{"id":23861,"date":"2022-05-09T12:53:30","date_gmt":"2022-05-09T05:53:30","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=23861"},"modified":"2022-05-09T12:53:30","modified_gmt":"2022-05-09T05:53:30","slug":"hukum-isbal-menurut-para-ulama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/","title":{"rendered":"Hukum Isbal menurut Para Ulama"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#A_Kelompok_Pertama_Isbal_Hukumnya_Haram_Mutlaq\" >A. Kelompok Pertama : Isbal Hukumnya Haram Mutlaq.<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#1_Al-Imam_Ibnu_Hajar_Al-Asqolaniy\" >1. Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqolaniy<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#2_Syaikh_Bin_Bazz\" >2. Syaikh Bin Bazz<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#3_Syaikh_Al-Utsaimin\" >3. Syaikh Al-Utsaimin<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#B_Kelompok_Kedua_Isbal_Hukumnya_Makruh\" >B. Kelompok Kedua : Isbal Hukumnya Makruh.<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#1_Al-Imam_Asy-Syafiiy\" >1. Al-Imam Asy-Syafi\u2019iy<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#2_Al-Imam_An-Nawawi\" >2. Al-Imam An-Nawawi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#3_Al-Imam_Ibnu_Qudamah\" >3. Al-Imam Ibnu Qudamah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#4_Al-imam_Ibnu_Abdil_Barr\" >4. Al-imam Ibnu Abdil Barr<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#C_Kelompok_Ketiga_Isbal_Hukumnya_boleh_atau_mubah\" >C. Kelompok Ketiga : Isbal Hukumnya boleh atau mubah :<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#1_Al-imam_Abu_Hanifah\" >1. Al-imam Abu Hanifah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#2_Al-imam_Ahmad_Bin_Hanbal\" >2. Al-imam Ahmad Bin Hanbal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#3_Syaikhul_Islam_Ibnu_Taimiyah\" >3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-isbal-menurut-para-ulama\/#4_Al-Imam_Asy-Syaukani\" >4. Al-Imam Asy-Syaukani<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Jadi begini, setelah kami teliti langsung ke kitab masing-masing para ulama, ternyata para ulama\u2019 kita telah sepakat mengatakan <em>HARAM<\/em> jika isbal itu disertai dengan sifat sombong.<\/p>\n<p>Nanti khilafiyahnya adalah ketika ada orang yang melakukan isbal tapi tidak disertai dengan sifat sombong. Nah, dalam masalah ini para ulama paling tidak terbagi menjadi 3 kelompok.<\/p>\n<p>Kelompok pertama mengatakan isbal hukumnya adalah <em>haram mutlaq<\/em>. Baik dia sombong ataupun tidak sombong. Ini adalah pendapat Al-Imam Ibnu Hajar Al- Asqolani (w. 852 H), ibnul Arobiy (w. 638 H), Syaikh Bin Bazz (w. 1420 H) dan Syaikh Al-Utsaimin (w. 1421 H).<\/p>\n<p>Kelompok yang kedua mengatakan bahwa isbal hukumnya <em>makruh<\/em>. Dan ini adalah pendapat Al-imam Asy-Syafi\u2019iy (w. 204 H), Al-imam An-Nawawi (w. 676 H), Al-imam Ibnu Qudamah (w. 620 H) dan Al-Imam Ibnu Abdil Barr (w. 463 H).<\/p>\n<p>Kelompok yang ketiga mengatakan bahwa isbal hukumnya <em>mubah atau boleh<\/em>. Ini adalah pendapat Al-imam Abu Hanifah (w. 150 H), Al-Imam Ahmad Bin Hanbal (w. 241 H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w.728 H) dan Al-Imam Asy-Syaukani (w. 1255 H).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"A_Kelompok_Pertama_Isbal_Hukumnya_Haram_Mutlaq\"><\/span><a name=\"_Toc68229\"><\/a>A. Kelompok Pertama : Isbal Hukumnya Haram Mutlaq.<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Al-Imam_Ibnu_Hajar_Al-Asqolaniy\"><\/span><a name=\"_Toc68230\"><\/a>1. Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqolaniy<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Dan hasilnya adalah bahwa isbal itu menyebabkan terseretnya pakaian. dan menyeret pakaian itu menyebabkan sombong. walaupun orang yang berpakaian itu tidak bermaksud demikian.