{"id":22925,"date":"2021-08-29T20:52:47","date_gmt":"2021-08-29T13:52:47","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22925"},"modified":"2021-08-29T20:52:47","modified_gmt":"2021-08-29T13:52:47","slug":"pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/","title":{"rendered":"Pengertian Mahram, Dalil dan Pembagian Mahram"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Bahasa\" >Bahasa<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Istilah\" >Istilah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Dalil_Mahram\" >Dalil Mahram<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Pembagian_Mahram\" >Pembagian Mahram<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#a_Mahram_Karena_Nasab\" >a. Mahram Karena Nasab<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#b_Mahram_Karena_Pernikahan\" >b. Mahram Karena Pernikahan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#c_Mahram_Karena_Penyusuan\" >c. Mahram Karena Penyusuan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Air_Susu_Manusia_Wanita_Baligh\" >Air Susu Manusia Wanita Baligh<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Sampainya_Air_Susu_ke_dalam_Perut\" >Sampainya Air Susu ke dalam Perut<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Minimal_5_Kali_Penyusuan\" >Minimal 5 Kali Penyusuan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Sampai_Kenyang\" >Sampai Kenyang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-mahram-dalil-dan-pembagian-mahram\/#Maksimal_2_Tahun\" >Maksimal 2 Tahun<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bahasa\"><\/span>Bahasa<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Istilah mahram berasal dari makna haram, lawan kata halal. Artinya adalah sesuatu yang\u00a0 terlarang dan tidak boleh dilakukan.<\/p>\n<p>Di dalam kamus Al-Mu\u2019jam\u00a0 Al-Wasith disebutkan\u00a0 bahwa al-mahram itu\u00a0 adalah dzulhurmah (\u0630\u0648 \u0627\u0644\u062d\u0631\u0645\u0629) yaitu wanita yang haram dinikahi.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Istilah\"><\/span>Istilah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Sedangkan secara istilah di kalangan ulama fiqih, kata mahram di definisikan sebagai:<\/p>\n<p><em>Para wanita yang diharamkan untuk dinikahi secara permanen, baik karena faktor kerabat, penyusuan ataupun berbesanan.\u00a0 <\/em><\/p>\n<p>Perlu kita cermati kembali perbedaan kalimat mahram dan muhrim. Dalam keseharian banyak orang sering menyebut kata mahram ini sama makna nya dengan muhrim. Muhrim dalam bahasa<\/p>\n<p>Arab (\u0623\u062d\u064e\u0631\u0645 \u2013 \u064a\u062d\u0631\u0645 &#8211; \u0625\u062d\u0631\u0627\u0645\u0627) berarti orang yang sedang mengerjakan ibadah ihram (haji atau umrah).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dalil_Mahram\"><\/span>Dalil Mahram<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Al-Qur\u2019anul Kariem telah menyebutkan sebagian dari wanita yang haram dinikahi antara lain :<\/p>\n<p><em>Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudarasaudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anakanak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. <\/em><\/p>\n<p>Banyak sekali sebab-sebab yang menyebabkan seseorang bisa menjadi mahram kita atau mahram bagi orang lain. Beberapa mahram tersebut pun ada yang bersifat abadi selamanya dan ada pula yang bersifat sementara. Tiga diantaranya sudah disepakati oleh para ulama dan beberapa yang lain terjadi perbedaan pendapat diantara ulama.<\/p>\n<p>Dari ayat diatas dapat kita rinci beberapa kriteria orang yang haram dinikahi. Dan sekaligus juga menjadi orang yang boleh melihat bagian aurat tertentu dari wanita. Mereka adalah :<\/p>\n<ol>\n<li>Ibu kandung<\/li>\n<li>Anak-anakmu yang perempuan<\/li>\n<li>Saudara-saudaramu yang perempuan<\/li>\n<li>Saudara-saudara bapakmu yang perempuan 5. Saudara-saudara ibumu yang perempuan<\/li>\n<li>Anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang laki-laki<\/li>\n<li>Anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang perempuan<\/li>\n<li>Ibu-ibumu yang menyusui kamu<\/li>\n<li>Saudara perempuan sepersusuan<\/li>\n<li>Ibu-ibu istrimu anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri<\/li>\n<li>Istri-istri anak kandungmu<\/li>\n<\/ol>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pembagian_Mahram\"><\/span>Pembagian Mahram<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Berikutlah pembagian mahram yang bersifat abadi. Para ulama membaginya menjadi tiga kelompok.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Mahram_Karena_Nasab\"><\/span><a name=\"_Toc30285\"><\/a>a. Mahram Karena Nasab<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Mahram karena nasab ini merupakan salah satu mahram yang bersifat abadi. Maksudnya adalah pernikahan yang haram terjadi antara laki-laki dan perempuan untuk selamanya meski apapun yang terjadi antara keduanya.<\/p>\n<p>Seperti halnya seorang ibu yang haram menikahi anak kandungnya sendiri atau anak perempuan menikahi ayah kandungnya sendiri.<\/p>\n<p>Mahram karna nasab dari pihak wanita dapat kita rinci sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Ayah<\/li>\n<li>Anak laki-laki<\/li>\n<li>Saudara laki-laki<\/li>\n<li>Saudara ayah (paman)<\/li>\n<li>Saudara ibu (paman)<\/li>\n<li>Keponakan dari saudara laki-laki<\/li>\n<li>Keponakan dari saudari perempuan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Mahram karna nasab mungkin bias kita katakan sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan yang masih sati nasab atau satu keluarga. Akan tetapi perlu kita perhatikan kembali kata keluarga disini tidak mencakup seluruh keluarga, hanya sebagian saja. Maka selain mahram keluarga yang ditetapkan , dia tidak ada hubungan kemahraman.