{"id":24248,"date":"2022-08-29T11:16:04","date_gmt":"2022-08-29T04:16:04","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=24248"},"modified":"2022-08-29T11:16:04","modified_gmt":"2022-08-29T04:16:04","slug":"sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/","title":{"rendered":"Sistem Ekonomi Kerakyatan: Prinsip, Ciri, dan Peran Negara"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Pengertian_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\" >Pengertian Sistem Ekonomi Kerakyatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Sifat-Sifat_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\" >Sifat-Sifat Sistem Ekonomi Kerakyatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Sasaran_Pokok_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\" >Sasaran Pokok Sistem Ekonomi Kerakyatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Prinsip_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\" >Prinsip Sistem Ekonomi Kerakyatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Ciri-ciri_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\" >Ciri-ciri Sistem Ekonomi Kerakyatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Peran_Negara_dalam_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan_di_Indonesia\" >Peran Negara dalam Sistem Ekonomi Kerakyatan di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Kelebihan_dan_Kekurangan_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\" >Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Kerakyatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Penerapan_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan_di_Indonesia\" >Penerapan Sistem Ekonomi Kerakyatan di Indonesia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sistem-ekonomi-kerakyatan-prinsip-ciri-dan-peran-negara\/#Penutup\" >Penutup<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Dalam suatu negara, penerapan sistem ekonomi yang tepat sangat penting karena berdampak langsung pada kekuatan dan kondisi ekonomi negara tersebut. Berbagai konsep ekonomi yang berkembang saat ini memberikan pilihan berbeda dalam membangun perekonomian suatu negara. Pemilihan sistem ekonomi yang tepat tidak dapat dilakukan secara sembarangan, karena harus mempertimbangkan beberapa faktor utama, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Sistem Kepemilikan terhadap Sumber Daya dan Faktor Produksi<\/li>\n<li>Keluwesan Masyarakat dalam Persaingan<\/li>\n<li>Kewajiban Menerima Imbalan Berdasarkan Prestasi Kerja<\/li>\n<li>Peran Pemerintah dalam Perencanaan, Pengaturan, dan Pengarahan Kegiatan Ekonomi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Indonesia memilih Sistem Ekonomi Kerakyatan, yang diprakarsai oleh Muhammad Hatta, Bapak Ekonomi Indonesia. Sistem ini menjadi andalan terutama pada masa krisis moneter 1998 karena terbukti dapat membantu UMKM bertahan dan mencegah kemiskinan yang lebih meluas.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\"><\/span>Pengertian Sistem Ekonomi Kerakyatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang dirancang untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan memberikan pengaruh signifikan pada kehidupan ekonomi masyarakat. Sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 33, sistem ini bertujuan untuk mencapai kedaulatan rakyat di bidang ekonomi dengan pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal tersebut juga mengamanatkan bahwa kekayaan alam harus dikuasai negara dan digunakan untuk kepentingan masyarakat.<\/p>\n<p>Menurut International Labour Organization (ILO), sistem ini mencakup ekonomi tradisional yang dijalankan oleh pelaku ekonomi sederhana seperti pedagang kecil dan UMKM yang berusaha untuk mempertahankan hidup mereka.<\/p>\n<p>Secara ringkas, sistem ekonomi kerakyatan adalah suatu sistem perekonomian yang berfokus pada ekonomi rakyat sebagai kekuatan utamanya. Ekonomi rakyat ini meliputi kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengelola sumber daya secara swadaya. Dalam praktiknya, sistem ini terlihat pada keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang beroperasi pada sektor primer, sekunder, dan tersier.<\/p>\n<p>Contoh UMKM di sektor primer meliputi pertanian, perikanan, dan peternakan, sedangkan pada sektor sekunder ada pengolahan pascapanen dan kerajinan tangan, serta di sektor tersier, kegiatan perdagangan dan jasa.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sifat-Sifat_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\"><\/span>Sifat-Sifat Sistem Ekonomi Kerakyatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sistem ekonomi kerakyatan memiliki beberapa sifat yang menjadikannya sesuai dengan tujuan kesejahteraan rakyat, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Terbuka<br \/>\nEkonomi ini harus memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat memiliki kesempatan untuk menjalankan usaha dan mengakses sumber daya yang ada.<\/li>\n<li>Berkelanjutan<br \/>\nSemua kegiatan ekonomi yang dilakukan harus dapat terus berlanjut tanpa merugikan masa depan dan masyarakat itu sendiri dalam skala yang lebih luas.<\/li>\n<li>Mandiri<br \/>\nMasyarakat diberikan kebebasan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya lokal untuk mencukupi kebutuhan sesama anggota masyarakat.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan sifat-sifat ini, sistem ekonomi kerakyatan berupaya menciptakan kondisi yang lebih adil, menghindari monopoli dan persaingan bebas, serta fokus pada keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan ekonomi rakyat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sasaran_Pokok_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\"><\/span>Sasaran Pokok Sistem Ekonomi Kerakyatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tujuan dari penerapan sistem ekonomi kerakyatan adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak bagi seluruh masyarakat.