{"id":21940,"date":"2021-05-03T00:00:29","date_gmt":"2021-05-02T17:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/hikmahislam.com\/?p=21940"},"modified":"2021-05-03T00:00:29","modified_gmt":"2021-05-02T17:00:29","slug":"perbedaaan-antara-ihya-al-lail-dan-qiyamul-lail","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbedaaan-antara-ihya-al-lail-dan-qiyamul-lail\/","title":{"rendered":"Perbedaaan Antara Ihya\u2019 al-Lail dan Qiyamul Lail"},"content":{"rendered":"<p>Di antara amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Ramadhan adalah ihya\u2019 al-lail bil \u2018ibadah atau menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.<\/p>\n<p>Bahkan amalan ini secara khusus dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut.<\/p>\n<p>Dari Aisyah \u2013 radhiyallahu \u2018anha -, ia berkata: \u201cBila telah memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan, Nabi &#8211; shallallaahu \u2018alaihi wa sallam &#8211; menghidupkan malam untuk ibadah, membangunkan keluarganya (istrinya), bersungguh-sungguh dalam ibadah dan menguatkan tali sarungnya (tidak berhubungan suami istri).\u201d (HR. Bukhari dan Muslim)<\/p>\n<p>Namun pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dengan ihya\u2019 al-lail? Dan apa perbedaannya dengan qiyamul lail?<\/p>\n<p>hya\u2019 al-lail secara bahasa bermakna menghidupkan (ihya\u2019) malam (al-lail). Maksudnya adalah menghidupkan malam dengan beragam ibadah.<\/p>\n<p>Tidak hanya terbatas pada ibadah shalat saja. Namun dapat pula berwujud ibadah-ibadah lainnya seperti membaca al-Qur\u2019an, dzikir, belajar ilmu, shadaqah dan lain-lain.<\/p>\n<p>Dalam al-Mausu\u2019ah al-Fiqhiyyyah al-Kuwaitiyyah disebutkan:<\/p>\n<p>Ihya\u2019 al-lail dilakukan pada setiap malam (bukan hanya malam Ramadhan) dan dapat berbentuk berbagai macam ibadah, bukan hanya khusus dalam bentuk shalat. (Kementrian Agama Kuwait, al-Mausu\u2019ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, (Kuwait: Dar as-Salasil, 1404), hlm. 27\/136.)<\/p>\n<p>Sedangkan, qiyamul lail secara bahasa bermakna berdiri (qiyam) di malam hari (al-lail) dalam rangkaian ritual ibadah shalat.<\/p>\n<p>Sebagaimana ihya\u2019 al-lail yang tidak terbatas pada ibadah shalat saja, qiyamul lail juga tidak terbatas pada jenis shalat tertentu saja.<\/p>\n<p>Namun setiap ibadah shalat yang dilakukan pada malam hari, semuanya terhitung qiyamul lail.<\/p>\n<p>Maka berdasarkan pengertian ini, qiyamul lail mencakup setiap shalat malam yang dimulai dari sejak terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar.<\/p>\n<p>Meliputi shalat fardhu maghrib dan isya\u2019. Shalat rawatib qobliyah dan ba\u2019diyyah maghrib isya\u2019.<\/p>\n<p>Shalat tarawih di bulan Ramadhan, shalat tahajjud, shalat witir dan shalat-shalat lainnya yang dilakukan di malam hari.<\/p>\n<p>Terkait kemuliaan qiyamul lail ini, Rasulullah &#8211; shallallaahu \u2018alaihi wa sallam &#8211; sampai menganjurkannya untuk dilakukan secara khusus pada malam-malam bulan Ramadhan sebagai wasilah untuk mendapatkan ampunan Allah swt.<\/p>\n<p>Dari Abu Hurairah &#8211; radliyallaahu \u2018anhu &#8211; bahwa Rasulullah &#8211; shallallaahu \u2018alaihi wa sallam &#8211; bersabda: \u201cBarangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap ridlo-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.\u201d (HR. Bukhari Muslim)<\/p>\n<p>Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa setiap shalat malam dapat disebut qiyamul lail. Dan qiyamul lail merupakan salah satu jenis ibadah dalam rangka melakukan ihya\u2019 al-lail.<\/p>\n<p>Namun tidak setiap ihya\u2019 al-lail mesti berwujud qiyamul lail. Sebab ihya\u2019 al-lail meliputi setiap ibadah shalat dan selain shalat.<\/p>\n<p>Di samping itu, jika shalat sunnah malamdilakukan setelah bangun dari tidur, maka shalat ini secara khusus disebut dengan shalat tahajjud.<\/p>\n<p>Dalam al-Mausu\u2019ah al-Fiqhiyyyah al-Kuwaitiyyah disebutkan:<\/p>\n<p>Shalat tahajjud menurut maoritas ulama adalah shalat sunnah di malam hari yang dilakukan setelah bangun dari tidur. Dan dapat dilakukan pada setiap malam. (Kementrian Agama Kuwait, al-Mausu\u2019ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, hlm. 27\/136.)<\/p>\n<p>Maka dapat diambil kesimpulan bahwa setiap shalat tahajjud adalah qiyamul lail. Sebagaimana setiap shalat tarawih adalah qiyamul lail.<\/p>\n<p>Tapi tidak setiap qiyamul lail adalah shalat tahajjud. Karena shalat tahajjud disyaratkan tidur terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Sebagaimana tidak setiap shalat tarawih adalah qiamul lail. Karena shalat tarawih hanya disyariatkan pada bulan Ramadhan saja.<\/p>\n<p>Sebagaimana setiap qiyamul lail adalah ihya\u2019 al-lail. Tapi tidak setiap ihya\u2019 al-lail adalah qiyyamul lail. Karena ihya\u2019al-lail tidak terbatas pada ibadah shalat saja.<\/p>\n<p><strong>Sumber:<\/strong><br \/>\nIsnan Ansory, Lc., M.Ag., I\u2019tikaf, Qiyam al-Lail, Shalat \u2019Ied dan Zakat al-Fithr di Tengah Wabah, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2020.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di antara amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Ramadhan adalah ihya\u2019 al-lail bil \u2018ibadah atau menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bahkan amalan ini secara khusus&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21941,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-21940","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21940","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21940"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21940\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21940"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21940"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21940"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}