{"id":22738,"date":"2021-08-18T14:45:15","date_gmt":"2021-08-18T07:45:15","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22738"},"modified":"2021-08-18T14:45:15","modified_gmt":"2021-08-18T07:45:15","slug":"hukum-bersalaman-dengan-non-mahram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-bersalaman-dengan-non-mahram\/","title":{"rendered":"Hukum Bersalaman Dengan Lawan Jenis"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-bersalaman-dengan-non-mahram\/#Kesepakatan\" >Kesepakatan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-bersalaman-dengan-non-mahram\/#Disepakati_Halal\" >Disepakati Halal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-bersalaman-dengan-non-mahram\/#Disepakati_Haram\" >Disepakati Haram<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-bersalaman-dengan-non-mahram\/#Perselisihan\" >Perselisihan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesepakatan\"><\/span>Kesepakatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sebelum membahas lebih jauh maalah bersalaman tangan antara muslim dan muslimah non-Mahram. Akan sangat baik sekali jika kita dahulukan pembahasan bahwa ada garis yang disepakati oleh ulama dalam masalah ini.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Disepakati_Halal\"><\/span>Disepakati Halal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Bersalaman antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya itu disepakati halal oleh ulama dan tidak ada perselisihan di dalamnya; yakni ketika bersalam di lakukan dalam satu kondisi; yakni dalam kondisi darurat.<\/p>\n<p>Darurat didefinisikan oleh Ali al-Jurjani (w. 816 H) dalam kitabnya <em>al-Ta\u2019rifat, <\/em>adalah:<\/p>\n<p><em>Sesuatu yang datang dan tidak bisa dicegah. <\/em><\/p>\n<p>al-Zarkasyi (w. 794 H) dalam kitabnya <em>al-Mantsur fi al-Qawaid al-Fiqhiyyah (2\/319)<\/em> menjelaskan definisi darurat:<\/p>\n<p><em>Darurat adalah sampainya seseorang pada kondisi dimana jika ia tidak melakukan hal tersebut (yang diharamkan), ia akan hancur (mati) atau mendekati kematian. Seperti orang yang terdesak untuk makan atau berpakaian, yang mana jika ia tetap kelaparan atau tetap telanjang, ia akan wafat, atau bisa saja menyebabkan hilang atau juga disfungsi salah satu anggota tubuhnya. Dalam kondisi ini, ia boleh melakukan sesuatu yang diharamkan.\u00a0 <\/em><\/p>\n<p>Darurat dalam masalah ini berarti bahwa bersalaman atau juga bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram itu mnejadi sesuatu yang sangat harus dilakukan, dan tidak boleh tidak. Sangat mendesak untuk dikerjakan. Karena kalau tidak, itu berakibat fatal bagi keselematan badan dan jiwanya.<\/p>\n<p>Seperti orang yang hanyut terbawa banjir, yang tidak mungkin bisa menyelamatkan diri kecuali ia harus berpegang kepada laki-laki di dekatnya yang bukan mahram.<\/p>\n<p>Begitu juga laki-laki petugas pemadam api yang tidak mungkin bisa menyelamatkan korban kebakaran kecuali harus ia gotong korban tersebut yang merupakan wanita yang bukan mahramnya.<\/p>\n<p>Termasuk darurat jika memang ada wanita yang harus diberikan penanangan medis segera, namum tidak ada ahli\u00a0 yang bisa mampu menanganinya kecuali ahli media berjenis kelamin laki-laki. Maka dalam hal ini tidak mengapa bersentuhan.<\/p>\n<p>Tentu sentuhan yang dibolehkan adalah sentuhan yang wajar. Sentuhan yang cukup untuk menghilangkan kemudharatan yang ada. Tidak lebih dari itu. Hanya sekedar menyelematkannya dari bahaya yang menimpa.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Disepakati_Haram\"><\/span><strong>Disepakati Haram <\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Di sisi lain, ulama juga bersepakat bahwa bersalaman antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu hukumnya haram, tak lagi bisa ditawar, jika memang di dalamnya ada fitnah dan juga dibarengi dorongan syahwat dari keduanya atau dari salah satu di antara keduanya.<\/p>\n<p>2 poin ini; fitnah dan juga syahwat yang timbul menjadi garis dan batasan. Di mana jika keduanya atau salah satunya ada, haramlah jadinya hukum bersalaman antara laki-laki dan wnaita yang bukan mahramnya.