{"id":21484,"date":"2021-04-30T14:41:23","date_gmt":"2021-04-30T07:41:23","guid":{"rendered":"https:\/\/hikmahislam.com\/?p=21484"},"modified":"2021-04-30T14:41:23","modified_gmt":"2021-04-30T07:41:23","slug":"macam-macam-iddah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-iddah\/","title":{"rendered":"Macam-Macam Iddah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-iddah\/#%E2%80%98Iddah_Berdasarkan_Quru\" >\u2018Iddah Berdasarkan Quru\u2019<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-iddah\/#1_Quru_Suci_Dari_Haid\" >1. Quru\u2019 (Suci Dari Haid)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/macam-macam-iddah\/#2_Quru_Haid\" >2. Quru\u2019 (Haid)<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Para \u2018ulama fiqih membagi \u2018iddah berdasarkan masanya dan jenisnya yang berbeda-berbeda menjadi tiga macam:<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"%E2%80%98Iddah_Berdasarkan_Quru\"><\/span>\u2018Iddah Berdasarkan Quru\u2019<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Para \u2018ulama fiqih dahulu atau modern sepakat bahwa seorang wanita merdeka atau hamba sahaya yang dicerai dan masih memiliki haid wajib baginya untuk beriddah dengan penghitungan quru\u2019.<\/p>\n<p>Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT:<\/p>\n<p>\u201c<em>wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru<\/em>\u2019(QS. Al-Baqarah: 228)<\/p>\n<p>Di dalam ayat ini Allah SWT memang tidak menyebut secara tegas istilah haidh atau suci dari haid, tetapi menyebut dengan istilah quru\u2019 (\u0642\u0631\u0648\u0621), yang merupakan bentuk jamak dari qur\u2019u (\u0642\u0631\u0621).<\/p>\n<p>Dalam hal ini memang ada ikhtilaf di kalangan ahli Bahasa dan mufassirin di dalam memahami ayat tersebut, yang berpengaruh kepada perbedaan pendapat para ulama di dalam memahami makna al-qur\u2019u ini.<\/p>\n<p>Para ahli bahasa menyebutkan kata al-qur\u2019u termasuk jenis kata yang punya makna ganda dan sekaligus bertentangan artinya dimana dalam ilmu ushul fikih masuk dalam pembahasan tersendiri yaitu bab al-musytarak.<\/p>\n<p>Menurut mereka al-qur\u2019u bermakna suci dari haidh, dan juga bermakna haidh itu sendiri. Perbedaan makna ini kemudian berpengaruh kepada pendapat dari para ulama, dalam menetapkan masa \u2018iddah wanita yang dicerai suaminya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Quru_Suci_Dari_Haid\"><\/span>1. Quru\u2019 (Suci Dari Haid)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dalam pandangan mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi\u2019iyah dan Al-Hanabilah dalam satu riwayatnya, al-qur\u2019u berarti ath-thuhru (\u0627\u0644\u0637\u0651\u064f\u0647\u0652\u0631). Maksudnya adalah masa suci dari haidh. Jadi tiga kali quru\u2019 artinya adalah tiga kali suci dari haidh. Berdasarkan dalil-dalil berikut ini:<\/p>\n<p>Dalil Pertama:<\/p>\n<p>\u201cHai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya.