{"id":22977,"date":"2021-09-02T22:08:14","date_gmt":"2021-09-02T15:08:14","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22977"},"modified":"2021-09-02T22:08:14","modified_gmt":"2021-09-02T15:08:14","slug":"gharar-dalam-jual-beli-online","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/gharar-dalam-jual-beli-online\/","title":{"rendered":"Gharar dalam Jual Beli Online"},"content":{"rendered":"<p>Potensi gharar dalam jual-beli online ini cukup \u200ebesar. Sebab jual-beli dilakukan secara online, di \u200emana penjual dan pembeli tidak pernah bertemu \u200edan tidak saling kenal. \u200e<br \/>\nPembeli bisa jadi berada di ujung barat \u200eIndonesia, sedangkan penjualnya ada di ujung \u200etimur Indonesia. Bahkan penjual dan pembeli bisa \u200ejadi terpisah oleh batas negara, bahkan antar \u200ebenua. Ajaibnya, barang bisa sampai dengan utuh \u200eke halaman rumah kita. Padahal kita tidak pernah \u200etahu siapa penjualnya dan seperti apa wajahnya. \u200e<\/p>\n<p>Barangnya pun hanya bisa dilihat lewat foto yang \u200edi-upload oleh penjual. Sering kali foto dengan \u200ebarang aslinya tidak sesuai. Karena foto yang \u200edipajang bukan foto sebenarnya melainkan comot \u200edari google atau copas dan reupload dari lapak \u200epenjual yang lain. \u200e<br \/>\nKadang-kadang tidak jelas juga apakah \u200ebarangnya benar-benar ada atau fiktif. Sering kali \u200epenjual hanya ngaku-ngaku punya barang, \u200epadahal barangnya masih di toko. \u200e<\/p>\n<p>Kondisi seperti ini sangat riskan terjadi penipuan \u200edan adanya pihak-pihak yang dirugikan. Di tahun \u200e\u200e2017, berdasarkan hasil survei Kaspersky Lab di 26 \u200enegara, Indonesia merupakan salah satu negara \u200edengan korban penipuan online terbesar di dunia \u200edengan 26 persen konsumen pernah menjadi \u200ekorban.\u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Bahkan Berdasarkan data dari Kementerian \u200eKominfo, telah ada 16.678 laporan yang masuk per \u200e\u200e11 September 2018 di mana hampir 14.000 di \u200eantaranya merupakan tindak kejahatan berupa \u200epenipuan transaksi online.\u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Memang sebagian sistem marketplace yang ada \u200edi Indonesia sekarang sudah menggunakan sistem \u200epembayaran rekening bersama. Di mana \u200epembayaran yang dilakukan oleh pembeli tidak \u200elangsung diterima oleh penjual melainkan ditahan \u200edulu oleh pihak marketplace-nya. Baru setelah \u200ebarang diterima pembeli, dan pembeli konfirmasi \u200epenerimaan, uang akan ditransfer ke penjual. \u200e<\/p>\n<p>Sistem ini menawarkan transaksi yang aman \u200euntuk kedua belah pihak. Akan tetapi yang \u200enamanya modus penipuan tetap saja ada celahnya \u200ebagi oknum yang memang ingin menipu. Bahkan \u200ebukan hanya pembeli yang tertipu, penjual pun bisa \u200editipu oleh pembelinya sendiri. \u200e<\/p>\n<p>Sumber: Muhammad Abdul Wahab\u200e, Gharar dalam Transaksi Moderm, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2019<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Potensi gharar dalam jual-beli online ini cukup \u200ebesar. Sebab jual-beli dilakukan secara online, di \u200emana penjual dan pembeli tidak pernah bertemu \u200edan tidak saling kenal.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22977\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}