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Mahram_Karena_Pernikahan\"><\/span><a name=\"_Toc30286\"><\/a>b. Mahram Karena Pernikahan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Penyebab kemahraman abadi kedua adalah mushaharah atau akibat adanya pernikahan. Sehingga terjadi hubungan mertua menantu atau orang tua tiri.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah siapa saja mahram bagi wanita yang sudah menikah :<\/p>\n<ol>\n<li>Ayah dari suami<\/li>\n<li>Anak laki-laki dari suami (tiri)<\/li>\n<li>Suami dari anak laki-laki (menantu)<\/li>\n<li>Suami dari ibu mertua (ayah tiri)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dan kemahramannya berlaku selama-lamanya, meskipun wanita itu barangkali sudah tidak lagi menjadi menantu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"c_Mahram_Karena_Penyusuan\"><\/span><a name=\"_Toc30287\"><\/a>c. Mahram Karena Penyusuan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam mahram karena penyusuan ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sehingga menyebabkan terjadinya kemahraman. Maka tidak semua \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 penyusuan \u00a0 dapat menyebabkan kemahraman. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Diantara \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 syarat-syarat \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 yang dikemukakan oleh para ulama ialah:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Air_Susu_Manusia_Wanita_Baligh\"><\/span>Air Susu Manusia Wanita Baligh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Seandainya yang diminum bukan air susu manusia, seperti air susu hewan atau susu formula, maka tidak akan menimbulkan kemahraman.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sampainya_Air_Susu_ke_dalam_Perut\"><\/span>Sampainya Air Susu ke dalam Perut<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Yang menjadi ukuran sebenarnya bukan bayi menghisap puting, melainkan bayi meminum air susu. Sehingga bila disusui namun tidak keluar air susunya, tidak termasuk ke dalam kategori penyusuan yang menimbulkan kemahraman.<\/p>\n<p>Sebaliknya, meski tidak melakukan penghisapan lewat putting susu, namun air susu ibu dimasukkan ke dalam botol dan dihisap oleh bayi atau diminumkan sehingga air susu ibu itu masuk ke dalam perut bayi, maka hal itu sudah termasuk penyusuan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Minimal_5_Kali_Penyusuan\"><\/span>Minimal 5 Kali Penyusuan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Para ulama sepakat bahwa bila seorang bayi menyusu pada wanita yang sama sebanyak 5 kali, meski tidak berturut-turut, maka penyusuan itu telah menimbulkan akibat kemahraman.<\/p>\n<p>Kalau baru sekali atau dua kali penyusuan saja, tentu belum mengakibatkan kemahraman. Ketentuan ini didasari oleh hadits yang diriwayatkan ibunda mukminin Aisyah radhiyallahuanha :<\/p>\n<p><em>Dahulu ada ayat yang diturunkan dengan lafadz :Sepuluh kali penyusuan telah mengharamkan. Kemudian ayat itu dihapus dan diganti dengan 5 kali penyusuan. Dan Rasulullah SAW wafat dalam keadaan para wanita menyusui seperti itu. (HR. Muslim)\u00a0 <\/em><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sampai_Kenyang\"><\/span>Sampai Kenyang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Hitungan satu kali penyusuan bukanlah berapa kali bayi mengisap atau menyedot air susu, namun yang dijadikan hitungan untuk satu kali penyusuan adalah bayi menyusu hingga kenyang. Biasanya kenyangnya bayi ditandai dengan tidur pulas.<\/p>\n<p>Ada pun bila bayi melepas puting sebentar lalu menghisapnya lagi, tidak dianggap dua kali penyusuan, tetapi dihitung satu kali saja. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW :<\/p>\n<p><em>Penyusuan itu karena lapar (HR. Bukhari dan Muslim)\u00a0\u00a0 <\/em><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Maksimal_2_Tahun\"><\/span>Maksimal 2 Tahun<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Hanya bayi yang belum berusia dua tahun saja yang menimbulkan kemahraman. Sedangkan bila bayi yang menyusu itu sudah lewat usia dua tahun, maka tidak menimbulkan kemahraman.<\/p>\n<p>Dalilnya adalah firman Allah SWT ;<\/p>\n<p><em>Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS. Al-Baqarah : 233)<\/em><\/p>\n<p>Berikut inilah rincian dari siapa saja yang menjadi mahram sepersusuan bila seorang bayi perempuan\u00a0 menyusu kepada ibu susu nya:<\/p>\n<ol>\n<li>Suami dari ibu yang menyusui<\/li>\n<li>Anak laki-laki dari wanita yang menyusui<\/li>\n<li>Saudara laki-laki dari ibu yang menyusui<\/li>\n<li>Ayah dari wanita yang menyusui<\/li>\n<li>Ayah dari suami wanita yang menyusui<\/li>\n<li>Saudara dari suami wanita yang menyusui<\/li>\n<li>Bayi laki-laki yang menyusu pada wanita yang sama<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Sumber<\/strong>: Nur Azizah Pulungan, Apakah Zina Menyebabkan Kemahraman? Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2018<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Istilah mahram berasal dari makna haram, lawan kata halal. Artinya adalah sesuatu yang\u00a0 terlarang dan tidak boleh dilakukan. Di dalam kamus Al-Mu\u2019jam\u00a0 Al-Wasith disebutkan\u00a0&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22925","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22925","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22925"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22925\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22925"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22925"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22925"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}