\u201d (QS. Ath-Thalaq:1)<\/p>\n<p>Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan lam dalam kalimat li\u2019iddatihinna bermakna fii sehingga yang dimaksud dari ayat ini adalah hendaknya para suami menthalaq (mencerai) istrinya pada masa yang wajar (pantas); masa mereka dapat menghadapi \u2018iddahnya yaitu ketika mereka dalam keadaan suci tidak dalam keadaan haidh, karena seluruh ulama telah sepakat bahwa mencerai istri dalam keadaan haidh hukumnya haram. (Imam Al-Qurthubi, Al-Jami\u2019 Li Ahkam Al-Qur\u2019an, 18\/153, 3\/115)<\/p>\n<p>Dalil Kedua:<\/p>\n<p>Rasulullah saw bersada:<\/p>\n<p>&#8220;Suruhlah dia (suami), hendaknya ia merujuk istrinya, kemudian hendaknya ia (suami) tinggalkan dia (istri) hingga ia suci, kemudian ia haidh kemudian ia suci lagi, kemudian jika ia (suami) mau, maka ia tahan dia setelah itu, dan jika ia mau, ia bisa mencerai istrinya sebelum ia menyentuhnya, demikian itulah \u2018iddah yang diperintahkan oleh Allah SWT terhadap suami yang mencerai istrinya.\u201d(HR.Bukhari dan Muslim).<\/p>\n<p>Ini adalah lafadz Muslim.<\/p>\n<p>Dalam hadits di atas Rasulullah saw mengisyaratkan ath-thuhru (suci) dan memberi tahu bahwasanya itulah masa yang pantas bagi seorang wanita dicerai dan kemudian melakukan \u2018iddah.<\/p>\n<p>Maka jelas di sini makna al-qur\u2019u adalah suci dari haidh, karena masih ada hubungannya dengan masa dimana diperbolehkannya seorang suami mencerai istrinya yaitu dalam keadaan suci bukan haidh.<\/p>\n<p>Jikalau seandainya yang dimaksud al-qur\u2019u adalah haidh niscaya mereka akan menghitung \u2018iddahnya wanita yang dicerai dalam keadaan haidh maka haidhnya itu terhitung satu quru\u2019 tapi mereka tidak menghitung \u2018iddahnya dengan haidh tersebut.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019I rahimahullah dalam kitabnya menguatkan pendapat ini bahwa yang dimaksud al-qur\u2019u ini adalah suci dari haid bukan makna haid. Dan beliau membaca \u201c fa tholliquuhunna\u201d adalah masa dimana seseorang wanita layak untuk dicerai yaitu dalam masa sucinya. Ketika seorang wanita dicerai dalam masa haidnya maka tertolak.<\/p>\n<p>Dalil Ketiga:<\/p>\n<p>Terdapat juga sebuah riwayat dari \u2018Aisyah radhiyallahu \u2018anha:<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya makna quru\u2019 itu adalah suci\u201d (Imam Malik, Al-Muwatha\u2019, 2\/577)<\/p>\n<p>Hadits di atas diriwayatkan oleh Malik dalam sebuah kisah dengan sanad yang shahih.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Quru_Haid\"><\/span>2. Quru\u2019 (Haid)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sedangkan menurut pandangan mayoritas \u2018ulama salaf (terdahulu) seperti Khulafa Rasyidin yang empat; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu \u2018anhum, Ibnu mas\u2019ud, dan sebagian besar golongan sahabat, tabi\u2019in dan para muhadditsin (ahli hadits), begitu juga menurut Al-Hanafiyah, dan Imam Ahmad bin Hanbal pada riwayat yang lain mengatakan al-qur\u2019u justru bermakna haidh, atau hari-hari dimana seorang wanita menjalani masa haidhnya.<\/p>\n<p>Imam Ibnul Qayyim berkata: bahwasanya makna al-qur\u2019u kembali kepada makna haidh. Dia tetapkan pendapatnya ini sehingga dia tidak mempunyai pendapat lain selain ini. (Imam Ibnu Qayyim Al- Jauziyah, Jami\u2019 Al-Fiqh, 6\/57)<\/p>\n<p>Berdasarkan dalil-dalil berikut ini:<\/p>\n<p><em><strong>Dalil Pertama<\/strong><\/em><\/p>\n<p>\u201cwanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru\u2019(QS. Al-Baqarah: 228)<\/p>\n<p>Dari ayat di atas, sesungguhnya Allah SWT menyuruh seorang wanita untuk ber\u2019iddah dengan tiga quru\u2019 (tiga kali haidh)<\/p>\n<p>Jikalau diartikan al-qur\u2019u itu suci dari haidh sebagaimana pendapat yang pertama, maka \u2018iddahnya seorang wanita terhitung dua kali suci dan yang ketiga hanya sebagian hari saja, karena ketika ia dicerai sudah dalam keadaan suci, dan saat itu sudah terhitung satu quru\u2019.