{"id":22604,"date":"2021-08-16T18:51:56","date_gmt":"2021-08-16T11:51:56","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=22604"},"modified":"2021-08-16T18:51:56","modified_gmt":"2021-08-16T11:51:56","slug":"rukun-dan-syarat-akad","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/","title":{"rendered":"Rukun dan Syarat Akad"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#A_Rukun_Akad\" >A.\u00a0 Rukun Akad<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#1_Aqid_Orang_yang_Menyelenggarakan_Akad\" >1. Aqid (Orang yang Menyelenggarakan Akad)<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#Ahliyah\" >Ahliyah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#Wilayah\" >Wilayah<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#2_Maqud_%E2%80%98Alaih_objek_transaksi\" >2. Ma\u2019qud \u2018Alaih (objek transaksi)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#3_Shighat_yaitu_Ijab_dan_Qobul\" >3. Shighat, yaitu Ijab dan Qobul<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#B_Syarat_Akad\" >B. Syarat Akad<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#1_Syarat_terjadinya_akad\" >1. Syarat terjadinya akad<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#2_Syarat_Pelaksanaan_akad\" >2. Syarat Pelaksanaan akad<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rukun-dan-syarat-akad\/#3_Syarat_Kepastian_Akad_luzum\" >3. Syarat Kepastian Akad (luzum)<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"A_Rukun_Akad\"><\/span>A.\u00a0 Rukun Akad<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Aqid_Orang_yang_Menyelenggarakan_Akad\"><\/span>1. Aqid (Orang yang Menyelenggarakan Akad)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Aqid adalah pihak-pihak yang melakukan transaksi, atau orang yang memiliki hak dan yang akan diberi hak, seperti dalam hal jual beli mereka adalah penjual dan pembeli. Ulama fiqh memberikan persyaratan atau criteria yang harus dipenuhi oleh aqid antara lain :<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ahliyah\"><\/span>Ahliyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Keduanya memiliki kecakapan dan kepatutan untuk melakukan transaksi. Biasanya mereka akan memiliki ahliyah jika telah baligh atau mumayyiz dan berakal. Berakal disini adalah tidak gila sehingga mampu memahami ucapan orang-orang normal. Sedangkan mumayyiz disini artinya mampu membedakan antara baik dan buruk; antara yang berbahaya dan tidak berbahaya; dan antara merugikan dan menguntungkan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Wilayah\"><\/span>Wilayah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Wilayah bisa diartikan sebagai hak dan kewenangan seseorang yang mendapatkan legalitas syar\u2019i untuk melakukan transaksi atas suatu obyek tertentu. Artinya orang tersebut memang merupakan pemilik asli, wali atau wakil atas suatu obyek transaksi, sehingga ia memiliki hak dan otoritas untuk mentransaksikannya. Dan yang terpenting, orang yang melakukan akad harus bebas dari tekanan sehingga mampu mengekspresikan pilihannya secara bebas.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Maqud_%E2%80%98Alaih_objek_transaksi\"><\/span>2. Ma\u2019qud \u2018Alaih (objek transaksi)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ma\u2019qud \u2018Alaih harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :<br \/>\n\u2022 Obyek transaksi harus ada ketika akad atau kontrak sedang dilakukan.<br \/>\n\u2022 Obyek transaksi harus berupa mal mutaqawwim (harta yang diperbolehkan syara\u2019 untuk ditransaksikan) dan dimiliki penuh oleh pemiliknya.<br \/>\n\u2022 Obyek transaksi bisa diserahterimakan saat terjadinya akad, atau dimungkinkan dikemudian hari.<br \/>\n\u2022 Adanya kejelasan tentang obyek transaksi.<br \/>\n\u2022 Obyek transaksi harus suci, tidak terkena najis dan bukan barang najis.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Shighat_yaitu_Ijab_dan_Qobul\"><\/span>3. Shighat, yaitu Ijab dan Qobul<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ijab Qobul merupakan ungkapan yang menunjukkan kerelaan atau kesepakatan dua pihak yang melakukan kontrak atau akad. Definisi ijab menurut ulama Hanafiyah adalah penetapan perbuatan tertentu yang menunjukkan keridhaan yang diucapkan oleh orang pertama, baik yang menyerahkan maupun menerima, sedangkan qobul adalah orang yang berkata setelah orang yang mengucapkan ijab, yang menunjukkan keridhaan atas ucapan orang yang pertama. Menurut ulama selain Hanafiyah, ijab adalah pernyataan yang keluar dari orang yang menyerahkan benda, baik dikatakan oleh orang pertama atau kedua, sedangkan Qobul adalah pernyataan dari orang yang menerima.