{"id":1433,"date":"2023-06-09T07:29:34","date_gmt":"2023-06-09T07:29:34","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1433"},"modified":"2023-06-09T07:29:34","modified_gmt":"2023-06-09T07:29:34","slug":"tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/","title":{"rendered":"Tokoh-Tokoh Penyebar Agama Islam di Madura"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/#Sunan_Lembayung_Fahdal\" >Sunan Lembayung Fahdal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/#Sayyid_Yusuf_Al-Anggawi_dan_Sayyid_Abdul_Mannan_Al-Anggawi\" >Sayyid Yusuf Al-Anggawi dan Sayyid Abdul Mannan Al-Anggawi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/#Joko_Tole_dan_Sunan_Padusan\" >Joko Tole dan Sunan Padusan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/#Pangeran_Katandur\" >Pangeran Katandur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/#Ki_Lemah_Duwur\" >Ki Lemah Duwur<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/#Syaikhuna_Kholil_Bangkalan\" >Syaikhuna Kholil Bangkalan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-madura\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Madura adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa. Pulau ini memiliki luas sekitar 5.475 km2 dan terdiri dari empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Madura dikenal sebagai pulau yang kering dan tandus, tetapi juga sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa Timur.<\/p>\n<p>Sejarah masuknya Islam di Madura tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pedagang-pedagang Asia yang juga memiliki misi dakwah. Selain itu, peran para wali dan ulama yang berasal dari Jawa dan Arab juga sangat besar dalam mengislamkan masyarakat Madura. Berikut adalah beberapa tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Madura yang patut kita kenal:<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sunan_Lembayung_Fahdal\"><\/span>Sunan Lembayung Fahdal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sunan Lembayung Fahdal atau Sayyid Ali Murtadha adalah seorang mubaligh Islam yang datang ke Sumenep pada abad ke-14. Ia adalah adik kandung dari Sunan Ampel atau Raden Rahmat, yang merupakan salah satu dari Wali Songo. Mereka berasal dari Cempa (Champa) dan masih memiliki ikatan keluarga dengan Majapahit.<\/p>\n<p>Sunan Lembayung Fahdal berhasil mengislamkan Raja Johansari, yang memerintah Sumenep dari tahun 1319-1331. Ia juga mendirikan pesantren di Sumenep dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat setempat. Sunan Lembayung Fahdal dimakamkan di Desa Kebun Agung, Sumenep\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sayyid_Yusuf_Al-Anggawi_dan_Sayyid_Abdul_Mannan_Al-Anggawi\"><\/span>Sayyid Yusuf Al-Anggawi dan Sayyid Abdul Mannan Al-Anggawi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Sayyid Yusuf Al-Anggawi dan Sayyid Abdul Mannan Al-Anggawi adalah dua utusan Sunan Giri atau Raden Paku yang ditugaskan untuk menyebarkan Islam di Madura pada abad ke-15. Mereka adalah keturunan Arab yang berasal dari Hadramaut.<\/p>\n<p>Sayyid Yusuf Al-Anggawi bertanggung jawab untuk mengislamkan Madura bagian timur, yaitu Sumenep dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Ia dimakamkan di Desa Talango, Pulau Poteran, Sumenep\u00b2. Sedangkan Sayyid Abdul Mannan Al-Anggawi bertanggung jawab untuk mengislamkan Madura bagian barat, yaitu Bangkalan, Sampang, hingga Pamekasan. Ia dimakamkan di Batu Ampar, Proppo, Pamekasan\u00b2.<\/p>\n<p>Sayyid Abdul Mannan Al-Anggawi mendapat julukan &#8220;Buju&#8217; Kosambih&#8221; dan putranya, Syeikh Basyaniah yang dijuluki &#8220;Buju&#8217; Tompeng&#8221;. Makam Batuampar hingga saat ini masih banyak didatangi oleh para penziarah yang datang baik dari Madura maupun dari Jawa\u00b2.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Joko_Tole_dan_Sunan_Padusan\"><\/span>Joko Tole dan Sunan Padusan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Joko Tole adalah raja Sumenep yang ke-13 yang memerintah selama 45 tahun (1415-1460). Ia adalah salah satu penguasa Madura pertama yang memeluk Islam berkat pengaruh Sunan Padusan, seorang murid Sunan Giri yang mendirikan pesantren di Parsanga.<\/p>\n<p>Sunan Padusan berhasil menarik banyak penduduk sekitar pesantren dengan cara berdakwah dan pendekatannya. Ia juga menikahi putri Joko Tole dan menjadi menantunya. Hal ini menyebabkan semakin banyak rakyat Sumenep yang menganut agama Islam\u00b3.