{"id":22962,"date":"2021-09-01T23:41:45","date_gmt":"2021-09-01T16:41:45","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22962"},"modified":"2021-09-01T23:41:45","modified_gmt":"2021-09-01T16:41:45","slug":"aurat-wanita-di-depan-mahram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/aurat-wanita-di-depan-mahram\/","title":{"rendered":"Aurat Wanita di Depan Mahram"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/aurat-wanita-di-depan-mahram\/#1_Madzhab_Hanafi_%E2%80%8E\" >1. Madzhab Hanafi \u200e<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/aurat-wanita-di-depan-mahram\/#2_Madzhab_Maliki_%E2%80%8E\" >2. Madzhab Maliki \u200e<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/aurat-wanita-di-depan-mahram\/#3_Madzhab_Syafii_%E2%80%8E\" >3. Madzhab Syafi\u2019i \u200e<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/aurat-wanita-di-depan-mahram\/#4_Madzhab_Hambali_%E2%80%8E\" >4. Madzhab Hambali \u200e<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Madzhab_Hanafi_%E2%80%8E\"><\/span>1. Madzhab Hanafi \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Terkait aurat wanita di depan mahramnya, dalam \u200emadzhab Hanafi ini ada terjadi perbedaan \u200ependapat, dimana sebagiannya menyamakan aurat \u200ewanita muslimah di depan mahramnya seperti \u200eauratnya seorang laki-laki dengan laki-laki lainnya, \u200eyaitu hanya antara pusar dan lutut, selain antara \u200ekeduanya itu semuanya boleh terlihat. \u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Sementara sebagian lainnya menyatakan bahwa \u200eyang boleh terlihat dari wanita di depan \u200emahramnya hanya bagian-bagian yang biasa \u200enampak dan dipakaikan perhiasan, yaitu seperti \u200ekepala, leher, dada, lengan, betis dan kaki. \u200eSelainnya seperti perut, paha, punggung itu bukan \u200ebagian yang biasa nampak dan dipakaikan \u200eperhiasan, sehingga tidak boleh terlihat. \u200e<\/p>\n<p>Pendapat kedua ini berdasarkan firman Allah:<\/p>\n<p>Dan janganlah mereka menampakkan \u200eperhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari \u200e\u200e<br \/>\npadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan \u200ekain kudung ke dadanya, dan janganlah \u200emenampakkan perhiasannya, kecuali kepada \u200esuami mereka, atau ayah mereka, atau ayah \u200esuami mereka, atau putera\u2013putera mereka, atau \u200eputera\u2013putera suami mereka, atau \u200esaudarasaudara laki-laki mereka, atau putera-\u200eputera saudara laki-laki mereka, atau putera-\u200eputera saudara perempuan mereka\u2026(QS. An-\u200eNur: 31) \u200e<\/p>\n<p>Mereka menafsirkan makna dari menampakkan \u200eperhiasan itu adalah tempat yang disana dipakaikan \u200eperhiasan. Maka semua anggota tubuh yang biasa \u200ewanita pakaikan perhiasan disana, maka boleh \u200eterlihat bagian-bagian tersebut oleh mahramnya. \u200e \u200e \u200e<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Madzhab_Maliki_%E2%80%8E\"><\/span>2. Madzhab Maliki \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Madzhab Maliki berpendapat bahwa yang boleh \u200eterlihat dari wanita di depan mahramnya \u200eanggotaanggota yang biasa nampak ketika di \u200erumah seperti kepala, kaki, dan tangan. Selainnya \u200eseperti dada, perut, punggung dan paha tidak boleh \u200eterlihat. \u200e<br \/>\nAd-Dardir salah seorang ulama Malikiyah \u200emenyatakan: \u200e \u200e \u200e<br \/>\nAurat wanita di depan mahramnya selain wajah \u200edan athraf, yaitu seperti kepala, kedua tangan \u200edan kaki. Diharamkan baginya memperlihatkan \u200edada, payudara, dan lainnya di depan \u200emahramnya seperti ayahnya, meskipun \u200emelihatnya tanpa syahwat. \u200e<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Madzhab_Syafii_%E2%80%8E\"><\/span>3. Madzhab Syafi\u2019i \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Madzhab Syafi\u2019I dalam hal ini berpendapat \u200eseperti pendapat pertama kalangan Madzhab \u200eHanafi, bahwa aurat wanita di depan mahramnya \u200ehanya antara pusar dan lutut, selainnya boleh \u200eterlihat oleh mahramnya. Inilah pendapat yang \u200emasyhur di kalangan Madzhab Syafi\u2019i.