<sup><strong>[1]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<p>Ibnul Arabi berkata dalam kitab fathul bari yang dinukil oleh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqolaniy pada juz 10 halaman 264 :<\/p>\n<p><em>Ibnul Arabi berkata, &#8220;Tidak boleh bagi seorang lakilaki memanjangkan pakaiannya sampai mata-kaki sambil mengatakan saya tidak memanjangkannya karena sombong. karena larangan itu mencakup lafadz yang diucapkan. dan hasilnya adalah bahwa <\/em><em>isbal itu menyebabkan terseretnya pakaian. dan menyeret pakaian itu menyebabkan sombong. walaupun orang yang berpakaian itu tidak bermaksud demikian.<sup><strong>[2]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Syaikh_Bin_Bazz\"><\/span><a name=\"_Toc68231\"><\/a>2. Syaikh Bin Bazz<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Hadits-hadits dalam hal ini sangat banyak sekali. dan semuanya menunjukkan haramnya isbal secara mutlaq. walaupun yang bersangkutan tidak berniat sombong atau takabbur. karena hal itu bisa menyebabkan sebagai wasilah takabbur. dan adanya sifat berlebih lebihan dan bisa kena najis atau kotoran. adapun bagi yang benar-benar berniat sombong maka sudah jelas lebih berat dosanya.<sup><strong>[3]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Syaikh_Al-Utsaimin\"><\/span><a name=\"_Toc68232\"><\/a>3. Syaikh Al-Utsaimin<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Adapun sesuatu yang haram karena sifatnya adalah seperti pakaian isbal. seorang laki-laki yang menurunkan pakaiannya sampai kedua mata-kaki maka hal ini termasuk perbuatan yang haram dilakukan. barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan dari agama maka itu tertolak.<sup><strong>[4]<\/strong><\/sup><\/em><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"B_Kelompok_Kedua_Isbal_Hukumnya_Makruh\"><\/span><a name=\"_Toc68233\"><\/a>B. Kelompok Kedua : Isbal Hukumnya Makruh.<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Al-Imam_Asy-Syafiiy\"><\/span><a name=\"_Toc68234\"><\/a>1. Al-Imam Asy-Syafi\u2019iy<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Imam nawawi berkata &#8221; isbal dibawah mata-kaki bagi yang sombong, namun jika tidak sombong maka hukumnya makruh. ini juga nash dari imam syafi&#8217;iy. dan dianjurkan pakaian itu sampai batas betis. dan diperbolehkan menurunkannya sampai kedua mata-kaki. dan apa yang ada dibawah mata-kaki maka itu dilarang jika karena sombong. jika tidak sombong maka makruh. karena hadist yang melarang isbal sifatnya mutlaq. maka harus ditaqyid dengan hadits muqoyyad.<sup><strong>[5]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Al-Imam_An-Nawawi\"><\/span><a name=\"_Toc68235\"><\/a>2. Al-Imam An-Nawawi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Sesungguhnya isbal ada pada sarung,baju dan imamah. dan tidak boleh isbal sampai dibawah kedua mata-kaki jika karena sombong. namun jika bukan karena sombong maka hukumnya makruh. dan dzohir hadits mutlaq itu harus dikhususkan maknanya dengan hadits muqoyyad. inilah nash dari imam syafi&#8217;iy. para ulama sepakat bolehnya isbal bagi seorang wanita karena nabi telah mengizinkan bagi wanita. dan dianjurkan pakaian itu sampai batas betis. dan diperbolehkan menurunkannya sampai kedua mata-kaki. dan apa yang ada dibawah mata-kaki maka itu dilarang jika karena sombong. jika tidak sombong maka makruh. karena hadits ancaman neraka adalah khusus bagi yang sombong dan haditsnya mutlaq. maka wajib dipahami maknanya dengan hadits yang muqoyyad.<sup><strong>[6]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Al-Imam_Ibnu_Qudamah\"><\/span><a name=\"_Toc68236\"><\/a>3. Al-Imam Ibnu Qudamah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Dan dimakruhkan isbal pakaian, sarung dan celana. karena nabi memerintahkan untuk menaikkan pakaian. jika dilakukan karena sombong maka haram. karena nabi mengatakan barang siapa yang memanjangkan pakaian karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya.<sup><strong>[7]<\/strong><\/sup><\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Al-imam_Ibnu_Abdil_Barr\"><\/span><a name=\"_Toc68237\"><\/a>4. Al-imam Ibnu Abdil Barr<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Ibnu abdil barr berkata &#8221; maksudnya adalah bahwa isbal tanpa sombong tidak termasuk didalamnya ancaman neraka. akan tetapi hal itu termasuk <\/em><em>perbuatan tercela.