{"id":1514,"date":"2023-06-19T10:16:37","date_gmt":"2023-06-19T10:16:37","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1514"},"modified":"2023-06-19T10:16:37","modified_gmt":"2023-06-19T10:16:37","slug":"tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-kalimantan-utara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-kalimantan-utara\/","title":{"rendered":"Tokoh-Tokoh Penyebar Agama Islam di Kalimantan Utara"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-kalimantan-utara\/#Alawy_bin_Syekh_Alkaff_Qatmyr_1837-1942\" >Alawy bin Syekh Alkaff Qatmyr (1837-1942)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-kalimantan-utara\/#Muhammad_bin_Abdullah_bin_Alwy_Al-Marzaq_1756-1796\" >Muhammad bin Abdullah bin Alwy Al-Marzaq (1756-1796)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-kalimantan-utara\/#Syeikh_Husein\" >Syeikh Husein<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-kalimantan-utara\/#Datuk_Ri_Bandang\" >Datuk Ri Bandang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-kalimantan-utara\/#Syekh_Muhammad_Arsyad_Al-Banjari_1710-1812\" >Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812)<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kalimantan Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Islam masuk ke wilayah ini sejak abad ke-16 melalui jalur perdagangan dan dakwah. Beberapa tokoh berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Kalimantan Utara, baik dari dalam maupun luar daerah. Berikut adalah beberapa tokoh penyebar agama Islam di Kalimantan Utara yang patut diketahui.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Alawy_bin_Syekh_Alkaff_Qatmyr_1837-1942\"><\/span>Alawy bin Syekh Alkaff Qatmyr (1837-1942)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Alawy bin Syekh Alkaff Qatmyr merupakan keturunan langsung dari Baginda Rasulullah Saw. Beliau adalah keturunan dari seorang ulama besar yakni Syekh bin Alwy Alkaff. Alawy bin Syekh Alkaff merupakan seorang ulama yang berasal dari Kota Tarim, Yaman. Dari Kota Tarim, Yaman beliau berangkat menuju Indonesia untuk menyebarkan syiar agama tepatnya di Kota Palembang\u00b9.<\/p>\n<p>Pada saat ia berdakwah tentunya tidak sedikit perlawanan dan kecaman datang silih berganti, baik dari kalangan masyarakat hingga pada masa periode masuknya pihak Belanda ke Indonesia. Namun, Usahanya untuk dapat menyiarkan Islam tetap terpatri di jiwanya. Setelah itu, beliau kemudian Hijrah menuju wilayah Indonesia bagian utara, yakni Kalimantan Utara. Beliau melanjutkan syiarnya di daerah Kabupaten (sekarang) Tana Tidung\u00b9.<\/p>\n<p>Kitab-kitab beliau amatlah banyak, namun, kitab beliau tidak tahu ke mana rimbanya. Bahkan, menurut kesaksian masyarakat dan murid-muridnya semasih hidup, beliau merupakan seorang ulama yang disegani dan ditakuti oleh para pihak Belanda pada masa itu. Di Kabupaten Tana Tidung-lah misi terakhirnya dalam menyebarkan syiar agama hingga beliau menutup mata dan wafat di sana\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Muhammad_bin_Abdullah_bin_Alwy_Al-Marzaq_1756-1796\"><\/span>Muhammad bin Abdullah bin Alwy Al-Marzaq (1756-1796)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Muhammad bin Abdullah bin Alwy Al-Marzaq adalah sosok seorang ulama yang alim dan bijaksana. Ia lahir pada tahun 1668 M di Kutai Kartanegara Kalimantan Timur (periode Kerajaan Kutai Kartanegara). Ayahnya Abdullah bin Alwy Al-Marzaq adalah seorang ulama yang mashur. Bahkan pada zaman dinasti Kerajaan Kutai Kartanegara ia diangkat sebagai penasehat kerajaan. Ibunya merupakan seorang adik dari Bangsawan Lamohang Daeng Mangkona (Kerajaan Bugis)\u00b2.<\/p>\n<p>Muhammad bin Abdullah bin Alwy Al-Marzaq memiliki misi syiar ke wilayah Kalimantan Timur bagian utara (Kalimantan Utara sekarang). Ia berdakwah di Kota Tarakan Kalimantan Utara. Ketika beliau berdakwah, tentunya mendapati perlawanan keras dari masyarakat yang tidak mau adanya agama. Namun, beliau berupaya keras untuk dapat menanamkan kalimat tauhid di hati setiap insan di bumi paguntaka. Dan akhirnya sedikit-demi sedikit masyarakat memegang teguh agama Islam\u00b2.