{"id":22995,"date":"2021-09-08T22:28:35","date_gmt":"2021-09-08T15:28:35","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22995"},"modified":"2021-09-08T22:28:35","modified_gmt":"2021-09-08T15:28:35","slug":"argumentasi-mazhabku-rasulullah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/argumentasi-mazhabku-rasulullah\/","title":{"rendered":"Argumentasi &#8220;Mazhabku Rasulullah&#8221;"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/argumentasi-mazhabku-rasulullah\/#1_Ketaatan_Hanya_Untuk_Allah_dan_Rasul\" >1. Ketaatan Hanya Untuk Allah dan Rasul<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/argumentasi-mazhabku-rasulullah\/#2_Hadits_Sahih_Adalah_Madzhab_Mujtahid\" >2. Hadits Sahih Adalah Madzhab Mujtahid<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/argumentasi-mazhabku-rasulullah\/#3_Para_%E2%80%98Pendiri_Madzhab_Melarang_Taklid\" >3. Para \u2018Pendiri\u2019 Madzhab Melarang Taklid<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/argumentasi-mazhabku-rasulullah\/#4_Para_Shahabat_Saja_Tidak_Bermadzhab\" >4. Para Shahabat Saja Tidak Bermadzhab<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/argumentasi-mazhabku-rasulullah\/#5_Madzhab_itu_Sumber_Perpecahan\" >5. Madzhab itu Sumber Perpecahan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Para penganut \u2018madzhabku rasulullah\u2019, -selain memiliki seruan-seruan yang tampak manis namun mengandung implikasi berbahaya seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya-, juga memiliki sejumlah argumentasi yang tampak kokoh bagi sebagian kaum muslimin.<\/p>\n<p>Dengan seruan-seruan manis dan sejumlah argument yang tampak kokoh itulahmadzhab tanpa imam ini mampu menarik minat dan ketertarikan banyak sekali pengikut. Sebagian pengikutnya ada yang semakin larut dalam keyakinan madzhab ini, namun sebagian yang lain sudah ada yang terselamatkanoleh hidayah Allah <em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p>Kalau dalam pembahasan sebelumnya sudah disampaikan seruan-seruan manisnya, maka pada bagian ini akan disajikan segala argumentasi mereka.<\/p>\n<p>Nanti pada gilirannya akan sampai pada bagian khusus tentang kajian kritis atas argumentasiargumentasi tersebut.<\/p>\n<p>Argumentasi-argumentasi itu antara lain ;<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Ketaatan_Hanya_Untuk_Allah_dan_Rasul\"><\/span><a name=\"_Toc62592\"><\/a>1. Ketaatan Hanya Untuk Allah dan Rasul<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Salah satu nalar mereka yang tidak mau bermadzhab dengan madzhab-madzhab yang dikenal dalam Islam adalah karena mengikuti madzhab dianggap sebagai penyekutuan terhadap Allah <em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p>Allah dan rasul-Nya tidak pernah memerintahkan kita mengikuti madzhab-madzhab. Allah hanya memerintahkan kita untuk mentaati-Nya. Jika ada selain-Nya yang kita taati dan yakini, maka itu tidak lain merupakan tandingan bagi syariat Allah <em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em>.<\/p>\n<p>Untuk memperkuat nalar ini, mereka melandaskan argumentasinya pada ayat-ayat Allah <em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em> dalam Al Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Ayat-ayat itu antara lain At Taubah ayat 31 (tentang ahlul kitab yang menjadikan para ulama dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah).<\/p>\n<p>Kemudian ayat 36 surat Al Ahzab (tentang ketidaklayakan seorang mukmin untuk mencari pilihan pada saat Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan). Dan ayat-ayat lain tentang kewajiban taat kepada Allah dan Rasulullah <em>shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>.<\/p>\n<p>Dan ketaatan kepada madzhab dianggap sebagai ketaatan yang terlarang berdasarkan ayat-ayat di atas. Keterlarangan itu semakin besar jika ada ayat atau hadits yang dianggap sudah cukup jelas tapi masih mempertimbangkan dalam mengamalkannya atau bahkan lebih memilih pandangan madzhab yang tampak bertentangan dengan ayat atau hadits tersebut.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Hadits_Sahih_Adalah_Madzhab_Mujtahid\"><\/span><a name=\"_Toc62593\"><\/a>2. Hadits Sahih Adalah Madzhab Mujtahid<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dengan redaksi yang beragam, hampir semua \u2018pendiri\u2019 madzhab fiqih yang ada mengatakan, <em>\u201cAndai saja haditsnya sahih, itulah madzhabku\u201d<\/em>. Ungkapan ini senada dengan kaidah para ulama ushul fiqih, <em>\u201cJika sudah terdapat atsar, maka gugurlah nalar\u201d<\/em> atau <em>\u201ctidak ada ijtihad jika sudah terdapat nash\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>Senada<\/em> yang penulis maksud disini adalah bahwa semua ungkapan tadi memiliki semangat mengunggulkan wahyu di atas akal. Maka jika sudah jelas bahwa kehendak wahyunya demikian, maka tidak perlu lagi melihat madzhab, ijtihad, atau nalar apapun.<\/p>\n<p>Bahkan para ulama mujtahid itu sendiri yang memerintahkan agar semua pendapat atau madzhabnya yang bertentangan dengan hadits sahih untuk dilemparkan saja tanpa perlu dilihat lagi.