{"id":22785,"date":"2021-08-18T22:51:33","date_gmt":"2021-08-18T15:51:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22785"},"modified":"2021-08-18T22:51:33","modified_gmt":"2021-08-18T15:51:33","slug":"cara-mengatasi-kesedihan-menurut-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-mengatasi-kesedihan-menurut-islam\/","title":{"rendered":"Cara Mengatasi Kesedihan Menurut Islam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ads17661575954137426790\">Kehidupan manusia tidak selamanya bahagia sehingga tidak lepas dari kesedihan, kesusahan, dan kesempitan. Setiap manusia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi dan mendapatkan obat kesedihan.<\/p>\n<p>Orang-orang beriman atau kaum Muslim memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan kesedihan, sesuai dengan tuntunan Islam.<\/p><\/div>\n<div><\/div>\n<div>Obat kesedihan menurut ajaran Islam antara lain sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Meyakini bahwa kesedihan dan kesusahan itu taqdir oleh Allah. Dengan keyakinan itu, maka tenanglah hati kita dan lapanglah dada kita.<\/p>\n<p>2. Berdo\u2019a dengan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi kesedihan. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Mas\u2019ud r.a. , Nabi Saw bersabda:<\/p>\n<p>\u201cTidaklah seorang hamba tertimpa kesusahan dan kesedihan kemudian dia berdo\u2019a<em>\u00a0&#8216;Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuanMu, ubun-ubunku di tangan-Mu, berlaku kepadaku hukum-Mu, adil atasku Qadha-Mu (keputusan-Mu), aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama-nama-Mu (yaitu) yang Engkau namakan diri Engkau dengan nama tersebut, atau yang Engkau turunkan di kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada kepada salah satu<\/em><\/div>\n<div class=\"iklan\"><\/div>\n<div id=\"ads27661575954137426790\">hambaMu, supaya Engkau menjadikan al-Qur\u2019an penyiram hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, penghilang kecemasan dan kegelisahan&#8230; kecuali Allah akan menghilangkan kesusahannya dan menggantinya dengan kesenangan.\u201d<\/p>\n<p>3. Sebagaimana dalam doa itu terkandung permintaan seorang hamba supaya Allah Ta\u2019ala menjadikan al-Qur\u2019an sebagai \u201cRabi\u2019\u201d bagi hatinya. Rabi\u2019 adalah air hujan, maka Nabi Saw menyerupakan menyerupakan al-Qur\u2019an dengan air hujan, karena sebagaimana air hujan menumbuhkan bumi, maka al-Qur\u2019an pun menghidupkan hati.<\/p>\n<p>Permintaan seorang hamba supaya Allah menjadikan al-Qur\u2019an penghilang kesedihannya, karena kalau kesedihan dihilangkan dengan al-Qur\u2019an, maka kesedihan tersebut tidak akan kembali.<\/p>\n<p>Kesedihan dan kesempitan hati tidak akan bisa dihilangkan kecuali dengan tauhid dan pemahaman yang benar tentang Allah dan dengan al-Qur\u2019an, yaitu dengan menjadikan al-Qur\u2019an sebagai petunjuk bagi hidup.<\/p>\n<p>4. Kita juga diharuskan untuk menjauhi sebab-sebab munculnya kesedihan dan kesempitan hati, yaitu dengan menjauhi sikap berpaling dari Al-Qur\u2019an sebagaimana firman Allah:<\/p>\n<p><i>\u201cDan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta\u201d<\/i>. (QS. Thaha:124).<br \/>\n<em><br \/>\n<\/em>Orang beriman pada dasarnya tidak boleh merasa lemah dan bersedih karena ia selalu bersama Allah SWT.<\/p>\n<p><i>&#8220;Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang beriman.&#8221;<\/i>\u00a0(QS. Ali Imran:139).\u00a0<em>Wallahu a\u2019lam.*<\/em><\/div>\n<div><\/div>\n<div>(*)<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kehidupan manusia tidak selamanya bahagia sehingga tidak lepas dari kesedihan, kesusahan, dan kesempitan. Setiap manusia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi dan mendapatkan obat kesedihan. Orang-orang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-22785","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22785","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22785"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22785\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22785"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22785"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22785"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}