{"id":21683,"date":"2021-05-01T19:10:35","date_gmt":"2021-05-01T12:10:35","guid":{"rendered":"https:\/\/hikmahislam.com\/?p=21683"},"modified":"2021-05-01T19:10:35","modified_gmt":"2021-05-01T12:10:35","slug":"hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/","title":{"rendered":"Hukum Islam Berkaitan Ahli Kitab (2)"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/#Menghadiri_Undangan_Makan_Mereka_dan_Menerima_Makanan_Mereka\" >Menghadiri Undangan Makan Mereka dan Menerima Makanan Mereka<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/#Menerima_Hadiah\" >Menerima Hadiah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/#Menengoknya_Ketika_Sakit\" >Menengoknya Ketika Sakit<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/#Melayat_Jenazahnya\" >Melayat Jenazahnya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/#Menziarahi_Kuburnya\" >Menziarahi Kuburnya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/#Tidak_Dikuburkan_di_Pemakaman_Muslim\" >Tidak Dikuburkan di Pemakaman Muslim<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-islam-berkaitan-ahli-kitab-2\/#Tidak_Mengawali_Mengucapkan_Salam\" >Tidak Mengawali Mengucapkan Salam<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menghadiri_Undangan_Makan_Mereka_dan_Menerima_Makanan_Mereka\"><\/span>Menghadiri Undangan Makan Mereka dan Menerima Makanan Mereka<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Dari Anas bahwasanya seorang yahudi mengundang Nabi shalallallahu alaihi wa sallam untuk makan roti dan ahalah (sejenis lauk) yang berubah baunya, maka beliau menerima undangan tersebut. (HR. Ahmad 3\/270, berkata Syu\u2019aib Al-Arnauth: Isnadnya shahih atas syarat Muslim).<\/p>\n<p>Bahwa ada seorang perempuan yahudi yang datang kepada Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam dengan membawa daging kambing yang diberi racun. Kemudian Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam memakannya. (HR. Bukhari)<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menerima_Hadiah\"><\/span>Menerima Hadiah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Allah berfirman,<\/p>\n<p>\u201cAllah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.\u201d (QS. Al-Mumtahanan: 8)<\/p>\n<p>Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari membuat judul bab:<\/p>\n<p>Bab: Bolehnya menerima hadiah dari orang musyrik (Al-Jami\u2019 As-Shahih, 3\/163).<\/p>\n<p>Selanjutnya, Imam Bukhari menyebutkan beberapa riwayat tentang menerima hadiah dari orang kafir. Berikut diantaranya,<\/p>\n<p>1. Riwayat dari Abu Huamid,<\/p>\n<p>Abu Humaid mengatakan, \u201cRaja Ailah menghadiahkan untuk Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam seekor bighal putih, beliau diberi selendang, dan kekuasaan daerah pesisir laut.<\/p>\n<p>2. Riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu \u2018anhu, beliau mengatakan,<\/p>\n<p>Bahwa Ukaidir Dumah (raja di daerah dekat tabuk) memberi hadiah kepada Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/p>\n<p>Bahkan dalam riwayat lain juga disebutkan hadiah itu diberikan ketika hari besar mereka.<\/p>\n<p>bnu Taimiyyah (w. 728 H) menceritakan:<\/p>\n<p>\u201cMenerima hadiah orang kafir pada hari raya mereka, telah ada dalilnya dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu\u2019anhu bahwa beliau mendapatkan hadiah pada hari raya Nairuz (perayaan tahun baru orang majusi), dan beliau menerimanya.\u201d (Ibnu Taimiyyah al-Harrani, Iqtidha\u2019 Shirat al-Mustaqim, juz 2, hal. 5)<\/p>\n<p>Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah radhiallahu\u2019anha, Kami memiliki seorang ibu susu beragama majusi. Ketika hari raya, mereka memberi hadiah kepada kami. Kemudian Aisyah menjelaskan, \u201cJika itu berupa hewan sembelihan hari raya maka jangan dimakan, tapi makanlah buah-buahannya.\u201d<\/p>\n<p>Dari Abu barzah, bahwa beliau memiliki sebuah rumah yang dikontrak orang majusi. Ketika hari raya Nairuz dan Mihrajan, mereka memberi hadiah. Kemudian Abu Barzah berpesan kepada keluarganya, \u201cJika berupa buah-buahan,makanlah. Selain itu, kembalikan.\u201d<\/p>\n<p>Semua riwayat ini menunjukkan bahwa ketika hari raya orang kafir, tidak ada larangan untuk menerima hadiah dari mereka. Hukum menerima ketika hari raya mereka dan di luar hari raya mereka, sama saja. Karena menerima hadiah tidak ada unsur membantu mereka dalam menyebar syiar agama mereka.<\/p>\n<p>Tentunya jika hadiah itu berupa barang yang memang halal secara dzatnya untuk orang Islam.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menengoknya_Ketika_Sakit\"><\/span>Menengoknya Ketika Sakit<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Ada seorang yahudi yang pernah melayani Nabi. Lantas dia sakit dan Nabi menengoknya.<\/p>\n<p>Dahulu ada seorang anak Yahudi yang membantu Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Suatu ketika si anak ini sakit. Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menengoknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, dan berkata : \u201cMasuklah ke dalam Islam\u201d.<\/p>\n<p>Anak tersebut memandang bapaknya yang hadir di dekatnya. Bapaknya berkata,\u201dPatuhilah (perkataan) Abul Qasim Shallallahu \u2018alaihi wa sallam ,\u201d maka anak itupun masuk Islam. Setelah itu Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam keluar seraya berkata : \u201cSegala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak itu dari siksa neraka\u201d. [HR Bukhari, 2\/94].