<\/li>\n<li>Mewujudkan jaminan sosial untuk kelompok masyarakat yang membutuhkan, terutama anak terlantar dan fakir miskin.<\/li>\n<li>Menyebarkan kepemilikan modal secara lebih merata di masyarakat.<\/li>\n<li>Menjamin pendidikan nasional yang dapat diakses oleh semua anak, tanpa biaya.<\/li>\n<li>Memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk membentuk dan bergabung dengan serikat ekonomi.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Prinsip_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\"><\/span>Prinsip Sistem Ekonomi Kerakyatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pelaksanaan ekonomi kerakyatan di Indonesia berlandaskan pada prinsip-prinsip yang termuat dalam UUD 1945, terutama pada Pasal 33 ayat 1 hingga 3 dan Pasal 27 ayat 2, yang mengatur bahwa:<\/p>\n<ul>\n<li>Ekonomi Indonesia disusun berdasarkan asas kekeluargaan, dengan penguasaan cabang-cabang produksi yang penting oleh negara untuk kemakmuran rakyat.<\/li>\n<li>Setiap warga negara berhak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak.<\/li>\n<li>Negara bertanggung jawab untuk merawat fakir miskin dan anak terlantar.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-ciri_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\"><\/span>Ciri-ciri Sistem Ekonomi Kerakyatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Ciri-ciri utama dari sistem ekonomi kerakyatan adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Mekanisme Pasar yang Berkeadilan<br \/>\nPersaingan yang sehat dengan memprioritaskan kepentingan sosial dan nilai keadilan.<\/li>\n<li>Prioritas pada Kepentingan Sosial<br \/>\nKesejahteraan rakyat dan kualitas hidup menjadi perhatian utama, tanpa mengesampingkan pertumbuhan ekonomi.<\/li>\n<li>Pembangunan Berkelanjutan dengan Wawasan Lingkungan<br \/>\nMenjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.<\/li>\n<li>Kesempatan yang Sama<br \/>\nSemua lapisan masyarakat diberikan kesempatan yang sama untuk berusaha dan mencapai kesejahteraan.<\/li>\n<li>Perlindungan Hak Konsumen<br \/>\nSeluruh lapisan masyarakat diperlakukan dengan adil, dan hak-hak konsumen dilindungi.<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peran_Negara_dalam_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan_di_Indonesia\"><\/span>Peran Negara dalam Sistem Ekonomi Kerakyatan di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Peran negara dalam sistem ekonomi kerakyatan, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945, antara lain adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Mengembangkan dan memelihara koperasi sebagai wadah perekonomian rakyat.<\/li>\n<li>Mengelola BUMN untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.<\/li>\n<li>Memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat.<\/li>\n<li>Memberikan hak pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi semua warga negara.<\/li>\n<li>Memelihara anak terlantar dan fakir miskin.<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kelebihan_dan_Kekurangan_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan\"><\/span>Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Kerakyatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kelebihan sistem ekonomi kerakyatan antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Menjamin keadilan sosial bagi rakyat miskin.<\/li>\n<li>Membuka peluang untuk memperhatikan rakyat kecil melalui program-program ekonomi.<\/li>\n<li>Dapat mendorong kegiatan ekonomi rakyat kecil agar lebih produktif.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Namun, kelemahannya adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Ketergantungan masyarakat terhadap bantuan yang tidak diimbangi dengan pemberdayaan ekonomi yang mandiri.<\/li>\n<li>Kurangnya pemahaman tentang investasi dapat menyebabkan kemiskinan berlanjut.<\/li>\n<li>Jika tidak ada pengawasan yang ketat, korupsi dapat terjadi dalam pelaksanaan sistem ini.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penerapan_Sistem_Ekonomi_Kerakyatan_di_Indonesia\"><\/span>Penerapan Sistem Ekonomi Kerakyatan di Indonesia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sistem ekonomi kerakyatan dapat dilihat dari beberapa bukti nyata di Indonesia, seperti:<\/p>\n<ol>\n<li>Keberadaan koperasi yang terus berkembang bahkan di era digitalisasi.<\/li>\n<li>Meningkatnya jumlah UMKM yang menjadi motor penggerak ekonomi negara, memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan menyediakan lapangan pekerjaan.<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penutup\"><\/span>Penutup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Penerapan sistem ekonomi kerakyatan di Indonesia tidak hanya sejalan dengan kebijakan perekonomian nasional, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat. Namun, pengawasan yang ketat dan pemberdayaan masyarakat tetap diperlukan agar sistem ini dapat berfungsi dengan optimal. Oleh karena itu, penting untuk memahami lebih dalam sistem ekonomi ini, seperti yang dapat dipelajari di Fakultas Bisnis Sampoerna University, yang memiliki pengajar dengan perspektif internasional dan keahlian yang tinggi di bidang ekonomi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam suatu negara, penerapan sistem ekonomi yang tepat sangat penting karena berdampak langsung pada kekuatan dan kondisi ekonomi negara tersebut. Berbagai konsep ekonomi yang berkembang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44602,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[316,317,318,319,320,321,322,323],"class_list":["post-24248","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ekonomi-rakyat","tag-koperasi","tag-pembangunan-berkel","tag-perekonomian-indonesia","tag-perekonomian-nasional","tag-sistem-ekonomi-kerakyatan","tag-umkm","tag-uud-1945"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24248"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24248\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}