<\/p>\n<p>Jika demikian berarti kita belum beramal sesuai perintah-Nya yang ada di dalam Al-Quran. Karena perintah \u2018iddah dengan tiga kali quru\u2019 belum dilaksanakan secara sempurna, beda halnya ketika makna al-qur\u2019u diartikan dengan haidh, maka jadilah \u2018iddah bagi seorang wanita itu tiga kali haidh secara sempurna karena ketika ia dicerai ia dalam keadaan suci. Sesungguhnya beramal sesuai dengan petunjuk nash lebih utama daripada harus menyelisihinya dengan pemahaman yang berbeda.<\/p>\n<p><em><strong>Dalil Kedua<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Diriwayatkan juga dari Ibnu Umar radhiyallahu \u2018anhu bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:<\/p>\n<p>\u201cThalaq terhadap budak wanita itu dua kali thalaq, dan masa \u2018iddahnya adalah dua kali haidh.\u201d(HR. Ibnu Majah)<\/p>\n<p>Telah dipahami bahwa tidak ada perbedaan \u2018iddah bagi seorang budak wanita dengan seorang wanita yang merdeka dari segi berakhirnya masa \u2018iddah.<\/p>\n<p>Perbedaan hanya terjadi pada jumlah masa \u2018iddahnya, kalau seorang budak (hamba sahaya) \u2018iddahnya hanya dua kali haidh, lebih sedikit masanya dibanding wanita merdeka yang masa \u2018iddahnya tiga kali haidh, tapi perbedaan inipun tidak akan merubah ketentuan \u2018iddah bagi masing-masing mereka; berakhirnya \u2018iddah bagi seorang budak wanita dua kali haidh dan seorang wanita merdeka tiga kali haidh.<\/p>\n<p><strong><em>Dalil Ketiga<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Lafadz quru\u2019 menurut syar\u2019i (agama) maknanya adalah haidh. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:<\/p>\n<p>\u201cTinggalkanlah shalat pada hari-hari haidhmu\u201d(HR.Abu Dawud)<\/p>\n<p>Nabi Saw pun pernah berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisy:<\/p>\n<p>\u201cPerhatikanlah apabila datang haidhmu, maka janganlah kamu shalat.\u201d (HR. Abu Dawud)<\/p>\n<p>nilah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa lafadz al-qur\u2019u artinya adalah haidh dalam lafadz bahasa arab. Oleh karena itu wajib membawa arti ini pada asal katanya.<\/p>\n<p>Dari segi rasio akal logika pun mengatakan sesungguhnya adanya kewajiban \u2018iddah itu ialah untuk mengetahui apakah ada janin pada rahim seorang wanita ataupun tidak, dan itu tidak dapat diketahui melainkan dengan melihat wanita itu haidh atau tidak, bukan dengan sucinya.<\/p>\n<p>Dari sini telah jelas bahwa \u2018iddah itu dihitung dengan haidhnya wanita bukan dengan sucinya.<\/p>\n<p>Sumber: Vivi Kurniawati, <em>Kupas Habis Hukum Iddah Wanita 2<\/em>, Rumah Fiqih Indonesia, 2019.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Para \u2018ulama fiqih membagi \u2018iddah berdasarkan masanya dan jenisnya yang berbeda-berbeda menjadi tiga macam: \u2018Iddah Berdasarkan Quru\u2019 Para \u2018ulama fiqih dahulu atau modern sepakat bahwa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21485,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-21484","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21484","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21484"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21484\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}