{"id":22964,"date":"2021-09-01T23:43:51","date_gmt":"2021-09-01T16:43:51","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22964"},"modified":"2021-09-01T23:43:51","modified_gmt":"2021-09-01T16:43:51","slug":"aurat-wanita-di-depan-suami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/aurat-wanita-di-depan-suami\/","title":{"rendered":"Aurat Wanita di Depan Suami"},"content":{"rendered":"<p>Terkait apakah ada batasan aurat wanita di \u200edepan suaminya sendiri, maka tidak ada terjadi \u200eperbedaan pendapat dikalangan ulama empat \u200emadzhab, bahwasanya diperbolehkan bagi suami \u200emelihat seluruh tubuh istrinya tanpa kecuali begitu \u200ejuga menyentuhnya. Antara keduanya tidak ada \u200ebatasan batasan aurat tidak berlaku antara seorang \u200ewanita dengan suaminya. \u200e<\/p>\n<p>\u200eBerdasarkan firman Allah SWT di dalam Al-Quran: \u200e<\/p>\n<p>Dan orang-orang yang memelihara \u200ekemaluannya (5), kecuali terhadap istri-istri \u200emereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; \u200emaka sesungguhnya mereka tidak tercela. (6) \u200eTetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, \u200edan sebagainya), maka mereka itulah orang-\u200eorang yang melampaui batas.(7) (QS. Al-\u200eMu\u2019minun: 5-7) \u200e<\/p>\n<p>Dalil lainnya adalah \u200e<\/p>\n<p>\u200e(Isteri-isteri kamu) mereka adalah pakaian \u200ebagimu, dan kamu pun menjadi pakaian bagi \u200emereka. (QS. Al-Baqarah : 187) \u200e<\/p>\n<p>Lafadz libasun lakum dimaknai oleh para \u200emufassir bahwa tubuh suami menjadi pakaian buat \u200eistrinya, sehingga di hadapan suaminya, dan \u200esebaliknya wanita adalah pakaian buat suaminya. \u200eAntara pakaian dan aurat yang ditutupi tidak ada \u200ebatasan atau jarak melainnya pakaian itu sendiri \u200ekiasan dari suami yang berfungsi sebagai pakaian, \u200eyang menutupi aurat wanitanya. Sehingga antara \u200ekeduanya tidak ada batasan. \u200e<\/p>\n<p>Tidak adanya batasan aurat antara suami istri \u200edikuatkan dengan hadits nabawi. Dasarnya adalah \u200eapa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan \u200eistrinya, Aisyah radhiyallahuanha, ketika mereka \u200emandi berdua. Hal itu diriwayatkan oleh Aisyah dal \u200eam hadits berikut ini :<\/p>\n<p>Aku pernah mandi bersama Nabi SAW dari satu \u200ewadah dan satu gayung. (HR. Bukhari dan \u200eMuslim) \u200e<\/p>\n<p>Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kekaknya \u200ebertanya,\u201dYa Rasulallah, tentang aurat kami, \u200eapa yang boleh dan apa yang tidak boleh?\u201d. \u200eRasulullah SAW menjawab,\u201dTutuplah auratmu \u200ekecuali \u200ekepada istrimu dan budakmu. (HR. Tirmizy) \u200e<\/p>\n<p>Kendati boleh bagi suami melihat keseluruh \u200etubuh istrinya tanpa batas, hanya saja mazhab \u200eAsySyafi\u2019iyah dan Al-Hanabilah memakruhkan \u200esuami melihat langsung ke kemaluan istrinya atau \u200esebaliknya, begitu juga Al-Hanafiyah mereka \u200eberpendapat bagian dari adab suami istri untuk \u200etidak melihat secara langsung kemaluan \u200emasingmasing. \u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Dasar dari makruhnya atau kurang beradabnya \u200emelihat kemaluan istri atau suami adalah hadits \u200eberikut ini : \u200e<\/p>\n<p>Bila kamu melakukan hubungan badan dengan \u200eistrimu maka gunakanlah penutup, janganlah \u200etelanjang bulat. (HR.Ibnu Majah) \u200e<\/p>\n<p>Aku pernah mandi bersama Nabi SAW dari satu \u200ewadah dan satu gayung. (HR. Bukhari dan \u200eMuslim) \u200e<\/p>\n<p>Sumber: Isnawati\u200e, Judul Buku \u200eAurat Wanita Muslimah, Jakrat: Rumah Fiqih Publishing, 2020<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terkait apakah ada batasan aurat wanita di \u200edepan suaminya sendiri, maka tidak ada terjadi \u200eperbedaan pendapat dikalangan ulama empat \u200emadzhab, bahwasanya diperbolehkan bagi suami \u200emelihat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22964","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22964","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22964"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22964\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22964"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22964"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22964"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}