Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia pilihan yang diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Perjalanan hidup beliau, mulai dari kelahiran hingga masa pertumbuhan, dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang menunjukkan tanda-tanda kenabian dan keberkahan. Artikel ini akan menguraikan secara rinci tentang kelahiran, penyusuan, dan masa pertumbuhan Rasulullah SAW berdasarkan riwayat-riwayat sahih yang dikenal di dalam sejarah Islam.
Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW
Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan pada tahun Gajah, tepatnya pada bulan Rabiul Awal. Sebagian besar ulama sepakat bahwa tanggal kelahiran Rasulullah SAW jatuh pada tanggal dua belas Rabiul Awal, meskipun ada juga pendapat yang menyebutkan tanggal pertama atau kedua.
Tahun Gajah adalah tahun terjadinya peristiwa besar ketika Raja Abrahah dari Yaman berusaha menyerang Ka’bah dengan pasukan bergajah. Namun, Allah SWT menggagalkan serangan tersebut dengan mengirimkan kawanan burung Ababil yang melempari mereka dengan batu-batu panas, sehingga pasukan tersebut hancur. Peristiwa ini menjadi latar penting bagi kelahiran Rasulullah SAW, yang menandai permulaan perubahan besar dalam sejarah umat manusia.
Rasulullah SAW dilahirkan di Mekah, dari seorang ayah bernama Abdullah bin Abdul Mutthalib dan ibu bernama Aminah binti Wahb. Ayah beliau, Abdullah, wafat sebelum kelahiran Muhammad SAW, sehingga beliau terlahir sebagai anak yatim. Kelahiran beliau membawa kebahagiaan besar bagi keluarga Abdul Mutthalib, yang merupakan pemuka suku Quraisy.
Menurut riwayat, Aminah binti Wahb, ibu Rasulullah SAW, melihat tanda-tanda luar biasa saat mengandung beliau. Dalam mimpinya, ia diberitahu bahwa ia sedang mengandung seorang anak yang kelak akan menjadi pemimpin umat manusia. Ketika beliau lahir, ada beberapa tanda-tanda alam yang menunjukkan keistimewaan kelahiran beliau, seperti padamnya api yang disembah oleh kaum Majusi di Persia, dan runtuhnya beberapa kuil besar di negeri-negeri lainnya.
Penyusuan Rasulullah SAW
Setelah dilahirkan, Rasulullah SAW disusui oleh ibunya, Aminah, untuk waktu yang singkat. Kemudian, beliau disusukan kepada seorang budak perempuan bernama Tsuwaibah, yang merupakan budak dari Abu Lahab. Tsuwaibah menyusui Rasulullah SAW bersamaan dengan Hamzah bin Abdul Mutthalib, paman beliau, dan Abu Salamah, putra dari Ummu Salamah.
Namun, penyusuan yang paling terkenal dan membawa banyak keberkahan bagi keluarga yang mengasuhnya adalah ketika beliau disusukan oleh Halimah as-Sa’diyah, seorang wanita dari suku Bani Sa’ad. Halimah dan suaminya, Harits, mengambil Rasulullah SAW sebagai anak susuan dalam keadaan yang sulit. Pada saat itu, kondisi ekonomi mereka sangat sulit, hewan ternak mereka kurus, dan mereka mengalami kekurangan pangan. Namun, sejak Rasulullah SAW berada dalam asuhan mereka, kehidupan Halimah dan keluarganya mengalami perubahan drastis.
Hewan ternak mereka menjadi gemuk, produksi susu meningkat, dan semua yang mereka kerjakan tampak dipenuhi dengan keberkahan. Halimah as-Sa’diyah merasakan banyak kemuliaan selama mengasuh Rasulullah SAW, sehingga ia dan keluarganya sangat mencintai dan menghormati beliau.
Rasulullah SAW tinggal bersama Halimah di perkampungan Bani Sa’ad selama empat tahun. Pada periode ini, terjadi peristiwa penting yang dikenal sebagai pembelahan dada. Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang bermain dengan anak-anak lainnya, lalu membelah dada beliau, mengeluarkan segumpal darah hitam, dan membersihkannya. Peristiwa ini menunjukkan tanda pembersihan hati Rasulullah SAW dari segala keburukan dan dosa, menjadikannya siap untuk menerima tugas kenabian kelak.
