{"id":1540,"date":"2023-06-20T02:11:06","date_gmt":"2023-06-20T02:11:06","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1540"},"modified":"2023-06-20T02:11:06","modified_gmt":"2023-06-20T02:11:06","slug":"ki-gede-ing-suro-pendiri-kerajaan-islam-di-palembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ki-gede-ing-suro-pendiri-kerajaan-islam-di-palembang\/","title":{"rendered":"Ki Gede Ing Suro: Pendiri Kerajaan Islam di Palembang"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ki-gede-ing-suro-pendiri-kerajaan-islam-di-palembang\/#Latar_Belakang\" >Latar Belakang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ki-gede-ing-suro-pendiri-kerajaan-islam-di-palembang\/#Pendiri_Kerajaan_Islam_Palembang\" >Pendiri Kerajaan Islam Palembang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ki-gede-ing-suro-pendiri-kerajaan-islam-di-palembang\/#Wafat_dan_Warisan\" >Wafat dan Warisan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Ki Gede Ing Suro adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Palembang. Dia adalah pendiri Kerajaan Islam Palembang yang kemudian menjadi Kesultanan Palembang Darussalam\u00b9. Dia juga merupakan putra dari Ki Gede Ing Lautan, salah satu dari 24 bangsawan asal Demak, Jawa Tengah, yang menyingkir ke Palembang setelah terjadi kekacauan di Kerajaan Demak\u00b9\u00b3.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang\"><\/span>Latar Belakang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ki Gede Ing Suro lahir di Demak pada abad ke-16. Ayahnya, Ki Gede Ing Lautan, adalah salah satu pengikut setia Raden Fatah, raja pertama Kerajaan Demak yang merupakan putra dari Brawijaya V, raja terakhir Majapahit\u00b3. Ki Gede Ing Lautan ikut berperang melawan Majapahit dan membantu penyebaran Islam di Jawa\u00b3.<\/p>\n<p>Namun, setelah Raden Fatah wafat pada tahun 1518, terjadi perebutan kekuasaan antara putra-putranya. Ki Gede Ing Lautan tidak setuju dengan pilihan raja baru yang bernama Trenggana dan memutuskan untuk meninggalkan Demak bersama 23 bangsawan lainnya\u00b3. Mereka berlayar ke arah timur dan akhirnya tiba di Palembang, sebuah kota pelabuhan yang pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya\u00b3.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendiri_Kerajaan_Islam_Palembang\"><\/span>Pendiri Kerajaan Islam Palembang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Di Palembang, Ki Gede Ing Lautan dan rombongannya disambut baik oleh penduduk setempat yang mayoritas beragama Hindu dan Buddha. Mereka berhasil membina hubungan baik dengan raja Palembang saat itu yang bernama Adityawarman\u00b3. Ki Gede Ing Lautan juga menikahi putri raja yang bernama Ratu Ayu Kencana Wungu dan memiliki seorang putra yang diberi nama Ki Gede Ing Suro\u00b3.<\/p>\n<p>Ki Gede Ing Suro tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, berani, dan taat beragama. Dia belajar banyak tentang Islam dari ayahnya dan juga dari para ulama yang datang dari Jawa dan Arab\u00b3. Dia juga aktif dalam menyebarkan Islam di Palembang dan sekitarnya dengan cara damai dan bijaksana\u00b9.<\/p>\n<p>Ketika ayahnya wafat pada tahun 1546, Ki Gede Ing Suro mewarisi jabatan sebagai adipati Palembang. Dia kemudian memperkuat kedudukannya dengan mengirim utusan ke Aceh untuk mengakui kedaulatannya sebagai raja Islam Palembang\u00b9. Dia juga membangun masjid pertama di Palembang yang bernama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1550\u2074.<\/p>\n<p>Ki Gede Ing Suro berhasil memimpin Palembang dengan baik dan menjalin hubungan dagang dengan berbagai negara seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Cina, India, dan lain-lain\u00b9. Dia juga mengembangkan budaya dan seni Islam di Palembang dengan mendirikan pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi\u00b9. Dia dikenal sebagai raja yang adil, bijaksana, dan murah hati\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Wafat_dan_Warisan\"><\/span>Wafat dan Warisan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ki Gede Ing Suro wafat pada tahun 1587 dan dimakamkan di sebuah kompleks pemakaman kuno di Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II Palembang\u00b9\u2074. Makamnya berada di bawah sebuah candi Hindu klasik tua yang diduga sudah ada sebelum masa Sriwijaya\u00b2. Kompleks pemakaman ini menjadi salah satu situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 2019\u2074.<\/p>\n<p>Ki Gede Ing Suro meninggalkan warisan yang besar bagi Palembang dan Indonesia. Dia adalah pendiri Kerajaan Islam Palembang yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam yang berdiri hingga tahun 1825\u00b9. Dia juga merupakan leluhur dari para sultan Palembang yang terkenal seperti Sultan Mahmud Badaruddin I, Sultan Agung, Sultan Mahmud Badaruddin II, dan lain-lain\u00b9. Dia juga dihormati sebagai salah satu wali songo atau sembilan wali yang menyebarkan Islam di Nusantara\u00b3.<\/p>\n<p>Ki Gede Ing Suro adalah salah satu tokoh sejarah yang patut dibanggakan dan diteladani. Dia adalah sosok yang berjasa dalam memperkenalkan dan mengembangkan Islam di Palembang dan sekitarnya. Dia juga adalah sosok yang berani, cerdas, dan berbudi luhur. Dia adalah Ki Gede Ing Suro, pendiri Kerajaan Islam di Palembang.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Mengenal Ki Gede Ing Suro Pendiri Kerajaan Islam di Bumi Wong &#8230; &#8211; Okezone. https:\/\/nasional.okezone.com\/read\/2022\/02\/16\/337\/2548321\/mengenal-ki-gede-ing-suro-pendiri-kerajaan-islam-di-bumi-wong-kito-galo.<br \/>\n(2) Makam Ki Gede Ing Suro di Palembang yang Kini Jadi Warisan Dunia. https:\/\/www.tribunnews.com\/travel\/2016\/06\/14\/makam-ki-gede-ing-suro-di-palembang-yang-kini-jadi-warisan-dunia.<br \/>\n(3) KI GEDE ING SURO &#8211; Tokoh Utama Kesultanan Palembang Darussalam. https:\/\/travelpalembang.co.id\/makam-ki-gede-ing-suro-palembang\/.<br \/>\n(4) Candi Hindu Klasik di Bawah Makam Ki Gede Ing Suro Palembang. https:\/\/www.kompas.id\/baca\/nusantara\/2021\/08\/24\/candi-hindu-klasik-di-bawah-makam-ki-gede-ing-suro-palembang\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ki Gede Ing Suro adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Palembang. Dia adalah pendiri Kerajaan Islam Palembang yang kemudian menjadi Kesultanan Palembang Darussalam\u00b9. Dia&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-1540","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1540","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1540"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1540\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1540"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1540"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1540"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}