{"id":24257,"date":"2022-08-31T16:45:07","date_gmt":"2022-08-31T09:45:07","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=24257"},"modified":"2022-08-31T16:45:07","modified_gmt":"2022-08-31T09:45:07","slug":"pengertian-syarat-dan-rukun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syarat-dan-rukun\/","title":{"rendered":"Syarat dan Rukun dalam Hukum Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Contohnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syarat-dan-rukun\/#Pengertian_Syarat_dalam_Hukum_Islam\" >Pengertian Syarat dalam Hukum Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syarat-dan-rukun\/#Pengertian_Rukun_dalam_Hukum_Islam\" >Pengertian Rukun dalam Hukum Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syarat-dan-rukun\/#Perbedaan_antara_Syarat_dan_Rukun\" >Perbedaan antara Syarat dan Rukun<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-syarat-dan-rukun\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Dalam kajian fiqh, istilah <strong>syarat<\/strong> dan <strong>rukun<\/strong> sering digunakan untuk menjelaskan berbagai komponen penting dalam ibadah dan perbuatan hukum lainnya. Kedua konsep ini memiliki peran yang sangat signifikan, namun memiliki makna dan fungsi yang berbeda dalam pelaksanaannya. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai <strong>syarat<\/strong> dan <strong>rukun<\/strong>, serta perbedaannya berdasarkan pandangan para ulama.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Syarat_dalam_Hukum_Islam\"><\/span><strong>Pengertian Syarat dalam Hukum Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Syarat, menurut definisi yang dikemukakan oleh <strong>Ibnu As-Subki<\/strong>, adalah segala sesuatu yang keberadaannya dapat menentukan ada atau tidaknya suatu perkara. Dengan kata lain, <strong>syarat<\/strong> adalah segala hal yang mengakibatkan sesuatu menjadi tiada jika ketiadaannya, namun keberadaannya saja tidak cukup menjamin terwujudnya perkara tersebut secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Misalnya, dalam ibadah <strong>sholat<\/strong>, salah satu syarat sahnya sholat adalah menutup aurat. Jika seseorang tidak menutup auratnya saat hendak melaksanakan sholat, maka sholatnya menjadi <strong>tidak sah<\/strong>. Namun, meskipun seseorang sudah menutup auratnya, sholatnya belum tentu terlaksana jika ia tidak melaksanakan sholat itu sendiri. Artinya, syarat tidak serta-merta menjadikan suatu hal terwujud, tetapi ketiadaan syarat tersebut mengakibatkan ketidaksahan dari hal itu.<\/p>\n<p>Definisi ini juga dikuatkan oleh <strong>Ibnu Al-Hajib<\/strong>, yang menyatakan bahwa syarat adalah hal yang ketiadaannya menyebabkan sesuatu menjadi tidak ada, namun bukan akibat dari hubungan sebab-akibat yang langsung. Dalam contoh di atas, meskipun menutup aurat adalah syarat sahnya sholat, ketiadaan menutup aurat menjadikan sholat tidak sah, namun hal tersebut tidak berarti sholat akan terlaksana hanya dengan menutup aurat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Rukun_dalam_Hukum_Islam\"><\/span><strong>Pengertian Rukun dalam Hukum Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Berbeda dengan <strong>syarat<\/strong>, <strong>rukun<\/strong> memiliki definisi yang lebih fundamental dalam struktur suatu perkara. Secara bahasa, rukun berasal dari kata yang berarti sudut, tiang, atau penyangga suatu bangunan. Dalam istilah fiqh, <strong>rukun<\/strong> adalah komponen pokok yang menjadi dasar keberadaan sesuatu. Dengan kata lain, sesuatu tidak akan ada atau tidak dapat terwujud kecuali dengan adanya <strong>rukun<\/strong> tersebut.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, dalam akad <strong>nikah<\/strong>, rukun nikah mencakup elemen-elemen utama seperti <strong>calon pengantin pria, calon pengantin wanita, wali (orang tua atau wakil dari pihak wanita), serta saksi-saksi<\/strong>. Jika salah satu dari komponen utama ini tidak ada, maka akad nikah tersebut dianggap <strong>tidak sah<\/strong>. Rukun dalam hal ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari inti suatu perkara.