<\/p>\n<p>Dari dua pernyataan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa akad Ijab Qobul merupakan ungkapan antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi atau kontrak atas suatu hal yang dengan kesepakatan itu maka akan terjadi pemindahan ha kantar kedua pihak tersebut.<\/p>\n<p>Dalam ijab qobul terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, ulama fiqh menuliskannya sebagai berikut :<br \/>\na. adanya kejelasan maksud antara kedua belah pihak.<br \/>\nb. Adanya kesesuaian antara ijab dan qobul<br \/>\nc. Adanya pertemuan antara ijab dan qobul (berurutan dan menyambung).<br \/>\nd. Adanya satu majlis akad dan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, tidak menunjukkan penolakan dan pembatalan dari keduannya.<\/p>\n<p>Ijab Qobul akan dinyatakan batal apabila :<br \/>\na. penjual menarik kembali ucapannya sebelum terdapat qobul dari si pembeli.<br \/>\nb. Adanya penolakan ijab dari si pembeli.<br \/>\nc. Berakhirnya majlis akad. Jika kedua pihak belum ada kesepakatan, namun keduanya telah pisah dari majlis akad. Ijab dan qobul dianggap batal.<br \/>\nd. Kedua pihak atau salah satu, hilang ahliyah -nya sebelum terjadi kesepakatan<br \/>\ne. Rusaknya objek transaksi sebelum terjadinya qobul atau kesepakatan.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"B_Syarat_Akad\"><\/span>B. Syarat Akad<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Syarat_terjadinya_akad\"><\/span>1. Syarat terjadinya akad<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syarat terjadinya akad adalah segala sesuatu yang disyaratkan untuk terjadinya akad secara syara\u2019. Syarat ini terbagi menjadi dua bagian yakni umum dan khusus. Syarat akad yang bersifat umum adalah syarat\u2013syarat akad yang wajib sempurna wujudnya dalam berbagai akad. Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi dalam setiap akad adalah:<br \/>\na. Pelaku akad cakap bertindak (ahli).<br \/>\nb. Yang dujadikan objek akad dapat menerima hukumnya.<br \/>\nc. Akad itu diperbolehkan syara\u2019dilakukan oleh orang yang berhak melakukannya walaupun bukan aqid yang memiliki barang.<br \/>\nd. Akad dapat memberikan faidah sehingga tidak sah bila rahn dianggap imbangan amanah.<br \/>\ne. Ijab itu berjalan terus, tidak dicabut sebelum terjadi kabul. Oleh karenanya akad menjadi batal bila ijab dicabut kembali sebelum adanya kabul.<br \/>\nf. Ijab dan kabul harus bersambung, sehingga bila orang yang berijab berpisah sebelum adanya qabul, maka akad menjadi batal.<\/p>\n<p>Sedangkan syarat yang bersifat khusus adalah syarat-syarat yang wujudnya wajib ada dalam sebagian akad. Syarat ini juga sering disebut syarat idhafi(tambahan yang harus ada disamping syarat-syarat yang umum, seperti syarat adanya saksi dalam pernikahan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Syarat_Pelaksanaan_akad\"><\/span>2. Syarat Pelaksanaan akad<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam pelaksanaan akad, ada dua syarat yaitu kepemilikan dan kekuasaan. Kepemilikan adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang sehingga ia bebas beraktivitas dengan apa-apa yang dimilikinya sesuai dengan aturan syara\u2019. Adapun kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam ber-tasharuf sesuai dengan ketentuan syara\u2019.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Syarat_Kepastian_Akad_luzum\"><\/span>3. Syarat Kepastian Akad (luzum)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dasar dalam akad adalah kepastian. Seperti contoh dalam jual beli, seperti khiyar syarat, khiyar aib, dan lain-lain. Jika luzum Nampak maka akad batal atau dikembalikan.<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Dimyauddin Djuwaini.Pengantar Fiqh Muamalah.(Yogyakarta:Pustaka pelajar,2008)<\/li>\n<li>Rahmat Syafei. Fiqih Muamalah.(Bandung:Pustaka Setia,2006)<\/li>\n<li>Sa\u2019adi Abu Habieb, Ensiklopedi Ijmak, Jakarta: Pustaka Firdaus, cet. IV, 2009<\/li>\n<li>Ahmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawir,Surabaya: pustaka Progresif,cet 25 tahun 2002,<\/li>\n<li>Al-Munjid, Beirut: Daar Al-Masyriq<\/li>\n<li>Sayyid Sabiq, Fiqih sunnah, Beirut: Daar al-Fiqr,<\/li>\n<li>Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Jakarta: RajaGrafindo Persada<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A.\u00a0 Rukun Akad 1. Aqid (Orang yang Menyelenggarakan Akad) Aqid adalah pihak-pihak yang melakukan transaksi, atau orang yang memiliki hak dan yang akan diberi hak,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-22604","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22604","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22604"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22604\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22604"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22604"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22604"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}