{"id":21713,"date":"2021-05-01T20:13:32","date_gmt":"2021-05-01T13:13:32","guid":{"rendered":"https:\/\/hikmahislam.com\/?p=21713"},"modified":"2021-05-01T20:13:32","modified_gmt":"2021-05-01T13:13:32","slug":"kembali-berbuat-dosa-selepas-ramadhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kembali-berbuat-dosa-selepas-ramadhan\/","title":{"rendered":"Kembali Berbuat Dosa Selepas Ramadhan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kembali-berbuat-dosa-selepas-ramadhan\/#Tradisi\" >Tradisi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kembali-berbuat-dosa-selepas-ramadhan\/#Pintu_Neraka_Diuka_Pintu_Surga_Ditutup\" >Pintu Neraka Diuka Pintu Surga Ditutup<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kembali-berbuat-dosa-selepas-ramadhan\/#Belenggu_Setan_Dilepas\" >Belenggu Setan Dilepas<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kembali-berbuat-dosa-selepas-ramadhan\/#Seberapa_Efektif_Nilai_Pendidikan_Ramadhan\" >Seberapa Efektif Nilai Pendidikan Ramadhan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>[otw_shortcode_dropcap label=&#8221;D&#8221; background_color_class=&#8221;otw-green-background&#8221; size=&#8221;large&#8221; border_color_class=&#8221;otw-no-border-color&#8221;][\/otw_shortcode_dropcap]i antara tradisi yang paling bertentangan dengan syariat Islam adalah fenomena ramai-ramai kembali ke dalam jurang kemaksiatan dan dosa selepas bulan Ramadhan.<\/p>\n<p>Fenomena ini jelas-jelas sangat mengusik rasa keagamaan kita. Seolah-olah semua perbuatan yang haram dan maksiat itu hanya dilarang dilakukan selama bulan Ramadhan saja. Tetapi begitu bulan Ramadhan lewat, maka semua orang kembali lagi ke dalam lembah nista.<\/p>\n<p>Namun kalau kita lihat secara logika, memang godaan yang paling berat untuk menahan segala kemaksiatan justru bukan selama Bulan Ramadhan, tetapi justru tantangan paling berat itu terjadi pasca Ramadhan. Penyebabnya antara lain :<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tradisi\"><\/span>Tradisi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Alangkah konyolnya ketika persepsi keliru ini kemudian dianggap sebagai sebuah keyakinan atau kewajaran. Dan ironisnya, kejadian seperti ini nyaris dianggap tradisi yang tidak boleh dipungkiri.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pintu_Neraka_Diuka_Pintu_Surga_Ditutup\"><\/span>Pintu Neraka Diuka Pintu Surga Ditutup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Di dalam banyak hadits memang disebutkan bahwa bila datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka. Dan sebaliknya pintu-pintu neraka akan ditutup.<\/p>\n<p>\u201cKetika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu\u201d. (HR. Bukhari)<\/p>\n<p>Memang hadits di atas tidak menyebutkan bila selesai Ramadhan maka pintu surga akan ditutup dan pintu neraka akan dibuka lebar. Namun kalau kita menggunakan logika pemahaman terbalik (mafhum mukhalafah) dari hadits di atas, berarti begitu Ramadhan selesai, maka yang terjadi sebaliknya.<\/p>\n<p>Selesai Ramadhan maka pintu-pintu neraka akan kembali dibuka lebar. Sehingga kesempatan untuk masuk neraka akan kembali terbuka lebar juga. Caranya tentu dengan akan kembali maraknya berbagai kemaksiatan dilakukan orang selepas bulan Ramadhan.<\/p>\n<p>Dan sebaliknya, pintu-pintu surga akan ditutup, sehingga kesempatan untuk masuk surga jauh lebih sempit.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Belenggu_Setan_Dilepas\"><\/span>Belenggu Setan Dilepas<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Lanjutan dari hadits di atas adalah dengan datangnya bulan Ramadhan, maka setan dibelenggu .<\/p>\n<p>\u201c\u2026Dan setan-setan dibelenggu\u201d. (HR. Bukhari)<\/p>\n<p>Lepas dari perbedaan pendapat dalam tafsirannya, tetapi yang jelas pengertian terbaliknya (mafhum mukhalafah) adalah bila selesai Ramadhan, maka belenggu setan pun akan dilepas lagi.<\/p>\n<p>Maka begitu Ramadhan meninggalkan kita, setan akan segera menggelar pesta. Mereka jadi lebih leluasa berkeliaran kesana-kemari mencari mangsa dan membisiki manusia untuk kembali melakukan berbagai dosa dan kejahatan. Tujuannya jelas sekali, yaitu para korbannya itu dipastikan kalau mati masuk neraka, dan menemani setan di dalamnya. Naudzubillah min zalik.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Seberapa_Efektif_Nilai_Pendidikan_Ramadhan\"><\/span>Seberapa Efektif Nilai Pendidikan Ramadhan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Kalau sudah begini, lagi-lagi kita harus berpikir keras, selama ini begitu banyak pengajian dan kajian digelar di bulan Ramadhan, terus sejauh mana semua itu bisa mengubah cara hidup yang kurang sejalan dengan semangat Ramadhan dan Idul Fihtri ini?<\/p>\n<p>Semua perlu kita renungkan sekali lagi rasanya. Setidaknya kita perlu sadari, bahwa semua hiruk-pikuk ini malah tidak datang dari syariah agama, melainkan justru bagian dari tradisi dan gaya hidup yang terlanjur dianggap bagian dari agama.<\/p>\n<p>Maka alangkah baiknya ke depan, Ramadhan yang akan kita songsong bukan lagi Ramadhan yang hanya sekedar menjalankan ritual tradisi masa lalu. Namun sebaliknya, datangnya bulan Ramadhan kita sambut dengan berbagai macam perbaikan serta amal-amal yang berpijak pada ajaran syariah Islam yang asli.<\/p>\n<p>Bahkan momen Ramadhan tiap tahun seharusnya dijadikan wasilah (perantaraan) untuk bisa kembali kepada nilai-nilai original ajaran yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah SAW.<\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><br \/>\nAhmad Sarwat, Lc., MA., Ramadhan Antara Syariat dan Tradisi, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2020.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[otw_shortcode_dropcap label=&#8221;D&#8221; background_color_class=&#8221;otw-green-background&#8221; size=&#8221;large&#8221; border_color_class=&#8221;otw-no-border-color&#8221;][\/otw_shortcode_dropcap]i antara tradisi yang paling bertentangan dengan syariat Islam adalah fenomena ramai-ramai kembali ke dalam jurang kemaksiatan dan dosa selepas bulan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21714,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-21713","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21713","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21713"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21713\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21713"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21713"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21713"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}