<\/p>\n<p>Mereka para mujtahid adalah manusia-manusia mulia yang sangat mentaati Allah dan rasul-Nya. Mereka dengan mudah untuk <em>rujuk<\/em> (kembali) dari pandangannya yang ternyata keliru kepada madzhab yang lebih sesuai dengan hadits sahih. Dan hadits sahih itulah sebenar-benarnya madzhab bagi mereka. Madzhab mereka adalah hadits sahih. Sehingga madzhab mereka adalah \u2018Madzhab<\/p>\n<p>Rasululah\u2019.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Para_%E2%80%98Pendiri_Madzhab_Melarang_Taklid\"><\/span><a name=\"_Toc62594\"><\/a>3. Para \u2018Pendiri\u2019 Madzhab Melarang Taklid<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bukan saja mengatakan bahwa hadits sahih adalah madzhab mereka. Para \u2018pendiri\u2019 madzhab juga dengan tegas melarang untuk taklid.<\/p>\n<p>Imam Abu Hanifah dengan tegas mengatakan, \u201ctidak halal\u201d. Yaitu tidak halal untuk mengikuti madzhab beliau kecuali jika benar-benar paham dari mana beliau menggalinya.<\/p>\n<p>Begitu juga dengan Imam Malik misalnya. Beliau juga senada dengan Imam Abu Hanifah melarang mengikuti pandangan dan madzhab beliau kecuali benar-benar yakin bahwa pandangan beliau itu tidak bertentangan dengan Al Qur\u2019an dan Sunnah.<\/p>\n<p>Demikian juga dengan Imam As Syafi\u2019i. Beliau juga memerintahkan agar jika ada hadits yang bertentangan dengan madzhabnya, maka amalkanlah hadits dan tinggalkan madzhabnya.<\/p>\n<p>Sementara Imam Ahmad ibn Hanbal malah bukan saja melarang taklid kepada beliau saja. Imam Ahmad juga melarang taklid kepada Malik, At Tsauri dan Al Auzai. Yang beliau perintahkan adalah untuk mengambil atau mengikuti sumber madzhab mereka. Iya, sumbernya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Para_Shahabat_Saja_Tidak_Bermadzhab\"><\/span><a name=\"_Toc62595\"><\/a>4. Para Shahabat Saja Tidak Bermadzhab<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Mereka yang tidak mau bermadzhab dengan madzhab yang populer, dan hanya ingin bermadzhab dengan \u2018madzhab rasulullah\u2019, biasanya bertanya dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak relevan untuk dijawab. Pertanyaan itu adalah; apa madzhab Abu Bakar ? Umar ? Utsman ? Ali ? dan para shahabat yang lain ?<\/p>\n<p>Mengapa tidak ada sejarah para shahabat itu bermadzhab ? Kalau ada, berapa madzhab yang eksis di masa shahabat ? Madzhab siapa yang pengikutnya paling banyak ? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lain.<\/p>\n<p>Karena hampir tidak ada jawaban yang sesuai dengan harapan mereka, maka kemudian mereka menyimpulkan bahwa para shahabat memang tidak bermadzhab.<\/p>\n<p>Dan lagi, yang namanya madzhab itu baru benarbenar lahir jauh setelah masa shahabat. Maka tidak mungkin jika para shahabat itu menganut madzhab yang kita kenal.<\/p>\n<p>Jika para shahabat saja tanpa madzhab-madzhab mereka bisa mengamalkan Islam dengan segala ajarannya, maka sangat logis jika generasi setelahnya juga mencukupkan diri dengan apa yang sudah diwariskan para shahabat itu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Madzhab_itu_Sumber_Perpecahan\"><\/span><a name=\"_Toc62596\"><\/a>5. Madzhab itu Sumber Perpecahan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tidak diragukan lagi bahwa Allah <em>subhanahu wa ta\u2019ala<\/em> memerintahkan persatuan kaum muslimin dan mengharamkan perpecahan.<\/p>\n<p>Salah satu penyebab perpecahan tersebut adalah adanya perbedaan madzhab-madzhab fiqih. Karena para penganutnya lebih membela madzhabnya daripada agamanya.<\/p>\n<p>Sebagian fanatisan madzhab non qunut subuh misalnya, tidak mau shalat berjamaah di sebuah masjid jika imamnya adalah pelaku qunut subuh. Begitu juga sebaliknya. Yang terbiasa qunut, tidak mau bermakmum kepada imam yang berani meninggalkan qunut subuh.<\/p>\n<p>Walaupun kejadian seperti itu bukan kejadian yang terjadi di semua masyarakat kaum muslimin, akan tetapi jika terdapat banyak perbedaan pandangan dalam ritual ibadah kaum muslimin, maka potensi perpecahan itu benar-benar terbuka lebar.<\/p>\n<p>Dan jika perpecahan yang diharamkan itu tidak akan berhenti kecuali dengan menyatukan umat dengan Al Qur\u2019an dan Sunnah, maka menghilangkan pandangan-pandangan madzhab tersebut secara bertahap menjadi satu keniscayaan.<\/p>\n<p>Dan pada masanya nanti kita akan menyaksikan kaum muslimin tidak perlu lagi untuk menghindar dalam berjamaah dengan imam yang beda madzhab.<\/p>\n<p>Sumber: Sutomo Abu Nashr, Madzhabmu Rasulullah? Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Indonesia, 2018<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para penganut \u2018madzhabku rasulullah\u2019, -selain memiliki seruan-seruan yang tampak manis namun mengandung implikasi berbahaya seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya-, juga memiliki sejumlah argumentasi&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22995","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22995","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22995"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22995\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22995"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22995"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22995"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}