{"id":22630,"date":"2021-08-17T12:10:00","date_gmt":"2021-08-17T05:10:00","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22630"},"modified":"2021-08-17T12:10:00","modified_gmt":"2021-08-17T05:10:00","slug":"rukun-jual-beli-salam-dan-istishna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-jual-beli-salam-dan-istishna\/","title":{"rendered":"Rukun Jual Beli Salam dan Istishna"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-jual-beli-salam-dan-istishna\/#1_Pelaku_Akad_Penjual_dan_Pembeli_yang_Cakap_Hukum\" >1. Pelaku Akad: Penjual dan Pembeli yang Cakap Hukum<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-jual-beli-salam-dan-istishna\/#2_Objek_Akad_Barang_yang_Dipertukarkan\" >2. Objek Akad: Barang yang Dipertukarkan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-jual-beli-salam-dan-istishna\/#3_Shighah_Ijab_dan_Qabul_sebagai_Simbol_Kesepakatan\" >3. Shighah: Ijab dan Qabul sebagai Simbol Kesepakatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-jual-beli-salam-dan-istishna\/#Penerapan_Jual_Beli_Salam_dan_Istishna_dalam_Transaksi_Modern\" >Penerapan Jual Beli Salam dan Istishna dalam Transaksi Modern<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-jual-beli-salam-dan-istishna\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Jual beli dalam hukum Islam dikenal dengan berbagai jenis akad, salah satunya adalah <em>akad salam<\/em> dan <em>akad istishna\u2019<\/em>. Kedua jenis akad ini pada dasarnya mengikuti prinsip dasar yang sama dengan jual beli biasa, namun terdapat perbedaan khusus terkait dengan objek transaksi dan cara pelaksanaannya. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai rukun jual beli salam dan istishna, komponen yang terlibat, serta bagaimana penerapannya dalam konteks transaksi modern.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Pelaku_Akad_Penjual_dan_Pembeli_yang_Cakap_Hukum\"><\/span>1. <strong>Pelaku Akad: Penjual dan Pembeli yang Cakap Hukum<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Rukun pertama dalam jual beli salam dan istishna adalah adanya pihak-pihak yang berakad, yaitu penjual dan pembeli. Kedua belah pihak ini harus memenuhi syarat tertentu untuk sahnya transaksi. Syarat yang paling utama adalah bahwa keduanya harus <em>cakap hukum<\/em>.<\/p>\n<p>Apa yang dimaksud dengan cakap hukum? Secara sederhana, kedua pihak yang bertransaksi harus memiliki kapasitas hukum yang cukup, yakni mereka harus berakal sehat dan mampu memahami serta melakukan transaksi dengan baik. Dalam konteks ini, penjual dan pembeli haruslah orang dewasa yang mengerti hak dan kewajiban masing-masing dalam transaksi, serta tidak ada paksaan atau penipuan dalam proses perjanjian.<\/p>\n<p>Di dalam transaksi jual beli salam dan istishna, keduanya diharuskan sepakat dan sadar akan segala ketentuan yang berlaku, baik itu harga barang, spesifikasi barang, waktu pengiriman, maupun mekanisme pembayaran.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Objek_Akad_Barang_yang_Dipertukarkan\"><\/span>2. <strong>Objek Akad: Barang yang Dipertukarkan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Rukun kedua dalam jual beli salam dan istishna adalah objek akad, yang pada dasarnya merujuk pada barang atau komoditas yang diperjualbelikan. Dalam hal ini, objek yang diperjualbelikan adalah uang dan barang, namun pada akad salam dan istishna, terdapat perbedaan dengan jual beli biasa.<\/p>\n<p>Pada akad salam, objek barang yang diperjualbelikan digantikan oleh sifat atau spesifikasi tertentu dari barang yang akan diserahkan di masa depan. Misalnya, dalam transaksi jual beli salam, pembeli membayar harga barang terlebih dahulu, namun barang tersebut akan diterima pada waktu yang telah disepakati di masa mendatang.