Masa Pertumbuhan Rasulullah SAW
Setelah masa penyusuan di perkampungan Bani Sa’ad, Rasulullah SAW dikembalikan kepada ibunya, Aminah, di Mekah. Pada usia enam tahun, Rasulullah SAW kehilangan ibunya. Aminah wafat dalam perjalanan pulang dari Madinah di sebuah tempat bernama Abwa. Sejak saat itu, Rasulullah SAW menjadi yatim piatu. Setelah kematian ibunya, Rasulullah diasuh oleh kakeknya, Abdul Mutthalib, yang sangat menyayangi beliau.
Namun, kebersamaan dengan kakeknya tidak berlangsung lama. Ketika Rasulullah berusia delapan tahun, Abdul Mutthalib juga meninggal dunia. Setelah itu, Rasulullah SAW diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, yang merupakan saudara kandung dari Abdullah, ayah beliau. Abu Thalib sangat mencintai dan melindungi Rasulullah SAW meskipun beliau sendiri tidak pernah memeluk Islam.
Selama masa kecil dan pertumbuhan, Rasulullah SAW dikenal sebagai anak yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak yang mulia. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah dijuluki oleh masyarakat Mekah sebagai Al-Amin yang berarti “yang dapat dipercaya.” Beliau memiliki sifat-sifat terpuji seperti kejujuran, kesabaran, dan rasa tanggung jawab yang tinggi, sehingga banyak orang yang mempercayakan harta mereka kepada beliau untuk dikelola.
Pada usia dua belas tahun, Rasulullah SAW ikut serta dalam perjalanan dagang ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib. Selama perjalanan ini, terjadi peristiwa penting ketika seorang rahib bernama Bahira melihat tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah SAW. Bahira melihat tanda di punggung beliau, yang dikenal sebagai tanda kenabian, dan memperingatkan Abu Thalib agar melindungi Muhammad dari ancaman kaum Yahudi yang mungkin berbahaya bagi dirinya.
Rasulullah SAW Sebagai Seorang Remaja
Masa remaja Rasulullah SAW juga dihabiskan dengan kehidupan yang bersih dari perbuatan maksiat. Allah SWT telah menjaga beliau dari segala bentuk kesesatan jahiliyah yang saat itu marak di Mekah, seperti penyembahan berhala, perjudian, dan minuman keras. Rasulullah SAW tumbuh menjadi pribadi yang suci, jujur, dan tepercaya di kalangan kaumnya.
Kejujuran dan kesucian Rasulullah SAW terlihat dalam setiap aspek kehidupannya. Beliau juga dikenal karena kecerdasannya dalam berdagang. Ketika usianya menginjak dua puluh lima tahun, beliau bekerja sebagai pedagang yang menjalankan usaha milik Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita kaya dan terpandang di Mekah. Kejujuran dan kemampuan berdagang Rasulullah SAW menarik perhatian Khadijah, yang kemudian menikah dengan beliau.
Penutup
Kelahiran, penyusuan, dan masa pertumbuhan Rasulullah Muhammad SAW merupakan bagian penting dalam sejarah Islam yang penuh dengan tanda-tanda keberkahan dan petunjuk kenabian. Sejak lahir hingga dewasa, Rasulullah SAW selalu dilindungi oleh Allah SWT dari segala hal yang buruk, menjadikannya pribadi yang sempurna secara fisik, mental, dan spiritual.
Masa pertumbuhan Rasulullah SAW dipenuhi dengan keberkahan, dan sifat-sifat terpuji beliau sudah terlihat sejak dini. Akhlak yang mulia, kejujuran, dan rasa tanggung jawab yang tinggi menjadikan Rasulullah SAW sebagai sosok yang dihormati oleh masyarakat Mekah, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi.
Dengan memahami perjalanan hidup Rasulullah SAW dari masa kelahiran hingga pertumbuhan, kita dapat lebih menghayati betapa besar keutamaan dan kebaikan yang Allah SWT berikan kepada beliau sebagai utusan-Nya yang terakhir. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya.
Referensi:
- The Brief of Biography of the Messenger. (n.d.). Diambil dari Islam House
- Sirah Nabi Muhammad. (n.d.). Diambil dari 103.44.149.34