{"id":1538,"date":"2023-06-20T02:09:35","date_gmt":"2023-06-20T02:09:35","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1538"},"modified":"2023-06-20T02:09:35","modified_gmt":"2023-06-20T02:09:35","slug":"sultan-mahmud-badaruddin-i-sultan-keempat-kesultanan-palembang-darussalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sultan-mahmud-badaruddin-i-sultan-keempat-kesultanan-palembang-darussalam\/","title":{"rendered":"Sultan Mahmud Badaruddin I: Sultan Keempat Kesultanan Palembang Darussalam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sultan-mahmud-badaruddin-i-sultan-keempat-kesultanan-palembang-darussalam\/#Latar_Belakang\" >Latar Belakang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sultan-mahmud-badaruddin-i-sultan-keempat-kesultanan-palembang-darussalam\/#Kebijakan_dan_Prestasi\" >Kebijakan dan Prestasi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sultan-mahmud-badaruddin-i-sultan-keempat-kesultanan-palembang-darussalam\/#Akhir_Hayat\" >Akhir Hayat<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I adalah sultan keempat dari Kesultanan Palembang Darussalam yang memerintah antara 1724-1757. \u00b9 Ia merupakan putra dari Sultan Muhammad Mansyur dan Nyimas Sunguk dari Negeri Kesultanan Jambi. \u00b9 Nama lengkapnya adalah Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, dan nama takhtanya adalah Sultan Mahmud Badaruddin I. \u00b9<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang\"><\/span>Latar Belakang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I naik tahta pada tahun 1724, menggantikan Sultan Agung Komaruddin yang wafat tanpa meninggalkan ahli waris. \u00b9 Pengangkatannya mengakhiri periode perebutan kekuasaan antar kerabat kerajaan yang telah berlangsung sejak wafatnya Sultan Abdurrahman pada tahun 1706. \u00b9<\/p>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I menghadapi tantangan dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang ingin menguasai perdagangan lada dan timah di Palembang. \u00b3 VOC juga mencoba mengintervensi urusan dalam negeri kesultanan, seperti menentukan siapa yang berhak menjadi sultan dan menuntut pajak dari rakyat Palembang. \u00b3<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kebijakan_dan_Prestasi\"><\/span>Kebijakan dan Prestasi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Salah satu kebijakan penting yang dilakukan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I adalah mengembangkan pertambangan timah di Pulau Bangka dan Belitung. \u00b9 Timah menjadi komoditas utama Palembang yang menggantikan peranan lada yang mulai menurun permintaannya di pasar internasional. \u00b9<\/p>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I berhasil memastikan kekuasaan Palembang atas Bangka dan Belitung sebagai penghasil timah, yang sebelumnya dikelola terutama oleh para penambang Bugis. \u00b9 Tahun 1731, dengan bantuan VOC ia mengalahkan pemberontakan orang Bugis di Bangka, dan sejak saat itu ia mendatangkan para penambang Tionghoa ke sana. \u00b9<\/p>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I sendiri menikahi peranakan Tionghoa sebagai salah seorang istrinya, dan juga menunjuk beberapa orang Tionghoa muslim sebagai pejabat urusan pertambangan timah di Bangka. \u00b2 Di akhir masa pemerintahannya, diperkirakan telah terdapat 25.000-30.000 orang Tionghoa yang menetap di Bangka. \u00b9<\/p>\n<p>Selain itu, Sultan Mahmud Badaruddin I juga memperluas pengaruh Palembang ke daerah-daerah lain di Sumatera Selatan, seperti Ogan, Komering, Musi Rawas, dan Lampung. \u00b3 Ia juga menjalin hubungan baik dengan para bangsawan, ulama, dan rakyat Palembang, serta bertukar-pikiran dengan mereka dalam menjalankan pemerintahannya. \u00b3<\/p>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I dianggap sebagai seorang sultan yang berhasil memerintah dengan baik dan bijaksana. \u00b3 Ia mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan kesultanan dan VOC, serta menghadapi persaingan dengan Inggris dan Bugis yang telah cukup menguat pula di belahan barat nusantara. \u00b3<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Akhir_Hayat\"><\/span>Akhir Hayat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I wafat pada tahun 1757 dan dimakamkan di komplek pemakaman Kawah Tengkurep, terletak di kawasan 3 Ilir, Palembang, yang dibangunnya sendiri sebagai tempat pemakaman bagi dirinya, sanak keluarga, serta para pejabat tinggi kesultanan. Beberapa sultan penerusnya ada pula yang dimakamkan di sana.<\/p>\n<p>Sultan Mahmud Badaruddin I digantikan oleh putranya, Sultan Ahmad Najamuddin I, yang melanjutkan kebijakan dan prestasi ayahnya dalam memajukan Kesultanan Palembang Darussalam.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Mahmud Badaruddin I &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Mahmud_Badaruddin_I.<br \/>\n(2) Sultan Mahmud Badaruddin II: Perjuangan dan Perang. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2021\/06\/23\/170000979\/sultan-mahmud-badaruddin-ii-perjuangan-dan-perang?page=all.<br \/>\n(3) Mahmud Badaruddin II dari Palembang &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia &#8230;. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Mahmud_Badaruddin_II_dari_Palembang.<br \/>\n(4) 7 Fakta Sultan Mahmud Badaruddin II, Pejuang Palembang yang Dilukis. https:\/\/sumsel.idntimes.com\/life\/inspiration\/feny-agustin\/7-fakta-sultan-mahmud-badaruddin-ii-pejuang-palembang-yang-dilukis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sultan Mahmud Badaruddin I adalah sultan keempat dari Kesultanan Palembang Darussalam yang memerintah antara 1724-1757. \u00b9 Ia merupakan putra dari Sultan Muhammad Mansyur dan Nyimas&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-1538","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1538","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1538"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1538\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}