{"id":22985,"date":"2021-09-02T22:16:30","date_gmt":"2021-09-02T15:16:30","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22985"},"modified":"2021-09-02T22:16:30","modified_gmt":"2021-09-02T15:16:30","slug":"macam-macam-gharar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-gharar\/","title":{"rendered":"Macam-macam Gharar"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-gharar\/#%E2%80%8E1_Gharar_dalam_akad_%E2%80%8E\" >\u200e1. Gharar dalam akad \u200e<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-gharar\/#2_Gharar_dalam_objek_akad_%E2%80%8E\" >2. Gharar dalam objek akad \u200e<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-gharar\/#%E2%80%8E3_Gharar_dalam_harga_%E2%80%8E\" >\u200e3. Gharar dalam harga \u200e<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-gharar\/#%E2%80%8E4_Gharar_dalam_waktu_serah-terima_%E2%80%8E\" >\u200e4. Gharar dalam waktu serah-terima \u200e<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"%E2%80%8E1_Gharar_dalam_akad_%E2%80%8E\"><\/span>\u200e1. Gharar dalam akad \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Gharar bisa terjadi dalam akad. Maksudnya \u200eadalah bentuk akad yang disepakati oleh kedua \u200ebelah pihak mengandung unsur ketidakpastian, ada \u200eklausulklausul yang tidak jelas atau pasal karet, \u200eyang berpotensi merugikan salah satu pihak atau \u200eberpotensi menimbulkan perselisihan antara \u200ekeduanya. \u200e<\/p>\n<p>Contohnya adalah praktik di masa Nabi yaitu jual-\u200ebeli mulamasah dan munabadzah. Mulamasah \u200eadalah jual-beli di mana penjmemberikan \u200eklausul akad yang mengandung potensi merugikan \u200epembeli yaitu \u201cKain mana saja yang engkau sentuh, \u200emaka kain tersebut menjadi milikmu dengan harga \u200esekian.\u201d Atau dalam kalimat yang lebih sederhana, \u200e\u200e\u201cMenyentuh berarti membeli.\u201d \u200e<\/p>\n<p>Demikian juga jual-beli munabadzah, yaitu jual \u200ebeli di mana penjual berkata, \u201cPakaian manapun \u200eyang aku lemparkan kepadamu, maka kamu bayar \u200esekian.\u201d Tentu akad ini cacat. Sebab tidak ada \u200ekejelasan pakaian mana yang akan didapatkan oleh \u200epembeli. Bisa jadi sesuai keinginannya atau tidak. \u200e<\/p>\n<p>Contoh lain yang sering terjadi adalah akad \u200epemindahan harta antara suami-istri. Ketika suami \u200emembeli mobil baru, dia berkata kepada istrinya, \u200e\u200e\u201cSayang, ini mobil barunya kamu pakai aja.\u201d \u200eKalimat ini mengandung \u2018pasal karet\u2019. Tidak jelas \u200eapakah maksudnya sekedar meminjamkan atau \u200edihibahkan. \u200e<\/p>\n<p>Dampaknya adalah ketika suami meninggal, ahli \u200ewaris akan ribut menentukan apakah mobil itu \u200emasih punya suami, karena statusnya hanya \u200edipinjamkan sehingga dibagi sebagai harta warisan, \u200eatau sudah jadi milik istri sehingga tidak dibagi \u200ewaris. Di sinilah esensi gharar itu terjadi, sebab \u200eakadnya tidak jelas dan menimbulkan potensi \u200eperselisihan di kemudian hari. \u200e<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Gharar_dalam_objek_akad_%E2%80%8E\"><\/span>2. Gharar dalam objek akad \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Gharar juga bisa terjadi pada barang atau jasa \u200eyang menjadi objek akad yang diperjualbelikan. \u200eMaksudnya, barang atau jasa yang menjadi objek \u200eakadnya tidak jelas. Ketidakjelasan itu bisa dalam \u200eukurannya, kualitasnya, spesifikasinya, \u200ekeberadaannya dan lain-lain. \u200e<\/p>\n<p>Ibnu Taimiyah, mengklasifikasikan gharar yang \u200eterjadi pada objek akad ini menjadi tiga jenis:\u200e \u200e \u200e<br \/>\n\u200e1)\u200e Bai\u2019 al-Ma\u2019dum. Yaitu jual-beli barang fiktif, \u200eatau barang yang tidak pasti ada atau \u200etidaknya. Seperti jual-beli janin hewan yang \u200emasih dalam perut induknya. \u200e<br \/>\n\u200e2)\u200e Bai\u2019 al-Ma\u2019juz \u2018an Taslimih. Yaitu jual-beli \u200ebarang yang sulit diserah-terimakan kepada \u200epembeli. Seperti jual-beli motor yang baru \u200edicuri, jual-beli burung yang lepas, ikan yang \u200emasih di lautan dan lain sebagainya. \u200e<br \/>\n\u200e3)\u200e Bai\u2019 al-Majhul. Yaitu jual beli-barang yang \u200etidak jelas sifat-sifatnya, ukurannya dan \u200espesifikasinya. \u200e<\/p>\n<p>Jadi, yang termasuk gharar dalam objek akad \u200eadalah jual-beli barang yang tidak ada atau tidak \u200ejelas jenis dan sifatnya atau tidak pasti apakah bisa \u200ediserahkan atau tidak. \u200e<br \/>\nHanya saja, yang perlu digarisbawahi, tidak \u200esemua barang yang tidak ada itu tidak boleh \u200ediperjualbelikan. sebab maksudnya adalah barang \u200eyang tidak ada dan tidak jelas apakah nanti akan \u200eada atau tidak. \u200e<\/p>\n<p>Sehingga meskipun pada saat akad barangnya \u200ebelum ada, tapi bisa dipastikan barang itu ada pada \u200esaat yang disepakati, maka tidak termasuk gharar. \u200e<br \/>\n\u200f \u200fKaidahnya adalah:\u200e<\/p>\n<p>Setiap barang yang tidak ada dan tidak \u200ediketahui ada atau tidaknya di kemudian waktu, \u200etidak boleh diperjualbelikan. Dan setiap barang \u200eyang tidak ada, akan tetapi secara \u200eadat\/kebiasaan bisa dipastikan ada di kemudian \u200ewaktu, boleh diperjualbelikan. \u200e<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"%E2%80%8E3_Gharar_dalam_harga_%E2%80%8E\"><\/span>\u200e3. Gharar dalam harga \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Gharar dalam harga maksudnya adalah harga yang \u200edisepakati tidak jelas nominalnya. Atau harga tidak \u200edisebutkan pada saat akad, sehingga menimbulkan \u200epotensi pembeli merasa dirugikan, sebab penjual \u200ebisa menentukan harga seenaknya. \u200e<\/p>\n<p>Contoh yang sering terjadi adalah tarif ojek \u200epangkalan yang tidak ada standar dan ukurannya. \u200eTidak dihitung per kilometer, tapi semaunya abang \u200eojek. \u200e<\/p>\n<p>Kadang-kadang penumpang juga tidak tanya \u200eharga terlebih dahulu. Langsung naik begitu saja. \u200eBegitu sampai, kesempatan bagi abang ojeknya \u200euntuk minta tarif mahal. Mau tidak mau \u200epenumpang harus bayar, karena dia sudah diantar \u200esampai tujuan. \u200e<\/p>\n<p>Maka seharusnya ada kesepakatan harga terlebih \u200edahulu sebelum transaksi terlaksana. Supaya kedua \u200ebelah pihak tidak ada yang merasa dirugikan \u200esehingga unsur saling ridha sebagai syarat dalam \u200ejualbeli pun terwujud. \u200e<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"%E2%80%8E4_Gharar_dalam_waktu_serah-terima_%E2%80%8E\"><\/span>\u200e4. Gharar dalam waktu serah-terima \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Gharar juga berpotensi terjadi dalam waktu \u200eserahterima. Baik serah terima harga atau \u200ebarang\/jasa. \u200e<\/p>\n<p>Jual-beli yang dilakukan secara tidak tunai, harus \u200eada kejelasan dan kepastian terkait dengan waktu \u200epenyelesaian transaksinya. \u200e<\/p>\n<p>Hal ini dapat dipahami dari firman Allah \u200e\ufdfb\u200e surat \u200ealBaqarah ayat 282: \u200e<\/p>\n<p>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu \u200ebermu&#8217;amalah tidak secara tunai untuk waktu \u200eyang ditentukan, hendaklah kamu \u200emenuliskannya&#8230; (Q.S. al-Baqarah: 282) \u200e<br \/>\nDemikan juga tersirat dalam hadis Nabi tentang \u200ejual-beli salam berikut: \u200e<\/p>\n<p>Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, \u201cKatika Nabi \u200edatang ke Madinah, para sahabat terbiasa \u200emelakukan akad salam pada kurma dalam \u200ejangka waktu dua atau tiga tahun. Kemudian \u200eNabi berkata, \u201cBarang siapa yang melakukan \u200eakad salam pada sesuatu, maka hendaklah ia \u200emelakukannya dengan takaran yang jelas, berat \u200eyang jelas dan jangka waktu yang jelas.\u201d \u200e<\/p>\n<p>Gharar dalam waktu serah-terima ini juga terjadi \u200edi masa jahiliyah yang disebut dengan jual-beli \u200ehablul habalah. Salah satu penafsirannya adalah \u200ejual beli unta, yang mana uangnya baru dibayarkan \u200esetelah unta ini melahirkan anak, dan anak unta \u200eyang dilahirkan ini melahirkan anak. Sehingga \u200epembayarannya baru dilakukan setelah unta itu \u200emelahirkan dua generasi keturunannya. \u200e<\/p>\n<p>Jual-beli seperti ini kemudian dilarang oleh Nabi. \u200eSebab waktu pembayarannya yang mengandung \u200egharar atau ketidakpastian. Sebagaimana, \u200ediriwayatkan dari Ibnu Abbas berikut ini: \u200e<\/p>\n<p>Dari Ibnu Umar ia berkata: Dulu orang-orang \u200ejahiliyah melakukan jual-beli daging unta \u200esampai hablul habalah. Hablul habalah adalah \u200eketika unta melahirkan kemudian yang \u200edilahirkan itu mengandung. Kemudian \u200eRasulullah \u200e\ufdfa\u200e melarangnya. (H.R. Muslim) \u200e<\/p>\n<p>Sumber: Muhammad Abdul Wahab\u200e, Gharar dalam Transaksi Moderm, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2019<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200e1. Gharar dalam akad \u200e Gharar bisa terjadi dalam akad. Maksudnya \u200eadalah bentuk akad yang disepakati oleh kedua \u200ebelah pihak mengandung unsur ketidakpastian, ada \u200eklausulklausul&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22985","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22985","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22985"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22985\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}