<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Melayat_Jenazahnya\"><\/span>Melayat Jenazahnya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Dari Ali bin Abi Talib radhiyallahu \u2018anhu, bahwa ketika pamannya meninggal, dia datang melapor kepada Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam:<\/p>\n<p>Sesungguhnya pamanmu, si tua yang sesat telah mati.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam menasihatkan<\/p>\n<p>\u201cSegera kuburkan bapakmu.\u201d (HR. Abu Daud dan an-Nasai).<\/p>\n<p>Imam Nawawi dalam Raudhatu At-Thalibin 2\/145 mengatakan ;<\/p>\n<p>\u201cBoleh bagi seorang Muslim bertakziyah kepada orang kafir dzimmi tetangga dekatnya, maka yang dia ucapkan adalah ; \u201cSemoga Alloh mengganti untukmu serta tidak berkurang jumlahmu\u201d.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menziarahi_Kuburnya\"><\/span>Menziarahi Kuburnya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Fathul Wahhab karya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, bahwa berziarah ke kuburan orang non-Muslim itu diperbolehkan.<\/p>\n<p>\u201cBahwa berziarah ke kuburan orang-orang kafir itu mubah (diperbolehkan)\u201d. (Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab, (Bairut-Darul Kutub al-\u2018Ilmiyyah, 1418 H), juz, 1, hal. 176)<\/p>\n<p>Namun sepanjang berziarah kubur ke kuburan orang non-muslim dilakukan untuk mengingatkan kita akan kematian dan alam akhirat atau i\u2019tibar (pelajaran) dan peringatan kepada kita akan kematian.<\/p>\n<p>Jika menziarahi kuburan orang yang non-muslim saja diperbolehkan, maka logikanya adalah menziarahinya ketika masih hidup itu lebih utama (awla). Inilah yang kemudian ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim-nya. (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ala Shahihi Muslim, (Bairut-Daru Ihya`it Turats al-\u2018Arabi, cet ke-II, 1392 H), juz, VIII, h. 45)<\/p>\n<p>Tentu kebolehan ini dalam rangka mengingat akan kematian. Atau bagi seseorang yang memiliki kerabat atau orang tua yang mati dalam keaadaan non muslim.<\/p>\n<p>Saat berziarah juga tak disunnahkan mendoakan atau memintakan ampunan kepada Allah subhanahu wa ta\u2019ala.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tidak_Dikuburkan_di_Pemakaman_Muslim\"><\/span>Tidak Dikuburkan di Pemakaman Muslim<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Para ulama sepakat tak boleh orang kafir dikuburkan di pemakaman muslim, kecuali ada dharurat.<\/p>\n<p>Ulama sepakat, haram memakamkan muslim di kuburan orang kafir dan sebaliknya, kecuali karena darurat. (al-Mausu\u2019ah al-Fiqhiyah, 19\/21)<\/p>\n<p>Disebutkan dalam hadis dari Basyir \u2013 pembantu Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam \u2013 beliau bercerita,<\/p>\n<p><em>Ketika saya sedang berjalan bersama Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, kami melewati kuburan orang musyrikin. Lalu beliau bersabda,<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cMereka tertinggal untuk mendapatkan kebaikan yang banyak.\u201d Beliau ucapkan 3 kali.<\/em><\/p>\n<p><em>Kemudian beliau melewati kuburan kaum muslimin, kemudian beliau mengatakan,<\/em><\/p>\n<p><em>\u201cMereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak.\u201d (HR. Ahmad 20787, Abu Daud 3230 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).<\/em><\/p>\n<p>Berdasarkan hadis ini, ulama sepakat bahwa pemakaman kaum muslimin dan non-muslim harus dipisahkan. Kecuali jika dalam kondisi darurat.<\/p>\n<p>Imam an-Nawawi mengatakan:<\/p>\n<p>Ulama madzhab kami (syafi\u2019iyah) \u2013 rahimahumullah \u2013 sepakat bahwa orang islam tidak boleh dimakamkan di kuburan orang kafir, dan juga orang kafir tidak boleh dimakamkan di kuburan kaum muslimin. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu Syarh al-Muhadzab, juz 5, hal. 285)<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tidak_Mengawali_Mengucapkan_Salam\"><\/span>Tidak Mengawali Mengucapkan Salam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Janganlah memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang dari mereka, pepetlah ke tempat yang sempit. [HR Muslim, 7\/5]<\/p>\n<p><strong>Sumber:<\/strong><br \/>\nHanif Luthfi, Lc., MA., <em>Hukum Fiqih Seputar Ahli Kitab,<\/em> Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2018<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menghadiri Undangan Makan Mereka dan Menerima Makanan Mereka Dari Anas bahwasanya seorang yahudi mengundang Nabi shalallallahu alaihi wa sallam untuk makan roti dan ahalah (sejenis&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21681,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-21683","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21683","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21683"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21683\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21683"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21683"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21683"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}