{"id":1437,"date":"2023-06-09T07:34:57","date_gmt":"2023-06-09T07:34:57","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1437"},"modified":"2023-06-09T07:34:57","modified_gmt":"2023-06-09T07:34:57","slug":"sejarah-masuknya-islam-di-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-bali\/","title":{"rendered":"Sejarah Masuknya Islam di Bali"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-bali\/#Teori_Pertama_Pengiring_Raja_Gelgel_dari_Majapahit\" >Teori Pertama: Pengiring Raja Gelgel dari Majapahit<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-bali\/#Teori_Kedua_Pedagang_dan_Ulama_dari_Gujarat_dan_Persia\" >Teori Kedua: Pedagang dan Ulama dari Gujarat dan Persia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-bali\/#Teori_Ketiga_Pengungsi_Kerajaan_Demak_dan_Banten\" >Teori Ketiga: Pengungsi Kerajaan Demak dan Banten<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-masuknya-islam-di-bali\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Bali adalah pulau yang terkenal dengan kebudayaan Hindu yang kental dan unik. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di pulau ini juga terdapat komunitas Muslim yang telah ada sejak lama. Bagaimana sejarah masuknya Islam di Bali? Apa saja teori-teori yang mencoba menjelaskan fenomena ini? Artikel ini akan mengulas beberapa teori yang beredar di kalangan sejarawan dan peneliti.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teori_Pertama_Pengiring_Raja_Gelgel_dari_Majapahit\"><\/span>Teori Pertama: Pengiring Raja Gelgel dari Majapahit<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori pertama mengatakan bahwa Islam masuk ke Bali bersamaan dengan kedatangan orang-orang Jawa dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 Masehi. Pada saat itu, Bali merupakan salah satu wilayah bawahan Majapahit yang dipimpin oleh raja Gelgel pertama, Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460 M). Dalam sebuah kunjungan ke keraton Majapahit, Dalem Ketut Ngelesir bertemu dengan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M), yang sedang mengadakan konferensi kerajaan seluruh Nusantara.<\/p>\n<p>Setelah acara tersebut selesai, Dalem Ketut Ngelesir kembali ke Bali dengan diantar oleh 40 orang pengiring dari Majapahit. Dua di antaranya adalah Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil, yang merupakan tokoh-tokoh Muslim pertama di Bali. Mereka menetap di Gelgel dan membangun masjid pertama di pulau ini, yaitu Masjid Gelgel\u00b9\u00b2. Mereka juga menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat, terutama di daerah timur Bali. Raden Modin menetap di Banjar Lebah, sedangkan Kiai Abdul Jalil melanjutkan perjalanan hingga ke Desa Saren\u00b2.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teori_Kedua_Pedagang_dan_Ulama_dari_Gujarat_dan_Persia\"><\/span>Teori Kedua: Pedagang dan Ulama dari Gujarat dan Persia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori kedua menyatakan bahwa Islam masuk ke Bali melalui jalur perdagangan maritim antara Nusantara dengan India dan Timur Tengah. Pada abad ke-15 dan 16 Masehi, banyak pedagang dan ulama dari Gujarat dan Persia yang singgah di pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Bali, seperti Buleleng, Singaraja, dan Karangasem\u00b2. Mereka membawa barang-barang dagangan seperti kain, rempah-rempah, perhiasan, dan buku-buku agama. Mereka juga berinteraksi dengan penduduk lokal dan menyampaikan dakwah Islam.<\/p>\n<p>Salah satu tokoh Muslim yang terkenal dari Gujarat adalah Syekh Yusuf Al-Makassari (1626-1699 M), yang dikenal sebagai Wali Songo dari Nusantara. Ia pernah tinggal di Bali selama beberapa tahun sebelum melanjutkan perjalanan ke Sulawesi Selatan dan kemudian ke Afrika Selatan\u00b3. Ia dikenang sebagai salah satu penyebar Islam di Bali yang berpengaruh.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Teori_Ketiga_Pengungsi_Kerajaan_Demak_dan_Banten\"><\/span>Teori Ketiga: Pengungsi Kerajaan Demak dan Banten<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori ketiga mengemukakan bahwa Islam masuk ke Bali akibat adanya pengungsian orang-orang Jawa dari Kerajaan Demak dan Banten pada abad ke-16 dan 17 Masehi. Pada masa itu, kedua kerajaan tersebut mengalami kemunduran akibat serangan dari Portugis dan Belanda. Banyak raja, bangsawan, ulama, seniman, dan rakyat biasa yang mencari perlindungan di tempat-tempat lain, termasuk di Bali\u00b2.<\/p>\n<p>Salah satu contohnya adalah Ratu Mas Jolang (1568-1645 M), putri Sultan Trenggana dari Demak, yang menikah dengan Dalem Di Made (1568-1656 M), raja Gelgel keempat. Ia membawa pengaruh Islam ke istana Gelgel dan mendirikan Masjid Agung Jamik Singaraja, yang merupakan masjid terbesar di Bali\u2074. Ia juga dikenal sebagai pendiri Kerajaan Buleleng, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Bali.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dari ketiga teori di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam masuk ke Bali melalui berbagai jalur dan periode. Islam tidak datang secara tiba-tiba, melainkan secara bertahap dan beradaptasi dengan kebudayaan lokal. Islam juga tidak menghapus tradisi Hindu yang telah ada sebelumnya, melainkan berdampingan dan bersinergi dengannya. Islam di Bali memiliki karakteristik tersendiri yang mencerminkan keragaman dan toleransi antarumat beragama.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Teori-Teori Tentang Masuknya Islam di Pulau Dewata Bali. https:\/\/islamdigest.republika.co.id\/berita\/q7qsi6320\/teoriteori-tentang-masuknya-islam-di-pulau-dewata-bali.<br \/>\n(2) Islam di Bali &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Islam_di_Bali.<br \/>\n(3) Riwayat Islam di Bali &#8211; Historia. https:\/\/historia.id\/agama\/articles\/riwayat-islam-di-bali-vV9Ql.<br \/>\n(4) Teori-Teori Tentang Masuknya Islam di Pulau Dewata Bali &#8211; HIMPUH. https:\/\/himpuh.or.id\/blog\/detail\/68\/teori-teori-tentang-masuknya-islam-di-pulau-dewata-bali.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bali adalah pulau yang terkenal dengan kebudayaan Hindu yang kental dan unik. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di pulau ini juga terdapat komunitas Muslim&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-1437","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1437","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1437"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1437\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1437"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1437"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1437"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}