<sup><strong>[8]<\/strong><\/sup><\/em><\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"C_Kelompok_Ketiga_Isbal_Hukumnya_boleh_atau_mubah\"><\/span><a name=\"_Toc68238\"><\/a>C. Kelompok Ketiga : Isbal Hukumnya boleh atau mubah :<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Al-imam_Abu_Hanifah\"><\/span><a name=\"_Toc68239\"><\/a>1. Al-imam Abu Hanifah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Shohibul muhit berkata dari kalangan hanafiyah dan diriwaatkan bahwa abu hanifah memanjangkan selendangnya. dan menyeretnya sampai mengenai tanah. kemudian ditanya bukankah kita dilarang? beliau jawab &#8221; larangan itu bagi orang yang sombong dan kita bukan orang yang sombong. begitu juga ibnu taimiyah memilih pendapat tidak adanya keharaman dan tidak menganggapnya makruh.<sup><strong>[9]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Al-imam_Ahmad_Bin_Hanbal\"><\/span><a name=\"_Toc68240\"><\/a>2. Al-imam Ahmad Bin Hanbal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Imam Ahmad &#8220;menyeret pakaian jika tidak sombong maka tidak apa-apa. dan ini pendapat <\/em><\/p>\n<p><em>beberapa ashab hanabilah.<sup><strong>[10]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Syaikhul_Islam_Ibnu_Taimiyah\"><\/span><a name=\"_Toc68241\"><\/a>3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Dimakruhkan isbal pakaian, selendang, celana dan sarung jika karena sombong. ada juga yang mengatakan makruh. dan ada juga yang <\/em><\/p>\n<p><em>mengatakan haram. dan ini adalah madzhab hanbali. berkata imam ahmad &#8221; seorang yang memnjangkan kainya sampai dibawah mata-kaki adalah dineraka. namun jika tidak karena sombong maka tidak apa-apa. dan ini juga pendapat alqodhi.<sup><strong>[11]<\/strong><\/sup><\/em><\/p>\n<p>Dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Adab Asy-Syar\u2019iyah yang dinukil oleh ibnu Muflih juz 3 halaman 521\u00a0 :<\/p>\n<p><em>Dan syaikhul islam ibnu taimiyah memilih pendapat tidak adanya keharaman dan tidak menganggapnya makruh.<sup><strong>[12]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Al-Imam_Asy-Syaukani\"><\/span><a name=\"_Toc68242\"><\/a>4. Al-Imam Asy-Syaukani<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><em>Aku telah tahu tentang hadits tersebut ( sesungguhnya kamu bukan termasuk orang yang berbuat sombong) menunjukkan bahwa illat keharaman adalah sifat sombong. karena juga isbal kadang karena sombong dan kadang juga bukan karena sombong. maka ancaman neraka itu adalah bagi yang sombong. adapun yang mengatakan isbal itu semuanya karena sombong maka pendapat ini ditentang oleh hadits abu bakr.<sup><strong>[13]<\/strong><\/sup> <\/em><\/p>\n<p>[1] Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 10, Hal 263.<\/p>\n<p>[2] Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 10, Hal 264.<\/p>\n<p>[3] Ibn Bazz, Majalatul Buhuts al-Islamiyah, juz 33, hal 113.<\/p>\n<p>[4] Ibnu al-Utsaimin, Syarhul Mumti\u2019, Juz 2, hal 154.<\/p>\n<p>[5] Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 10, Hal 263.<\/p>\n<p>[6] An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, juz 14, hal 62.<\/p>\n<p>[7] Ibnu Qudamah, al-Mughni, juz 1, hal 418.<\/p>\n<p>[8] Ibnu Hajar, Fathul Bari, Juz 10, Hal 263.<\/p>\n<p>[9] Ibnu Muflih, al<\/p>\n<p>[10] Ibnu Muflih, al<\/p>\n<p>[11] Ibnu Taimiyah, Syarh Umadatul Fiqh, juz 1, hal 361.<\/p>\n<p>[12] Ibnu Muflih, al<\/p>\n<p>[13] Asy-Syaukani, Nailul Author, juz 2, hal 132.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi begini, setelah kami teliti langsung ke kitab masing-masing para ulama, ternyata para ulama\u2019 kita telah sepakat mengatakan HARAM jika isbal itu disertai dengan sifat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-23861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23861","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23861"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23861\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}