{"id":1472,"date":"2023-06-18T09:44:47","date_gmt":"2023-06-18T09:44:47","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1472"},"modified":"2023-06-18T09:44:47","modified_gmt":"2023-06-18T09:44:47","slug":"tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi-selatan\/","title":{"rendered":"Tokoh-Tokoh Penyebar Agama Islam di Sulawesi Selatan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi-selatan\/#Datuk_Ri_Tiro\" >Datuk Ri Tiro<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi-selatan\/#Datuk_Ri_Bandang\" >Datuk Ri Bandang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi-selatan\/#Datuk_Patimang\" >Datuk Patimang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi-selatan\/#Syekh_Yusuf\" >Syekh Yusuf<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi-selatan\/#Syekh_Abdul_Rauf_Singkel\" >Syekh Abdul Rauf Singkel<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Islam masuk ke Sulawesi Selatan sejak abad ke-16 melalui jalur perdagangan dan dakwah. Beberapa tokoh berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan, baik dari dalam maupun dari luar daerah tersebut. Artikel ini akan membahas tentang tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan, yaitu Datuk Ri Tiro, Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang, Syekh Yusuf, dan Syekh Abdul Rauf Singkel.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Datuk_Ri_Tiro\"><\/span>Datuk Ri Tiro<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Datuk Ri Tiro memiliki nama asli Nurdin Ariyani atau Abdul Jawad dan bergelar Khatib Bungsu\u00b9. Ia berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat, dan pernah belajar ilmu agama di Kesultanan Aceh\u00b9. Ia diutus oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan Islam ke Sulawesi Selatan bersama dengan dua kawanannya, yaitu Datuk Ri Bandang dan Datuk Patimang\u00b9\u00b2.<\/p>\n<p>Datuk Ri Tiro mendarat di Kedatuan Luwu lewat Teluk Bone dan kemudian berdakwah di wilayah selatan Sulawesi Selatan, yaitu Tiro, Bulukumba, Bantaeng, dan Tanete\u00b2\u2074. Ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut, seperti Kerajaan Tallo yang dipimpin oleh I Mallingkang Daeng Manyonri yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Abdullah Awwalul-Islam\u00b2.<\/p>\n<p>Datuk Ri Tiro wafat dan dimakamkan di Tiro atau sekarang Bonto Tiro, Bulukumba\u2074. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Datuk_Ri_Bandang\"><\/span>Datuk Ri Bandang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Datuk Ri Bandang memiliki nama asli Muhammad Arsyad al-Banjari dan bergelar Khatib Dayan\u00b9. Ia juga berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat, dan pernah belajar ilmu agama di Kesultanan Aceh\u00b9. Ia bersama dengan Datuk Ri Tiro dan Datuk Patimang ditugaskan oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan Islam ke Sulawesi Selatan\u00b9\u00b2.<\/p>\n<p>Datuk Ri Bandang berdakwah di wilayah utara Sulawesi Selatan, yaitu Gowa, Tallo, Maros, Pangkajene, Sidenreng Rappang, dan Wajo\u00b2. Ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut, seperti Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Alauddin\u00b2.<\/p>\n<p>Datuk Ri Bandang wafat dan dimakamkan di Gowa\u00b2. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Datuk_Patimang\"><\/span>Datuk Patimang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Datuk Patimang memiliki nama asli Muhammad Zainuddin atau Abdul Qadir dan bergelar Khatib Sambas\u00b9. Ia juga berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat, dan pernah belajar ilmu agama di Kesultanan Aceh\u00b9. Ia bersama dengan Datuk Ri Tiro dan Datuk Ri Bandang ditugaskan oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan Islam ke Sulawesi Selatan\u00b9\u00b2.<\/p>\n<p>Datuk Patimang berdakwah di wilayah timur Sulawesi Selatan, yaitu Bone, Soppeng, Barru, dan Pinrang\u00b2. Ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut, seperti Kerajaan Bone yang dipimpin oleh La Tenritatta Arung Palakka yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Ahmad al-Salih Syamsuddin\u00b2.<\/p>\n<p>Datuk Patimang wafat dan dimakamkan di Bone\u00b2. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syekh_Yusuf\"><\/span>Syekh Yusuf<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syekh Yusuf memiliki nama asli Yusuf bin Ali al-Maqassari dan bergelar Abu al-Mahasin\u00b9. Ia berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, dan merupakan keturunan dari raja Gowa ke-6, I Tunipalangga\u00b9. Ia belajar ilmu agama di berbagai tempat, seperti Aceh, Mekkah, Madinah, Yaman, Mesir, dan Turki\u00b9.<\/p>\n<p>Syekh Yusuf kembali ke Sulawesi Selatan pada tahun 1644 dan menjadi guru agama bagi raja Gowa ke-14, Sultan Hasanuddin\u00b9. Ia juga terlibat dalam perlawanan melawan Belanda yang mencoba menguasai wilayah Sulawesi Selatan. Ia ditangkap oleh Belanda pada tahun 1669 dan dibuang ke Sri Lanka, Afrika Selatan, dan Banten\u00b9.<\/p>\n<p>Syekh Yusuf wafat dan dimakamkan di Banten pada tahun 1699\u00b9. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syekh_Abdul_Rauf_Singkel\"><\/span>Syekh Abdul Rauf Singkel<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syekh Abdul Rauf Singkel adalah salah satu murid dari Syekh Yusuf. Beliau berasal dari Singkil, Aceh, dan kemudian pindah ke Sulawesi untuk menyebarkan agama Islam\u00b3. Syekh Abdul Rauf Singkel adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Sulawesi.<\/p>\n<p>Syekh Abdul Rauf Singkel berdakwah di wilayah barat Sulawesi Selatan, yaitu Mandar, Majene, Polmas, Mamasa, dan Mamuju\u00b3. Ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut, seperti Kerajaan Mandar yang dipimpin oleh La Patau Matanna Tikka yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Muhammad Said\u00b3.<\/p>\n<p>Syekh Abdul Rauf Singkel wafat dan dimakamkan di Majene\u00b3. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Sulawesi.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Datuk ri Tiro, Penyebar Islam di Sulawesi Selatan &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2022\/07\/31\/100000079\/datuk-ri-tiro-penyebar-islam-di-sulawesi-selatan.<br \/>\n(2) Sejarah Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2022\/07\/08\/150000079\/sejarah-penyebaran-islam-di-sulawesi-selatan.<br \/>\n(3) Tiga datuk dan penyebaran agama islam di sulawesi selatan &#8211; lelakibugis. https:\/\/lelakibugis.net\/tiga-datuk-dan-penyebaran-agama-islam-di-sulawesi-selatan\/.<br \/>\n(4) Tokoh Penyebar Agama Islam di Sulawesi &#8211; Ahmad Marogi. https:\/\/ahmadmarogi.com\/tokoh-penyebar-agama-islam-di-sulawesi\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sulawesi Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Islam masuk ke Sulawesi Selatan sejak abad ke-16 melalui jalur perdagangan dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-1472","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1472","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1472"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1472\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1472"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1472"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1472"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}