<\/p>\n<p>Namun, tidak lepas dari itu, perlawanan dari para elit Belanda juga datang silih berganti padanya. Ia tetap berpendirian teguh untuk dapat menyebarkan syiar Islam hingga akhirnya ia menutup mata dan wafat di Kota Tarakan, tepatnya di samping Rumah Adat Tidung di Telaga Indor Kota Tarakan\u00b2.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syeikh_Husein\"><\/span>Syeikh Husein<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syeikh Husein adalah seorang pedakwah dari Jazirah Arab. Syeikh Husein menjadi penyebar Islam di wilayah Sukadana, Kalimantan Barat, pada sekitar akhir abad ke-16 di wilayah yang dipimpin oleh Giri Kesuma atau Panembahan Sorgi (1590-1609)\u00b3. Selain pengaruh Syeikh Husein, Islamisasi di Kalimantan Barat, termasuk wilayah Tanjungpura, dilakukan oleh pedagang dari Jawa dan Brunei Darussalam\u00b3.<\/p>\n<p>Syeikh Husein juga berperan dalam menyebarkan Islam ke wilayah Kalimantan Utara, khususnya di Kabupaten Bulungan. Beliau mendirikan sebuah pesantren di Desa Tanjung Palas, yang menjadi pusat pendidikan agama Islam di daerah tersebut. Beliau juga mengajarkan ilmu tasawuf dan akhlak kepada masyarakat setempat. Beliau dikenal sebagai ulama yang zuhud dan wara.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Datuk_Ri_Bandang\"><\/span>Datuk Ri Bandang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Datuk Ri Bandang adalah seorang ulama yang berasal dari Sulawesi Selatan. Beliau adalah murid dari Sunan Giri, salah satu Wali Songo yang berperan besar terhadap Islamisasi Jawa. Pada abad ke-16, beliau berdakwah ke wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kalimantan Utara sekarang. Beliau mendirikan sebuah kerajaan Islam bernama Kerajaan Kutai Kartanegara\u00b3.<\/p>\n<p>Beliau juga mengajarkan ilmu fiqih dan tafsir kepada masyarakat setempat. Beliau dikenal sebagai ulama yang berwibawa dan berilmu tinggi. Beliau juga memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Kalimantan, seperti Banjar dan Sambas. Beliau wafat pada tahun 1638 M dan dimakamkan di Desa Loa Kulu, Kutai Kartanegara\u00b3.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syekh_Muhammad_Arsyad_Al-Banjari_1710-1812\"><\/span>Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah seorang ulama besar yang berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan. Beliau adalah penulis kitab Sabilal Muhtadin, sebuah kitab fiqih yang menjadi rujukan utama bagi masyarakat Banjar dan sekitarnya. Beliau juga menulis kitab-kitab lain yang membahas tentang tauhid, tasawuf, tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu lainnya\u00b3.<\/p>\n<p>Beliau juga berperan dalam menyebarkan agama Islam ke wilayah Kalimantan Utara, khususnya di Kabupaten Malinau. Beliau mendirikan sebuah pesantren di Desa Sungai Bilah, yang menjadi pusat pendidikan agama Islam di daerah tersebut. Beliau juga mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat setempat dengan cara yang mudah dipahami. Beliau dikenal sebagai ulama yang arif dan bijaksana.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) 7 Tokoh Agama Berpengaruh di Kalimantan Utara &#8211; PAGUNPOST. https:\/\/www.pagunpost.com\/2016\/02\/7-tokoh-agama-berpengaruh-di-kalimantan.html.<br \/>\n(2) Proses Islamisasi di Kalimantan Halaman all &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2022\/03\/21\/130000979\/proses-islamisasi-di-kalimantan?page=all.<br \/>\n(3) Tokoh penyebar agama islam di pedalaman kalimantan. https:\/\/brainly.co.id\/tugas\/26809179.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalimantan Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Islam masuk ke wilayah ini sejak abad ke-16 melalui jalur perdagangan dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-1514","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1514"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1514\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}