{"id":21577,"date":"2021-04-30T20:14:23","date_gmt":"2021-04-30T13:14:23","guid":{"rendered":"https:\/\/hikmahislam.com\/?p=21577"},"modified":"2021-04-30T20:14:23","modified_gmt":"2021-04-30T13:14:23","slug":"hutang-ramadhan-vs-puasa-syawal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hutang-ramadhan-vs-puasa-syawal\/","title":{"rendered":"Hutang Ramadhan Vs Puasa Syawal"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hutang-ramadhan-vs-puasa-syawal\/#Boleh_Puasa_Sunnah_Walau_Punya_Hutang_Ramadhan\" >Boleh Puasa Sunnah Walau Punya Hutang Ramadhan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hutang-ramadhan-vs-puasa-syawal\/#Makruh_Puasa_Sunnah_Bagi_Yang_Punya_Hutang_Ramadhan\" >Makruh Puasa Sunnah Bagi Yang Punya Hutang Ramadhan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hutang-ramadhan-vs-puasa-syawal\/#Haram_Puasa_Sunnah_Bagi_Yang_Punya_Hutang_Ramadhan\" >Haram Puasa Sunnah Bagi Yang Punya Hutang Ramadhan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hutang-ramadhan-vs-puasa-syawal\/#Segerakan_Yang_Wajib\" >Segerakan Yang Wajib<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Bagi orang Indonesia kebanyakan yang memang sudah terbiasa dengan puasa 6 hari bulan syawal, sering muncul pertanyaan apakah boleh melakukan puasa sunnah 6 hari syawal sedang masih punya hutang Ramadhan yang belu dibayar?<\/p>\n<p>Memang dalam hal ini ulama 4 madzhab tidak pada satu suara; ada yang membolehkannya, ada juga yang membolehkannya namun makruh, dan ada juga yang melarangnya secara mutlak bahkan puasa sunnahnya tidak sah.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Boleh_Puasa_Sunnah_Walau_Punya_Hutang_Ramadhan\"><\/span>Boleh Puasa Sunnah Walau Punya Hutang Ramadhan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Pendapat pertama yang mengatakan bahwa boleh-boleh saja berpuasa sunnah walapun masih punya hutang Ramadhan yang belum terbayar atau terganti. Ini adalah pendapatnya madzhab al-Hanafiyah dan al-Syafi\u2019iiyah termasuk juga salah satu riwayat Imam Ahmad bin Hanbal.<\/p>\n<p>Pendapat ini didasarkan bahwa yang namanya qadha\u2019 Ramadhan itu hukumnya memang wajib, akan tetapi kewajiban qadha\u2019 Ramadhan itu sifatnya \u2018ala al-tarakhi [\u0639\u0644\u0649 \u0627\u0644\u062a\u0631\u0627\u062e\u064a] yang artinya boleh menunda. Kenapa boleh menunda?<\/p>\n<p>Karena waktu qadha\u2019 ramadhan itu panjang, sejak masuk bulan syawal sampai berakhirnya bulan sya\u2019ban di tahun selanjutnya. Artinya kewajiban qadha\u2019 Ramadhan itu bukan kewajiban yang sifatnya \u2018ala al-Faur [\u0639\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0641\u0648\u0631] (bersegera), akan tetapi boleh menunda karena waktunya panjang.<\/p>\n<p>Ini juga \u2013dalam ilmu ushul Fiqh- disebut dengan istilah wajib Muwassa\u2019 [\u0648\u0627\u062c\u0628 \u0645\u0648\u0633\u0639], yaitu kewajiban yang waktunya panjang. Dalam syariah, wajib muwassa\u2019 ini adalah kewajiban yang boleh ditinggalkan denagn syarat ada azam untuk melakukannya di kemudian hari sampai batas akhir waktunya. (Hasyiyah Ibn Abdin 1\/117, Asna al-Mathalib 1\/431, Tuhfatul-Muhtaj 3\/457, al-Mughni 3\/154-155)<\/p>\n<p>Seperti shalat 5 waktu; shalat zuhur misalnya. Waktu mulai wajib shalat zuhur itu (kebiasaan di Indonesia) sekitar pukul 12.00 sampai 15.30. Nah inilah waktunya shalat zuhur yang cukup panjang, yaitu sekitar 3 jam setengah. Seorang muslim boleh meninggalkan shalat zuhur di jam 12.00, dan dia tidak berdosa dengan syarat dia harus berazam mengerjakannya di waktu selanjutnya, mungkin di pukul 13.00 atau seterusnya, yang penting masih dalam waktu wajibnya itu yaitu 12.00 \u2013 15.30.