<\/p>\n<p>Menurut ulama <strong>Hanafi<\/strong>, rukun adalah bagian yang menentukan keberadaan suatu perkara dan menjadi bagian dari esensinya. Sementara itu, menurut jumhur ulama, rukun adalah hal yang menyebabkan sesuatu berdiri dan terwujud, dan keberadaannya tidak dapat terpisahkan dari hal tersebut. Rukun adalah komponen esensial yang harus ada agar sesuatu itu bisa dianggap sah atau terwujud dengan benar.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perbedaan_antara_Syarat_dan_Rukun\"><\/span><strong>Perbedaan antara Syarat dan Rukun<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Meskipun <strong>syarat<\/strong> dan <strong>rukun<\/strong> memiliki peran yang penting dalam setiap perbuatan atau ibadah, ada perbedaan mendasar di antara keduanya:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Fungsi dan Peran<\/strong>\n<ul>\n<li><strong>Syarat<\/strong> adalah hal yang harus ada untuk menentukan sah atau tidaknya suatu perkara, tetapi keberadaannya saja tidak menjamin terwujudnya perkara tersebut. Syarat hanya mempengaruhi sah atau tidaknya suatu perbuatan atau ibadah.<\/li>\n<li><strong>Rukun<\/strong> adalah komponen utama yang menjadi pokok dalam suatu perkara. Tanpa rukun, suatu perkara atau ibadah tidak akan terwujud atau tidak sah, karena rukun merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari esensi perkara tersebut.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li><strong>Ketergantungan Terhadap Keberadaan<\/strong>\n<ul>\n<li><strong>Syarat<\/strong> tidak secara langsung menyebabkan terwujudnya suatu perkara. Sebagai contoh, menutup aurat dalam sholat adalah syarat, namun tidak serta-merta membuat sholat terlaksana.<\/li>\n<li><strong>Rukun<\/strong> adalah elemen yang menentukan keberadaan suatu perkara. Sebagai contoh, dalam nikah, jika salah satu rukun (misalnya wali) tidak ada, maka akad nikah tersebut dianggap tidak sah, karena rukun adalah komponen pokok yang harus ada.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li><strong>Contoh dalam Ibadah<\/strong>\n<ul>\n<li>Dalam <strong>sholat<\/strong>, <strong>syarat<\/strong> sahnya adalah menutup aurat, berwudhu, dan lain sebagainya, sementara <strong>rukun<\/strong> sholat adalah bacaan seperti <strong>Al-Fatiha<\/strong>, gerakan seperti <strong>rukuk<\/strong> dan <strong>sujud<\/strong>, yang jika tidak dilakukan maka sholat tidak sah.<\/li>\n<li>Dalam <strong>akad nikah<\/strong>, <strong>syarat<\/strong> meliputi pihak-pihak yang terlibat (seperti adanya wali, saksi, dan lain-lain), sementara <strong>rukun<\/strong> meliputi kalimat akad yang mengikat kedua belah pihak, seperti ijab (pernyataan nikah) dan kabul (penerimaan).<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam hukum Islam, <strong>syarat<\/strong> dan <strong>rukun<\/strong> adalah dua komponen yang sangat penting dalam menentukan sah atau tidaknya suatu perbuatan atau ibadah. <strong>Syarat<\/strong> adalah hal yang menentukan apakah suatu perbuatan atau ibadah sah, namun tidak menjamin terwujudnya perkara tersebut. Sementara itu, <strong>rukun<\/strong> adalah elemen esensial yang merupakan bagian pokok dari suatu perkara, yang tanpa keberadaannya, perkara tersebut tidak akan sah atau tidak akan terwujud dengan sempurna. Pemahaman yang baik tentang perbedaan ini sangat penting agar kita bisa melaksanakan ibadah dan perbuatan hukum lainnya dengan benar dan sah menurut syariat Islam.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>[1] Ahmad Sarwat, Ensiklopedia Fiqh Indonesia 8:Pernikahan,(Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2019)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam kajian fiqh, istilah syarat dan rukun sering digunakan untuk menjelaskan berbagai komponen penting dalam ibadah dan perbuatan hukum lainnya. Kedua konsep ini memiliki peran&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44588,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-24257","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24257","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24257"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24257\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24257"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24257"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24257"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}