<\/p>\n<p><strong>Timbulnya Fitnah<\/strong><\/p>\n<p>Fitnah dalam banyak teks syariah sering muncul dengan makna yang berbeda-beda. Terkadang fitnah itu berarti musibah dan terkadang berarti juga sebagai ujian. Bahkan dalam satu ayat al-Quran (al-Anfal 39) fitnah itu berarti kekafiran.<\/p>\n<p>Dalam masalah ini, kami melihat makna yang cocok dalam masalah ini dan itu juga yang dipakai ulama adalah fitnah yang berarti keburukan, yang dalam bahasa Arab disebut <em>al-Fadhihah. <\/em>Makna ini juga disebutkan dalam al-Qur\u2019an surat al-Ma\u2019idah ayat 41:\u00a0 \u00a0\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a \u0631\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0651\u064e\u0644\u0651\u064e\u00a0 \u0641\u062a\u0652 \u0646 \u062a\u0647\u00a0 \u0641\u064e \u0644\u0646\u0652 \u062a\u064e\u064e\u0644\u0643\u064e \u0644\u0647\u00a0 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0644\u0650\u0651\u064e \u0634\u064e\u064a\u0652 \u0626\u0627<\/p>\n<p><em>Dan sesiapa yang dikehendaki Allah keburukan, sedikitpun engkau tidak akan bisa mneolaknya. <\/em><\/p>\n<p>Dan keburukan yang paling buruk bagi seorang muslim adalah jatuhnya ia ke dalam dosa dan maksiat kepada Allah. Itu berarti bahwa yang dikatakan bersalaman dan menimbulkan fitnah itu jika salamannya atau jabatannya bisa melahirkan dosa; seperti karena sebab bersalam jadi berlamalama saling berpandangan.<\/p>\n<p>Atau mungkin saja, karena terjadinya jabat tangan antar mereka berdua, menimbulkan omongan negative dari orang-orang yang melihatnya. Dan itu terlarang dalam syariah. Bukankah kita harus menghindari orang lain membicarakan kita.<\/p>\n<p><strong>Timbulnya Syahwat<\/strong><\/p>\n<p>Syahwat tentu tidak perlu diartikan terlalu dalam, karena semua orang tahu bahwa syahwat adalah kata untuk mengungkapkan keinginan besar yang memuncak pada diri seseorang terhadap sesuatu yang menyenangkan. Salah satunya adalah wanita.<\/p>\n<p>Itu berarti jika bersalaman yang terjadi didorong oleh nafsu pemenuhan syahwat ingin meraih dan menyentuh wanita yang diidamkan tersebut, tentu haramlah hukumnya.<\/p>\n<p>Atau bisa jadi, dorongan awalnya tanpa nafsu tapi dengan sentuhan itulah kemudian timbul syahwat dalam dirinya. Karena memang pasti berbeda, antara melihat saja dengan memegang dan menyentuh. Jika memang begitu, maka bersalaman menjadi haram. Dan itu kesepakatan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perselisihan\"><\/span><a name=\"_Toc70045\"><\/a>Perselisihan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bersalaman antara laki-laki dan wnaita yang bukan mahram menjadi diperselisihkan hukumnya jika memang salaman tersebut terbebas dari 3 hal yang sudah disebutkan di atas.<\/p>\n<ol>\n<li>Sentuhan dilakukan dalam kondisi darurat,<\/li>\n<li>Salamannya menimbulkan fitnah, dan<\/li>\n<li>Jabat tangan itu didorong oleh syahwat atau menimbulkan syahwat.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Jika bebas dari ketigal tersebut, di sini hukum bersalamn menjadi bias; bisa dikatakan haram. Tapi juga sangat mungkin dikatakan halal. Tergantung dari pandangan siapa yang melihat masalah tersebut.<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>: Ahmad Zarkasih, Benarkah Bersalaman Dengan Non-Mahram Itu Haram?, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2019<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kesepakatan Sebelum membahas lebih jauh maalah bersalaman tangan antara muslim dan muslimah non-Mahram. Akan sangat baik sekali jika kita dahulukan pembahasan bahwa ada garis yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22738","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22738","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22738"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22738\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22738"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22738"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22738"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}