<\/p>\n<p>Al-Khatib Asy-Syirbini menyebutkan: \u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Tidaklah seorang laki-laki melihat kepada mahram \u200ewanitanya, baik mahram karena nasab, \u200epersusuan ataupun pernikahan antara pusar dan \u200elutut. Bagian tersebut haram untuk melihatnya \u200esecara ijma\u2019, sedangkan melihat selainnya \u200edibolehkan selama tidak disertai syahwat. \u200e<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Madzhab_Hambali_%E2%80%8E\"><\/span>4. Madzhab Hambali \u200e<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pendapat yang masyhur di kalangan Madzhab \u200eHambali bahwa aurat wanita di depan mahramnya \u200eseluruh tubuhnya kecuali anggota-anggota yang \u200ebiasa nampak, tidak di tutupi kalau berpakaian di \u200erumah, seperti leher, kepala, tangan dan kaki, tidak \u200epada anggota-anggota yang biasanya tertutup atau \u200etidak terlihat. \u200e<\/p>\n<p>Ibnu Qudamah mneyebutkan dalam kitabnya \u200eAlMughni: \u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>\u200e Boleh bagi laki-laki melihat kepada mahramnya \u200ekepada anggota-anggota badan yang biasa \u200enampak pada umumnya seperti leher, kedua \u200etelapak tangan dan kedua tapak kaki, atau \u200eselainnya, dan tidak boleh kepada \u200eanggotaanggota yang ditutupi pada umumnya, \u200eseperti dada, punggung dan lainnya. \u200e<\/p>\n<p>Namun ada juga pendapat yang lain di dalam \u200eMadzhab Hambali bahwa aurat wanita di depan \u200emahrammnya hanya antara pusar dan lutut. Ini \u200emerupakan pendapat dari al-Qadhi Abu Ya\u2019la. \u200e<\/p>\n<p>Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa batasan \u200ebolehnya melihat bagian-bagian yang biasa nampak \u200eseperti kepala dan lainnya di atas berlaku bagi \u200ewanita di depan mahramnya yang muslim ataupun \u200ekerabatnya yang masih kafir. Dalilnya adalah Hadis \u200e<br \/>\nNabi: \u200e \u200e \u200e<\/p>\n<p>Bahwasanya Abu Sufyan datang ke Madinah \u200edan masih dalam kondisi musyrik menemui \u200eputerinya Ummu Habibah dan ketika itu Ummu \u200eHabibah melipat kasur Rasulullah agar Abu \u200eSufyan bisa duduk di atasnya, dan kondisi Ummu \u200eHabibah ketika itu tidak memakai hijab dna rasul \u200ejuga tidak menyuruhnya mengenakan hijab. \u200e<\/p>\n<p>Perlu diketahui, Ummu Habibah adalah salah \u200eseorang istri dari Rasulullah, puteri dari Abu Sufyan. \u200eNama asli beliau adalah Ramlah binti Abu Sufyan. \u200e<\/p>\n<p>Sumber: Isnawati\u200e, Judul Buku \u200eAurat Wanita Muslimah, Jakrat: Rumah Fiqih Publishing, 2020<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1. Madzhab Hanafi \u200e Terkait aurat wanita di depan mahramnya, dalam \u200emadzhab Hanafi ini ada terjadi perbedaan \u200ependapat, dimana sebagiannya menyamakan aurat \u200ewanita muslimah di&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22962","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22962","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22962"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22962\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}