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pangeran_Katandur\"><\/span>Pangeran Katandur<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pangeran Katandur adalah seorang tokoh penyebar Islam di Sumenep pada abad ke-17. Ia adalah keturunan dari Sayyid Yusuf Al-Anggawi yang banyak mengislamkan penduduk Madura. Salah satu keturunannya adalah Bendoro Saud yang menjadi penguasa Sumenep dari tahun 1750-1760, dan menikahi RA Tirtonegoro, penguasa Sumenep pada masa itu.<\/p>\n<p>Pada abad ke-18, Islamisasi di Sumenep semakin meluas ketika diperintah oleh putra Bendaro Saud yang bernama Sumolo. Ia membangun keraton Sumenep dan Masjid Jami&#8217;\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ki_Lemah_Duwur\"><\/span>Ki Lemah Duwur<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ki Lemah Duwur adalah seorang tokoh penyebar Islam di Bangkalan pada abad ke-15. Ia adalah seorang ulama yang berasal dari Gresik dan merupakan murid Sunan Giri. Ia mendirikan pesantren di Arosbaya, Bangkalan, dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat setempat.<\/p>\n<p>Ki Lemah Duwur juga menjalin hubungan baik dengan pusat penyebaran Islam di Ampel, Gresik, dan Tuban. Ia juga berperan dalam mengislamkan penguasa Bangkalan, yaitu Ki Arya Praghalba. Ki Lemah Duwur dimakamkan di Desa Arosbaya, Bangkalan\u2074.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Syaikhuna_Kholil_Bangkalan\"><\/span>Syaikhuna Kholil Bangkalan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syaikhuna Kholil Bangkalan atau KH Mohammad Kholil adalah seorang ulama dan pendidik Islam yang lahir pada tahun 1852 di Bangkalan. Ia adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang yang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Madura.<\/p>\n<p>Syaikhuna Kholil Bangkalan juga dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan nasional yang berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia merupakan anggota Muhammadiyah dan Sarekat Islam. Ia juga berhubungan dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy&#8217;ari, dan KH Wahab Hasbullah.<\/p>\n<p>Syaikhuna Kholil Bangkalan wafat pada tahun 1925 dan dimakamkan di Desa Sarang, Rembang.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyebaran agama Islam di Madura melibatkan banyak tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai latar belakang. Mereka menggunakan berbagai cara dan strategi untuk mengajak masyarakat Madura untuk memeluk agama Islam, seperti melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dakwah, dan perjuangan.<\/p>\n<p>Tokoh-tokoh penyebar Islam di Madura telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan Islam di Indonesia. Mereka juga telah meninggalkan warisan berupa pesantren, makam, keraton, masjid, dan lain-lain yang menjadi saksi sejarah dan kebudayaan Islam di Madura.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus harus menghormati dan menghargai jasa-jasa mereka dengan belajar dari kisah-kisah mereka dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang telah mereka sampaikan.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Sejarah Masuknya Islam di Madura | Bincang Syariah. https:\/\/bincangsyariah.com\/khazanah\/sejarah-masuknya-islam-di-madura\/.<br \/>\n(2) Madura, Pulau Terasing di Timur Jawa Pusat Penyebaran Islam. https:\/\/islamdigest.republika.co.id\/berita\/qbkspw320\/madura-pulau-terasing-di-timur-jawa-pusat-penyebaran-islam.<br \/>\n(3) Mengulik Kisah Ki Lemah Duwur Bangkalan, Tokoh Penyebar Islam di Madura &#8230;. https:\/\/www.jatimtimes.com\/baca\/290057\/20230529\/065600\/mengulik-kisah-ki-lemah-duwur-bangkalan-tokoh-penyebar-islam-di-madura.<br \/>\n(4) Persebaran Agama Islam di Madura &#8211; Lontar Madura. https:\/\/www.lontarmadura.com\/persebaran-agama-islam-di-madura\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Madura adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa. Pulau ini memiliki luas sekitar 5.475 km2 dan terdiri dari empat kabupaten, yaitu Bangkalan,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1433","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1433"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1433\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}