{"id":1508,"date":"2023-06-19T10:01:34","date_gmt":"2023-06-19T10:01:34","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1508"},"modified":"2023-06-19T10:01:34","modified_gmt":"2023-06-19T10:01:34","slug":"sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan-tengah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan-tengah\/","title":{"rendered":"Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan Tengah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan-tengah\/#Proses_Masuknya_Islam\" >Proses Masuknya Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan-tengah\/#Dampak_Masuknya_Islam\" >Dampak Masuknya Islam<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"content text-message-content\" tabindex=\"0\" aria-hidden=\"true\">\n<p>Sebelum Islam masuk ke Kalimantan Tengah, daerah ini telah berhubungan dengan berbagai peradaban dan agama lain, seperti Hindu-Buddha, Animisme-Dinamisme, dan Kristen. Pada abad ke-14 hingga ke-16, Kalimantan Tengah termasuk dalam wilayah mandala Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Banjar yang beragama Hindu-Buddha. Pada masa ini, terdapat beberapa kerajaan lokal yang berdiri di daerah ini, seperti Kerajaan Kotawaringin, Kerajaan Tanjungpura, Kerajaan Kahayan, Kerajaan Katingan, dan Kerajaan Murung.<\/p>\n<p>Pada abad ke-16 hingga ke-17, terjadi perubahan besar di Nusantara akibat masuknya pengaruh Islam dan kolonialisme Eropa. Islam mulai menyebar ke berbagai daerah melalui jalur perdagangan dan dakwah. Sementara itu, Eropa mulai menjajah Nusantara dengan tujuan menguasai sumber daya alam dan pasar. Salah satu bangsa Eropa yang aktif menjajah Nusantara adalah Portugis yang beragama Kristen.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Proses_Masuknya_Islam\"><\/span>Proses Masuknya Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Islam masuk ke Kalimantan Tengah melalui beberapa jalur dan tahap. Salah satu jalur utama adalah melalui Kerajaan Banjar yang merupakan pusat penyebaran Islam di Kalimantan. Menurut sejarawan M. Atho Mudzhar\u00b2, ada tiga tahap perkembangan Islam di Banjar, yaitu:<\/p>\n<p>&#8211; Tahap pertama (abad ke-15 hingga awal abad ke-16), yaitu masa awal kedatangan Islam yang dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Jawa, Sumatera, Malaka, dan Arab. Pada masa ini, Islam masih bersifat individual dan belum menjadi agama resmi kerajaan.<\/p>\n<p>&#8211; Tahap kedua (pertengahan abad ke-16 hingga akhir abad ke-17), yaitu masa penerimaan Islam secara resmi oleh raja-raja Banjar dan penyebarannya ke daerah-daerah bawahannya. Pada masa ini, terjadi proses islamisasi yang melibatkan unsur politik, sosial, budaya, dan ekonomi.<\/p>\n<p>&#8211; Tahap ketiga (abad ke-18 hingga abad ke-19), yaitu masa perkembangan dan pemurnian ajaran Islam di Banjar yang dipengaruhi oleh gerakan reformasi Islam dari Timur Tengah dan Nusantara. Pada masa ini, terjadi pergeseran orientasi dari tasawuf (mistisisme) ke syariat (hukum).<\/p>\n<p>Dari Banjar, Islam kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Kalimantan Tengah melalui beberapa cara, antara lain:<\/p>\n<p>&#8211; Melalui hubungan politik dan pernikahan antara raja-raja Banjar dengan raja-raja lokal di Kalimantan Tengah. Misalnya, Ratu Kota Waringin yang merupakan putra Raja Maruhum Panambahan dari Banjar menikahi putri Dipati Ngganding dari Kotawaringin\u00b9. Dengan demikian, Kotawaringin menjadi kerajaan bawahan Banjar yang menganut Islam.<\/p>\n<p>&#8211; Melalui hubungan perdagangan dan sosial antara pedagang dan masyarakat Banjar dengan pedagang dan masyarakat lokal di Kalimantan Tengah. Misalnya, pedagang Banjar yang berdagang di sungai-sungai di Kalimantan Tengah, seperti Kahayan, Katingan, Sebangau, Mendawai, dan Sampit. Mereka membawa serta ajaran Islam dan berinteraksi dengan masyarakat setempat yang mayoritas beragama Animisme-Dinamisme.<\/p>\n<p>&#8211; Melalui dakwah dan pengajaran yang dilakukan oleh para ulama dan mubaligh dari Banjar dan daerah lain. Misalnya, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang merupakan ulama terkemuka dari Banjar yang menulis kitab Sabilal Muhtadin. Kitab ini menjadi rujukan utama dalam mempelajari ajaran Islam di Kalimantan. Selain itu, ada juga ulama-ulama lain yang berdakwah di Kalimantan Tengah, seperti Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Syekh Muhammad Zainuddin al-Makassari, dan Syekh Abdul Hamid Abulung.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_Masuknya_Islam\"><\/span>Dampak Masuknya Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Masuknya Islam ke Kalimantan Tengah membawa dampak bagi masyarakat setempat. Dampak positif antara lain:<\/p>\n<p>&#8211; Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tauhid (keesaan Allah) dan akhlak (moral) yang baik.<br \/>\n&#8211; Mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, seni, budaya, dan sastra yang bernuansa Islam. Misalnya, terciptanya karya-karya sastra seperti Hikayat Banjar dan Hikayat Kotawaringin yang mengisahkan sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.<br \/>\n&#8211; Mempererat hubungan persaudaraan dan kerjasama antara masyarakat Muslim di Kalimantan Tengah dengan masyarakat Muslim di daerah lain.<\/p>\n<p>Source:<br \/>\n(1) Proses Islamisasi di Kalimantan &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2022\/03\/21\/130000979\/proses-islamisasi-di-kalimantan.<br \/>\n(2) Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan Tengah &#8211; Blogger. https:\/\/mukaramah01.blogspot.com\/2016\/06\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan-tengah.html.<br \/>\n(3) Perkembangan Islam di Indonesia, Sejarah Awal hingga Masa &#8230; &#8211; detikcom. https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-5712586\/perkembangan-islam-di-indonesia-sejarah-awal-hingga-masa-wali-songo.<br \/>\n(4) Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan (Kerajaan Banjar). https:\/\/www.freedomsiana.id\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan-kerajaan-banjar\/.<br \/>\n(5) SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI KALIMANTAN \u2013 TELUSUR SEJARAH \u2013 belajar &#8230;. https:\/\/baguskurniawan8.wordpress.com\/2014\/06\/29\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan\/.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"hidden\" aria-live=\"polite\" aria-hidden=\"true\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum Islam masuk ke Kalimantan Tengah, daerah ini telah berhubungan dengan berbagai peradaban dan agama lain, seperti Hindu-Buddha, Animisme-Dinamisme, dan Kristen. Pada abad ke-14 hingga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-1508","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1508","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1508"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1508\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}