com<\/li>\n<li>HR. Muslim. (n.d.). Hadits-hadits tentang Nikah Mut\u2019ah. <em>Sahih Muslim<\/em>.<\/li>\n<li>Sahih al-Bukhari. (n.d.). Hadits-hadits tentang Pengharaman Nikah Mut\u2019ah. <em>Sahih al-Bukhari<\/em>.<\/li>\n<li>Tafsir al-Quran. (n.d.). <em>Surat Al-Ma&#8217;arij dan An-Nisa<\/em> &#8211; Tafsir terkait nikah mut\u2019ah.<\/li>\n<li>Ibnu Abbas. (n.d.). <em>Fatwa tentang Nikah Mut\u2019ah<\/em> dan penjelasannya dalam riwayat-riwayat Islam.<\/li>\n<li>Al-Khattabi, I. (n.d.). <em>Tanggapan terhadap Fatwa Ibnu Abbas mengenai Mut&#8217;ah<\/em>.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nikah mut\u2019ah, yang juga dikenal sebagai &#8220;nikah kontrak&#8221; atau &#8220;pernikahan sementara&#8221;, merupakan topik yang memicu banyak perdebatan dalam dunia Islam. Secara umum, nikah ini mengandung&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44652,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-24363","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24363","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24363"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24363\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44652"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24363"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24363"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24363"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}