{"id":1283,"date":"2023-06-08T01:39:59","date_gmt":"2023-06-08T01:39:59","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1283"},"modified":"2023-06-08T01:39:59","modified_gmt":"2023-06-08T01:39:59","slug":"kerajaan-aceh-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kerajaan-aceh-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan\/","title":{"rendered":"Kerajaan Aceh: Sejarah, Kejayaan dan Peninggalan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kerajaan-aceh-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan\/#Sejarah_Kerajaan_Aceh\" >Sejarah Kerajaan Aceh<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kerajaan-aceh-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan\/#Kejayaan_Kerajaan_Aceh\" >Kejayaan Kerajaan Aceh<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kerajaan-aceh-sejarah-kejayaan-dan-peninggalan\/#Peninggalan_Kerajaan_Aceh\" >Peninggalan Kerajaan Aceh<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kerajaan Aceh adalah salah satu kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Nusantara yang berdiri sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-20. Kerajaan ini memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam, perdagangan internasional, dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Artikel ini akan membahas sejarah, kejayaan dan peninggalan Kerajaan Aceh.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_Kerajaan_Aceh\"><\/span>Sejarah Kerajaan Aceh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 M\u00b9\u00b2. Ia berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Aceh dan menaklukkan Samudera Pasai, salah satu pusat Islam di Sumatera\u00b2. Ia juga membangun angkatan darat dan laut yang kuat untuk menghadapi ancaman dari Barat, terutama Portugis yang telah menguasai Melaka\u00b2.<\/p>\n<p>Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)\u00b9\u00b2. Di bawah kepemimpinannya, Aceh berhasil menguasai Pahang, sumber timah utama di Nusantara, dan menyerang Melaka beberapa kali\u00b2. Sultan Iskandar Muda juga memperluas wilayah Aceh hingga ke Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Nias\u00b2. Ia juga memperkuat hubungan diplomatik dengan Kesultanan Utsmaniyah dan kerajaan-kerajaan Islam lainnya\u00b2.<\/p>\n<p>Kerajaan Aceh mulai mengalami kemunduran setelah kematian Sultan Iskandar Muda. Penyebabnya antara lain adalah persaingan internal antara para ulama dan ul\u00e8\u00ebbalang (pemimpin daerah), konflik suksesi antara para sultan dan sultanah, serangan dari kerajaan-kerajaan tetangga seperti Minangkabau dan Banten, serta campur tangan Belanda yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah\u00b2.<\/p>\n<p>Kerajaan Aceh berakhir pada tahun 1903 M setelah Belanda berhasil menaklukkan ibu kota Kutaraja dalam Perang Aceh yang berlangsung selama 30 tahun\u00b9\u00b2. Sultan terakhir Kerajaan Aceh adalah Muhammad Daud Syah yang ditangkap dan dibuang ke Sumatera Utara\u00b2.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kejayaan_Kerajaan_Aceh\"><\/span>Kejayaan Kerajaan Aceh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan Aceh memiliki beberapa kejayaan yang patut dibanggakan, baik di bidang politik, ekonomi, maupun budaya. Berikut ini adalah beberapa contohnya.<\/p>\n<p>&#8211; Kerajaan Aceh merupakan kerajaan Islam pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan Eropa. Pada tahun 1602 M, Sultan Ala\u2018 al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil mengirim utusan ke Inggris untuk meminta bantuan melawan Portugis\u00b2. Pada tahun 1613 M, ia juga menerima utusan dari Belanda yang menawarkan persekutuan dagang\u00b2.<\/p>\n<p>&#8211; Kerajaan Aceh memiliki perdagangan internasional yang maju dan menguntungkan. Aceh menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, emas, perak, gading, lada, kopi, kapas, sutra, dan senjata di Nusantara\u00b2. Aceh juga menjalin hubungan dagang dengan India, Persia, Arab Saudi, Turki, Cina, Jepang, Siam, dan Eropa\u00b2.<\/p>\n<p>&#8211; Kerajaan Aceh memiliki kebudayaan yang kaya dan beragam. Aceh dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, sastra, seni, dan arsitektur Islam di Nusantara\u00b2. Banyak ulama, sastrawan, seniman, dan arsitek yang berasal dari Aceh atau belajar di Aceh. Beberapa karya budaya Aceh yang terkenal antara lain adalah Hikayat Aceh, Bustan al-Salatin, Tuhfat al-Nafis, Syair Perang Siak, Masjid Raya Baiturrahman, Makam Sultan Iskandar Muda, dan Rumoh Aceh\u00b2.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peninggalan_Kerajaan_Aceh\"><\/span>Peninggalan Kerajaan Aceh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kerajaan Aceh meninggalkan banyak peninggalan yang masih dapat kita lihat dan kunjungi hingga saat ini. Beberapa peninggalan Kerajaan Aceh yang terkenal antara lain adalah:<\/p>\n<p>&#8211; Masjid Raya Baiturrahman. Masjid ini merupakan simbol keagungan dan keislaman Kerajaan Aceh. Masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 M dengan gaya arsitektur Mughal\u00b9\u00b2. Masjid ini sempat dibakar oleh Belanda pada tahun 1873 M, tetapi kemudian dibangun kembali dengan bantuan masyarakat Aceh\u00b2. Masjid ini memiliki tujuh kubah besar dan delapan menara yang indah\u00b2.<\/p>\n<p>&#8211; Makam Sultan Iskandar Muda. Makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir Sultan Iskandar Muda dan istrinya, Putri Kamaliah atau Putroe Phang\u00b2. Makam ini terletak di Gampong Pande, Banda Aceh. Makam ini dibangun dengan gaya arsitektur Utsmaniyah dengan ornamen kaligrafi dan geometris\u00b2. Makam ini juga dikelilingi oleh tembok tinggi yang melambangkan kebesaran Sultan Iskandar Muda\u00b2.<\/p>\n<p>&#8211; Rumoh Aceh. Rumoh Aceh adalah rumah adat Aceh yang memiliki ciri khas berupa atap limas yang menjulang tinggi\u00b2. Rumoh Aceh biasanya dibangun dari kayu dengan ukiran-ukiran yang cantik\u00b2. Rumoh Aceh juga memiliki fungsi sosial dan budaya, seperti tempat berkumpul, bermusyawarah, dan mengadakan upacara adat\u00b2.<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>(1) Kerajaan Aceh: Raja-raja, Puncak Kejayaan, Keruntuhan, dan Peninggalan. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2021\/05\/30\/204418979\/kerajaan-aceh-raja-raja-puncak-kejayaan-keruntuhan-dan-peninggalan.<\/p>\n<p>(2) Kesultanan Aceh &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kesultanan_Aceh.<\/p>\n<p>(3) Kerajaan Aceh: Peninggalan, Puncak Kejayaan hingga Keruntuhan &#8211; Suara.com. https:\/\/www.suara.com\/news\/2021\/08\/21\/190845\/kerajaan-aceh-peninggalan-puncak-kejayaan-hingga-keruntuhan.<\/p>\n<p>(4) Kerajaan Aceh : Sejarah, Raja, Peninggalan dan Masa Kejayaan &#8211; RomaDecade. https:\/\/www.romadecade.org\/Kerajaan-Aceh\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerajaan Aceh adalah salah satu kerajaan Islam terbesar dan terkuat di Nusantara yang berdiri sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-20. Kerajaan ini memiliki peran&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-1283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1283"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1283\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}