<\/p>\n<p>Begitu pula dalam akad istishna, barang yang dipesan oleh pembeli juga tidak ada secara fisik pada saat akad dilakukan. Namun, yang dipertukarkan adalah sifat atau karakteristik barang yang akan diproduksi atau disediakan oleh penjual pada waktu tertentu. Contoh yang sering dijumpai adalah transaksi pembuatan rumah atau barang custom yang dipesan sebelumnya, di mana pembayaran dilakukan di awal, dan barang tersebut akan diterima setelah selesai diproduksi atau disiapkan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, pada kedua jenis akad ini, yang penting adalah kejelasan mengenai spesifikasi barang dan waktu penyerahannya, agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Shighah_Ijab_dan_Qabul_sebagai_Simbol_Kesepakatan\"><\/span>3. <strong>Shighah: Ijab dan Qabul sebagai Simbol Kesepakatan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Rukun ketiga yang tidak kalah penting adalah <em>shighah<\/em>, atau ungkapan ijab dan qabul. Dalam konteks transaksi jual beli, shighah berfungsi sebagai bentuk kesepakatan antara kedua belah pihak untuk melakukan transaksi. Shighah ini bisa disampaikan melalui lisan, tulisan, atau isyarat yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak untuk melaksanakan transaksi.<\/p>\n<p>Dalam hal ini, shighah menunjukkan dua hal: pertama, bahwa penjual menawarkan barang atau jasa yang dapat diterima oleh pembeli, dan kedua, bahwa pembeli menyetujui penawaran tersebut dengan ketentuan yang sudah disepakati sebelumnya. Pada jual beli salam atau istishna, proses ini bisa terjadi secara langsung atau melalui media komunikasi yang lebih modern, seperti aplikasi jual beli online.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, dalam transaksi jual beli online, shighah bisa terjadi saat penjual menawarkan barang dengan harga tertentu, misalnya &#8220;Barang ini harga sekian, ongkir sekian.&#8221; Pembeli kemudian memberikan respons, seperti &#8220;Baik, saya setuju.&#8221; Setelah itu, pembeli melakukan pembayaran sesuai dengan harga yang telah disepakati. Setelah transaksi uang dilakukan, penjual mengirimkan barang sesuai dengan kesepakatan, misalnya dalam beberapa hari atau minggu mendatang.<\/p>\n<p>Proses ini adalah bentuk penerapan shighah dalam jual beli modern, di mana kedua pihak saling bersepakat secara jelas dan tegas, baik secara lisan maupun tertulis.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penerapan_Jual_Beli_Salam_dan_Istishna_dalam_Transaksi_Modern\"><\/span>Penerapan Jual Beli Salam dan Istishna dalam Transaksi Modern<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam praktiknya, jual beli salam dan istishna banyak diterapkan dalam transaksi perdagangan modern, terutama dalam bidang e-commerce dan perdagangan barang pesanan khusus. Salah satu contoh paling umum adalah transaksi barang yang membutuhkan waktu untuk diproduksi atau disiapkan, seperti pembuatan rumah, pesanan alat elektronik, atau barang-barang custom lainnya.<\/p>\n<p>Penerapan jual beli salam dan istishna di dunia maya juga semakin berkembang dengan adanya berbagai platform perdagangan online. Pembeli dapat melakukan pembayaran terlebih dahulu untuk barang yang akan diproduksi atau disiapkan oleh penjual, sementara penjual akan mengirimkan barang tersebut sesuai dengan waktu yang telah disepakati.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Jual beli salam dan istishna merupakan bentuk transaksi yang sah dan diakui dalam hukum Islam, dengan syarat dan rukun yang sama dengan jual beli biasa, namun dengan perbedaan pada objek dan cara pelaksanaannya. Dalam jual beli salam dan istishna, pelaku akad harus cakap hukum, objek transaksi harus jelas dan disepakati, serta ada shighah yang menyatakan kesepakatan kedua belah pihak. Dengan pemahaman yang jelas tentang ketiga rukun ini, jual beli salam dan istishna dapat dijalankan dengan lancar, baik dalam transaksi konvensional maupun dalam transaksi digital atau e-commerce.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jual beli dalam hukum Islam dikenal dengan berbagai jenis akad, salah satunya adalah akad salam dan akad istishna\u2019. Kedua jenis akad ini pada dasarnya mengikuti&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"default","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22630","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22630","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22630"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22630\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22630"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22630"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22630"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}