{"id":21411,"date":"2021-04-30T05:37:41","date_gmt":"2021-04-29T22:37:41","guid":{"rendered":"https:\/\/hikmahislam.com\/?p=21411"},"modified":"2021-04-30T05:37:41","modified_gmt":"2021-04-29T22:37:41","slug":"fitnah-dalam-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/fitnah-dalam-islam\/","title":{"rendered":"Fitnah dalam Islam"},"content":{"rendered":"<p>[otw_shortcode_dropcap label=&#8221;K&#8221; background_color_class=&#8221;otw-green-background&#8221; size=&#8221;large&#8221; border_color_class=&#8221;otw-no-border-color&#8221;][\/otw_shortcode_dropcap]ata fitnah (\u0627\u0644\u0641\u062a\u0646\u0629) berasal dari bahasa Arab fa-ta-na \u064fyang arti asalnya adalah \u064f\u0621\u064e\u0644\u0650\u062a\u0652\u0628\u0650\u0652\u0627\u0644 (cobaan), \u064f\u0627\u0646\u064e\u062d\u0650\u062a\u0652\u0645\u0650\u0652\u0627\u0644 (ujian), dan \u0627\u0631\u064e\u0628\u0650\u062a\u0652\u062e\u0650\u0652\u0627\u0644 (ujian). Kata fitnah dalam bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan makna asal dari bahasa Arab al-Quran.<\/p>\n<p>Di dalam al-Quran kata fitnah mengacu pada beberapa arti, seperti kemusyrikan [Q.S. al-Baqarah (2): 191, 193, 217], cobaan atau ujian [Q.S. Thaha (20): 40; al-\u2018Ankab\u016bt (29): 3], kebinasaan\/kematian [Q.S. al-Nis\u0101\u2019 (4): 101; Y\u016bsuf (12): 83], siksa atau azab [Q.S. Y\u016bnus (10): 83]; al-Na\u1e25l (16): 110], dan arti-arti lainnya yang merujuk pada pengertian kata fitnah.<\/p>\n<p>Kembali pada arti asal kata fitnah, peristiwa-peristiwa yang diberi label kata fitnah mengacu pada peristiwaperistiwa sosial bukan peristiwa alam.<\/p>\n<p>Fitnah diartikan sebagai sebuah peristiwa yang berasal dari hubungan antara manusia dengan manusia lainnya yang memunculkan dampak negatif baik berupa kematian, ketakutan, kesesatan dan kericuhan. Seperti yang disebutkan dalam hadis berikut ini:<\/p>\n<p><em>Dari Jabir bin \u2018Abdullah Al Anshari ia berkata: Seorang lakilaki datang dengan membawa dua unta yang baru saja diberinya minum saat malam sudah gelap gulita. Lakilaki itu kemudian tinggalkan untanya dan ikut shalat bersama Mu\u2019a\u017c. Dalam salatnya Mu\u2019a\u017c membaca surah alBaqarah atau surah An Nisaa\u2019 sehingga laki-laki tersebut meninggalkan Mu\u2019a\u017c. Maka sampailah kepadanya berita bahwa Mu\u2019a\u017c mengecam tindakannya. Akhirnya lakilaki tersebut mendatangi Nabi Saw. dan mengadukan persoalannya kepada beliau.Nabi Saw. lalu bersabda: \u201cWahai Mu\u2019a\u017c, apakah kamu membuat fitnah?<\/em>\u201d[HR Bukh\u0101ri].<\/p>\n<p>Kalau merujuk pada pengertian dari kata fitnah dalam al-Quran, maka kata tersebut sering berkonotasi negatif yang berupa kejadian yang menyedihkan dan menyengsarakan dan merupakan peristiwa sosial, baik fisik maupun non-fisik.<\/p>\n<p>Dengan memperhatikan makna fitnah, maka kadang-kadang persitiwa-peristiwa yang dirujuk oleh kata fitnah dalam alQuran dan hadis merupakan bentuk bencana bagi manusia. Meskipun demikian, kata fitnah sebagai ujian atau cobaan dapat juga berupa sesuatu yang baik, misalnya anak-anak dan istri sebagaimana firman Allah,<\/p>\n<p><em>Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar<\/em> [Q.S. al-Tagh\u0101bun (64): 15].<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>Berita Resmi Muhammadiyah, Fikih Kebencanaan, 2018<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[otw_shortcode_dropcap label=&#8221;K&#8221; background_color_class=&#8221;otw-green-background&#8221; size=&#8221;large&#8221; border_color_class=&#8221;otw-no-border-color&#8221;][\/otw_shortcode_dropcap]ata fitnah (\u0627\u0644\u0641\u062a\u0646\u0629) berasal dari bahasa Arab fa-ta-na \u064fyang arti asalnya adalah \u064f\u0621\u064e\u0644\u0650\u062a\u0652\u0628\u0650\u0652\u0627\u0644 (cobaan), \u064f\u0627\u0646\u064e\u062d\u0650\u062a\u0652\u0645\u0650\u0652\u0627\u0644 (ujian), dan \u0627\u0631\u064e\u0628\u0650\u062a\u0652\u062e\u0650\u0652\u0627\u0644 (ujian). Kata fitnah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":21412,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-21411","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21411","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21411"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21411\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21411"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21411"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21411"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}