<\/p>\n<p>Begitu juga Qadha puasa Ramadhan, yang memang waktunya terbentang panjang dari mulai masuknya bulan syawal sampai berkahirnya bulan sya\u2019ban. Artinya ada 11 bulan yang disiapkan Allah swt untuk membayar hutang-hutang Ramadhannya tersebut.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Makruh_Puasa_Sunnah_Bagi_Yang_Punya_Hutang_Ramadhan\"><\/span>Makruh Puasa Sunnah Bagi Yang Punya Hutang Ramadhan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Ini adalah pendapatnya Madzhab al-Malikiyah bahwa yang namanya berpuasa sunnah itu makruh hukumnya jika dilakukan oleh orang yang masih punya hutang Ramadhan. Artinya measih tetap boleh melakukan, dan sah puasanya, hanya saja akan jauh lebih baik dan lebih berpahal baginya jika ia mengerjakan yang wajib dulu, yaitu qadha\u2019 Ramadhan, bukan malah puasa sunnah yang memang hukumnya tidak bisa menandingi yang wajib.<\/p>\n<p>Kemakruhan tersebut ada karena memang ia menunda-nunda kewajiban yang memang sudah dibebankan kepadanya serta tidak menyegerakannya. Padahal sejatinya kewajiban itu harus disegerakan. (Hasyiyah al-Dusuqi 1\/518)<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Haram_Puasa_Sunnah_Bagi_Yang_Punya_Hutang_Ramadhan\"><\/span>Haram Puasa Sunnah Bagi Yang Punya Hutang Ramadhan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Ini pendapat yang dipegang oleh madzhab Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu kesunahan puasa Syawal hanya berlaku bagi mereka yang sudah melakukan puasa Ramadhan secara sempurna. Jadi, mereka yang masih punya hutang kewajiban Ramadhan, tidak ada kesunahan puasa sunnah, justru itu menjadi keharaman.<\/p>\n<p>Artinya orang yang berpuasa sunnah, baik itu syawal ataupun yang lainnya sedangkan ia masih punya hutang kewajiban Ramadhan, ia berdosa dan tidak sah puasa sunnahnya tersebut. Yang mesti dilakukan oleh mereka adalah menunaikan kewajibannya dahulu, yaitu membayar hutang puasa Ramadhannya.<\/p>\n<p>Ini didasarkan kepada hadits:<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang berpuasa sunnah sedangkan ia punya kewajiban Ramadhan yang belum ditunaikan, maka puasa terserbut tidak diterima sampai ia menunaikan kewajiban puasa ramadhannya\u201d (diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya)<\/p>\n<p>Namun hadits ini sendiri berstatus Matruk, yaitu salah satu bagian dari hadits dhaif. Karena itu tidak bisa berargumen dengan hadits ini kareka kedhaif-annya. Dan ini (dhaifnya hadits) diakui oleh para ulama madzhab al-Hanabilah dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Ibnu Qudamah (al-Mughnu 3\/154), dan juga Imam al-Buhuti (Kasyaful-Qina\u2019 2\/334).<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Segerakan_Yang_Wajib\"><\/span>Segerakan Yang Wajib<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Namun dari perbedaan pendapat yang ada, semua ulama sejagad raya ini dari kalangan 4 madzhab tersebut sepakat bahwa menyegerakan yang wajib itu sangat dianjurkan, dan menunda-nunda kewajiban itu bukanlah sifat orang muslim yang baik.<\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><br \/>\nAhmad Zarkasih, Lc., Yang Harus Diketahui Dari Puasa Syawal, Jakarta Selatan: Rumah Rumah Fiqih Publishing, 2020.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi orang Indonesia kebanyakan yang memang sudah terbiasa dengan puasa 6 hari bulan syawal, sering muncul pertanyaan apakah boleh melakukan puasa sunnah 6 hari syawal&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21550,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-21577","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21577","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21577"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21577\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}