{"id":22983,"date":"2021-09-02T22:13:40","date_gmt":"2021-09-02T15:13:40","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22983"},"modified":"2021-09-02T22:13:40","modified_gmt":"2021-09-02T15:13:40","slug":"dalil-keharaman-gharar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/dalil-keharaman-gharar\/","title":{"rendered":"Dalil Keharaman Gharar"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/dalil-keharaman-gharar\/#%E2%80%8E1_Ayat_al-Quran_%E2%80%8E\" >\u200e1. Ayat al-Quran \u200e<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/dalil-keharaman-gharar\/#%E2%80%8E2_Hadis_Nabi_%E2%80%8E\" >\u200e2. Hadis Nabi \u200e<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"%E2%80%8E1_Ayat_al-Quran_%E2%80%8E\"><\/span>\u200e1. Ayat al-Quran \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Wahai orang-orang yang beriman, janganlah \u200ekalian memakan harta-harta kalian di antara \u200ekalian dengan cara yang batil, kecuali dengan \u200eperdagangan yang kalian saling ridha. Dan \u200ejanganlah kalian membunuh diri-diri kalian, \u200esesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang \u200ekepada kalian. (Q.S. An-Nisa ayat 29) \u200e<\/p>\n<p>Ayat di atas tidak secara tegas melarang jual-beli \u200egharar. Akan tetapi ada dua poin terkandung \u200edalam ayat tersebut yang mengarah kepada \u200eharamnya gharar. \u200e<\/p>\n<p>Poin pertama, Allah SWT melarang memakan \u200eharta orang lain secara batil. Para ulama \u200emenjelaskan yang dimaksud dengan batil di sini di \u200eantaranya adalah transaksi-transaksi yang dilarang \u200eseperti mencuri, riba, judi, dan gharar.\u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Poin kedua, pada ayat di atas juga tersirat adanya \u200ekewajiban menghadirkan unsur saling ridha dalam \u200ejual-beli. Sedangkan gharar menghilangkan unsur \u200esaling ridha tersbut, sebab gharar menimbulkan \u200epotensi adanya pihak yang merasa dirugikan. \u200eSehingga gharar termasuk jual-beli yang terlarang. \u200e<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"%E2%80%8E2_Hadis_Nabi_%E2%80%8E\"><\/span>\u200e2. Hadis Nabi \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, \u201cRasulullah \u200e\ufdfa\u200e \u200emelarang jual beli kerikil dan jual beli gharar.\u201d \u200e\u200e(H.R. Muslim) \u200e<\/p>\n<p>Jual-beli kerikil yang disebut dalam hadis di atas \u200ememiliki beberapa penafsiran, di antaranya bahwa \u200eyang dimaksud adalah praktik di zaman jahiliyah di \u200emana orang menjual tanah dengan cara \u200emelemparkan kerikil. Sejauh lemparan kerikil itulah \u200eluas tanah yang dijual. \u200e<\/p>\n<p>Penafsiran yang lain yang dimaksud dengan \u200ejualbeli kerikil dalam hadis adalah jual-beli dengan \u200ecara meletakkan beberapa barang, kemudian \u200epembeli melemparkan kerikil ke arah barang-\u200ebarang itu. \u200e<\/p>\n<p>Barang yang terkena lemparan kerikil itulah yang \u200edidapat oleh pembeli.\u200e \u200e \u200e<br \/>\nDua jenis praktik jual-beli di atas terlarang sebab \u200emengandung gharar. Pembeli tidak punya \u200ekepastian berapa luas tanah dan barang apa yang \u200eakan didapatnya. \u200e<\/p>\n<p>Hadis kedua terkait larangan jual-beli gharar \u200eadalah sebagai berikut: \u200e<\/p>\n<p>Dari Abdullah bin Mas\u2019ud ia berkata, Rasulullah \u200e\ufdfa\u200e \u200ebersabda: \u201cJanganlah kalian membeli ikan yang \u200emasih di air, karena itu gharar.\u201d (H.R. Ahmad) \u200e<br \/>\nTerlarangnya jual-beli ikan di dalam air karena \u200emengandung gharar. Di mana tidak bisa dipastikan \u200eberapa ekor ikan yang akan didapat. Bahkan ada \u200ekemungkinan tidak dapat sama sekali. \u200e<\/p>\n<p>Ikan yang boleh dijual adalah ikan yang sudah \u200editangkap yang jelas keberadaannya, jelas \u200ekualitasnya, jelas berapa beratnya dan lain \u200esebagainya. \u200e<\/p>\n<p>Dari Imran bin Hushain, diriwayatkan secara \u200emarfu\u2019, bahwa Rasulullah \u200e\ufdfa\u200e melarang jual-beli \u200esusu hewan yang belum diperah, jual-beli janin \u200eyang masih dalam perut induknya, jual-beli ikan \u200eyang masih di air, jual-beli madhamin, malaqih, \u200ehablil habalah dan jual-beli gharar. \u200e<\/p>\n<p>Dalam hadis di atas Nabi Muhammad \u200e\ufdfa\u200e \u200emenyebutkan beberapa praktik jual-beli yang \u200eterlarang sebab praktik-praktik tersebut \u200emengandung unsur gharar (ketidakpastian). \u200eTermasuk jual-beli madhamin, malaqih dan hablil \u200ehabalah. \u200e<\/p>\n<p>Imam \u2018Abdurrazzaq menafsirkan bahwa yang \u200edimaksud madhamin dalam adalah sperma yang \u200eberada di tulang sumsum unta jantan, sedangkan \u200emalaqih adalah hewan yang masih berada di perut \u200einduknya. Adapun habalil habalah adalah anak unta \u200eyang masih dalam perut induknya. \u200e<\/p>\n<p>Madhamin yaitu seorang penjual mengawinkan \u200eunta jantannya dengan unta betina, maka anak \u200eunta yang dilahirkan oleh induknya (dari hasil \u200eperkawinan tersebut) akan menjadi milik pembeli \u200edengan harga sekian. \u200e<\/p>\n<p>Malaqih yaitu jual beli janin hewan yang masih \u200eberada dalam perut induknya. \u200e<br \/>\nPara ulama sepakat bahwa jual beli ini adalah \u200ebathil (tidak sah) karena mengandung unsur \u200egharar. \u200e<\/p>\n<p>Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, \u201cMereka \u200e\u200e(para ulama) telah sepakat bahwa jual beli \u200emadhamin dan malaqih tidak diperbolehkan. \u200eAlasannya ada dua hal: \u200e<br \/>\n\u200e1)\u200e Adanya ketidakjelasan hewan\/sperma yang \u200edijualbelikan, karena sifat serta hidup dan \u200ematinya tidak bisa diketahui secara pasti. \u200e<br \/>\n\u200e2)\u200e Hewan\/sperma ini tidak bisa diserahkan \u200ekepada si pembeli. \u200e<\/p>\n<p>Sumber: Muhammad Abdul Wahab\u200e, Gharar dalam Transaksi Moderm, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2019<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u200e1. Ayat al-Quran \u200e Wahai orang-orang yang beriman, janganlah \u200ekalian memakan harta-harta kalian di antara \u200ekalian dengan cara yang batil, kecuali dengan \u200eperdagangan yang kalian&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22983","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22983","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22983"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22983\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22983"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22983"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22983"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}