{"id":22972,"date":"2021-09-01T23:50:21","date_gmt":"2021-09-01T16:50:21","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22972"},"modified":"2021-09-01T23:50:21","modified_gmt":"2021-09-01T16:50:21","slug":"aurat-wanita-di-dalam-shalat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/aurat-wanita-di-dalam-shalat\/","title":{"rendered":"Aurat Wanita DI Dalam Shalat \u200e"},"content":{"rendered":"<p>Aurat wanita dalam shalat adalah seperti batasan \u200eaurat wanita di depan laki-laki ajnabi menurut \u200ejumhur ulama, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah \u200edan telapak tangan (mencakup perut dan punggung \u200etangan). Dalilnya adalah : \u200e<\/p>\n<p>Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah \u200edi setiap (memasuki) mesjid, makan dan \u200eminumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. \u200eSesungguhnya Allah \u200etidak menyukai orang-orang yang \u200eberlebihlebihan.(QS. Al-A\u2019raf: 31) \u200e<\/p>\n<p>Makna \u200e\u0632\u0650\u064a\u0646\u064e\u062a\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652\u200e artinya pakaian yang menutup \u200eaurat menurut jumhur, dan maksud ketika kalian \u200eingin memasuki masjid ditafsirkan ketika ingin \u200eshalat. Maka ketika seseorang ingin melaksanakan \u200eshalat dia harus mengenakan pakaian yang \u200emenutup seluruh auratnya. \u200e<br \/>\nDalil lainnya adalah hadis Nabi SAW: \u200e<\/p>\n<p>Tidak diterim oleh Allah Shalat Wanita yang \u200esudah haidh kecuali dengan mengenakan \u200ekhimar. (HR. \u200eDaud) \u200e<\/p>\n<p>Makna dari hadis di atas adalah menjadi syarat \u200esah shalat bagi wanita yang telah baligh adalah \u200emenutup aurat secara sempurna dengan \u200emengenakan pakaian yang dapat menutupi \u200etubuhnya secara keseluruhan kecuali bagian muka \u200edna kedua telapak tangan. \u200e<br \/>\nAl-Khatib Asy-Syirbini menjelaskan:\u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Wajah dan kedua telapak tangan wanita bukan \u200etermasuk aurat, akan tetapi keduanya termasuk \u200eanggota yang diharamkan untuk dilihat. \u200eSebagaimana yang disebutkan al-Mawardi dalam \u200ekitabnya bab shalat: \u201cBahwa wanita itu ada aurat \u200ebesar dan aurat kecil, dan auratnya di depan \u200elakilaki bukan mahram itu mencakup aurat besar \u200edan aurat kecil. Aurat besar wanita adalah selain \u200ewajah dan kedua telapak tangan, sementara \u200eauarat kecil adalah antara pusar dan lutut. \u200e<\/p>\n<p>Diwajibkan wanita menutup aurat besarnya di \u200edalam shalat dan di depan laki-laki yang bukan \u200emahramnya ataupun khuntsa. Sedangkan aurat \u200ekecil wajib dia tutup dari wanita-wanita, \u200emahrammahram, dan anak-anak kecil. \u200e<\/p>\n<p>As-Subki mengatakan dan pendapat paling kuat \u200emenurut ashab Asy-Syafi\u2019I bahwa wajah dan \u200ekedua telapak tangan adalah aurat untuk \u200edilihat, tetapi bukan aurat di dalam shalat. \u200e<br \/>\nAdapun menurut pendapat ulama Madzhab \u200e<\/p>\n<p>Hanafi aurat wanita di dalam shalat adalah selain \u200ewajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak \u200ekaki hingga mata kaki\u200f \u0651\u064e\u200f\u200e. ini merupakan pendapat \u200eyang paling kuat di dalam madzhab ini. Mereka \u200emenambahkan kedua kaki juga bukan bagian dari \u200eaurat, karena biasa terlihat atau nampak dari \u200ewanita. \u200e<\/p>\n<p>Sumber: Isnawati\u200e, Judul Buku \u200eAurat Wanita Muslimah, Jakarta: Rumah Fiqih Publishing, 2020<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aurat wanita dalam shalat adalah seperti batasan \u200eaurat wanita di depan laki-laki ajnabi menurut \u200ejumhur ulama, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah \u200edan telapak tangan (mencakup&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22972","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22972","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22972"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22972\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}