Menu Tutup

Partai Indonesia (Partindo): Sebuah Partai Nasionalis yang Terpecah dan Bersatu Kembali

Partai Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan nama Partindo, adalah sebuah partai politik nasionalis yang pernah berdiri di Indonesia sebelum kemerdekaan dan kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1957 sebagai partai sayap kiri. Partai ini memiliki peran penting dalam pergerakan nasional Indonesia, terutama dalam mengusung cita-cita kemerdekaan melalui politik non-kooperasi terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun, partai ini juga mengalami beberapa konflik internal dan eksternal yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan persaingan dengan partai-partai lain. Artikel ini akan membahas sejarah, tujuan, perjuangan, dan nasib Partindo dalam konteks sejarah Indonesia.

Latar Belakang Pendirian Partindo

Partindo didirikan pada tanggal 30 April 1931 oleh Sartono, yang saat itu menjabat sebagai ketua PNI-Lama menggantikan Soekarno yang ditangkap pemerintah Belanda pada tahun 1929. Sartono mengambil keputusan untuk membubarkan PNI-Lama dan membentuk Partindo dengan alasan bahwa PNI-Lama sudah tidak efektif lagi dalam berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Sartono juga berpendapat bahwa PNI-Lama sudah terlalu banyak dikendalikan oleh komunis dan sosialis yang berbeda ideologi dengan nasionalis. Selain itu, Sartono ingin menghindari penangkapan massal oleh pemerintah Belanda yang semakin meningkatkan tekanan terhadap organisasi-organisasi pergerakan nasional1.

Tujuan pokok Partindo sama dengan PNI-Lama, yaitu mencapai Indonesia merdeka dengan menjalankan politik non-kooperasi terhadap pemerintahan Belanda. Partindo juga menganut ideologi nasionalisme yang bersifat moderat dan pragmatis, serta menghormati keberagaman agama dan suku bangsa di Indonesia. Partindo juga mendukung gerakan swadesi, yaitu gerakan untuk memproduksi dan mengkonsumsi barang-barang buatan dalam negeri sebagai bentuk protes terhadap eksploitasi ekonomi oleh Belanda2.

Perpecahan dan Persaingan dengan PNI-Baru

Tindakan Sartono untuk membubarkan PNI-Lama dan membentuk Partindo mendapat reaksi keras dari sebagian anggota PNI-Lama, terutama dari Hatta dan Sutan Sjahrir, serta golongan yang tidak menyetujui dengan pembubaran tersebut. Mereka menilai bahwa pembubaran PNI-Lama adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia dan merupakan tindakan oportunis yang hanya menguntungkan diri sendiri. Mereka juga menuduh Sartono sebagai agen Belanda yang sengaja memecah belah pergerakan nasional3.

Mereka kemudian membentuk Golongan Merdeka dan menjadi organisasi baru bernama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru). PNI-Baru memiliki tujuan yang sama dengan PNI-Lama, yaitu mencapai Indonesia merdeka melalui politik non-kooperasi. Namun, PNI-Baru juga memiliki perbedaan dengan PNI-Lama maupun Partindo dalam hal ideologi dan strategi. PNI-Baru menganut ideologi nasionalisme yang lebih radikal dan revolusioner, serta bersimpati dengan komunisme dan sosialisme. PNI-Baru juga lebih aktif dalam melakukan propaganda, agitasi, dan mobilisasi massa melalui media cetak, radio, film, teater, dan seni4.

Partindo dan PNI-Baru kemudian bersaing dalam memperoleh simpati rakyat. Kedua partai ini sering kali saling menyerang dan mencela satu sama lain melalui pidato-pidato, pamflet-pamflet, dan surat-surat kabar mereka. Partindo mengecam PNI-Baru sebagai kaum komunis-sosialis yang berbahaya bagi keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia. Partindo juga menuduh PNI-Baru sebagai organisasi yang tidak demokratis dan otoriter, serta mengabaikan hak-hak dan kepentingan rakyat. Sementara itu, PNI-Baru mengkritik Partindo sebagai kaum borjuis nasionalis yang menentang kapitalisme Barat, tetapi mendukung kapitalisme Indonesia. PNI-Baru juga menganggap Partindo sebagai partai yang konservatif dan reaksioner, serta tidak berani melakukan perlawanan terbuka terhadap Belanda.

Bergabungnya Soekarno dan Perkembangan Partindo

Setelah dibebaskan dari penjara Sukamiskin pada tahun 1932, Soekarno bertekad untuk menyatukan kembali PNI-Lama dengan Partindo dan PNI-Baru. Namun, usahanya gagal karena kedua partai tersebut sudah terlanjur berseteru dan tidak mau berkompromi. Soekarno akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Partindo karena dianggap lebih sesuai dengan pribadinya dan menawarkan kebebasan untuk mengembangkan kemampuan agitasinya. Keputusan tersebut diumumkan Soekarno pada tanggal 1 Agustus 1932.

Bergabungnya Soekarno dengan Partindo memberikan dampak positif bagi perkembangan partai tersebut. Jumlah anggota Partindo meningkat cukup pesat karena daya tarik Soekarno sebagai pemimpin karismatik dan orator ulung. Soekarno juga berhasil memperluas jaringan Partindo ke berbagai daerah di Indonesia, terutama di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Soekarno juga menghidupkan kembali surat kabar PNI-Lama, yaitu Fikiran Ra’jat, sebagai media propaganda Partindo.

Namun, bergabungnya Soekarno dengan Partindo juga menimbulkan beberapa masalah internal. Kewibawaan Soekarno sebagai pemimpin Partindo menjadi menurun dibandingkan dengan ketika ia memimpin PNI-Lama. Beberapa pendapatnya sering kali mendapat reaksi keras oleh pengurus Partindo lainnya, terutama Sartono yang masih menjadi ketua umum partai. Peran Soekarno di Partindo cabang Bandung juga lebih terbatas karena ia harus berbagi wewenang dengan tokoh-tokoh lokal seperti Agus Salim dan Mohammad Hatta.

Walaupun begitu, Soekarno tetap berusaha untuk memberikan sumbangsih bagi perkembangan ideologi dan program Partindo. Salah satu usulan Soekarno yang mendapat banyak dukungan dari anggota Partindo adalah mengganti nama partai menjadi PNI (Partai Nasional Indonesia) agar lebih sesuai dengan tujuan kemerdekaan Indonesia. Namun, usulan tersebut gagal direalisasikan karena ditentang oleh Sartono dan sebagian pengurus lainnya yang masih ingin mempertahankan nama Partindo.

Selain itu, Soekarno juga memperkenalkan konsep Marhaenisme sebagai dasar ideologi Partindo. Marhaenisme adalah paham sosio-ekonomi yang berdasarkan pada kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas adalah petani kecil atau marhaen. Marhaen adalah istilah yang diciptakan oleh Soekarno untuk menyebut orang-orang yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi tidak mampu memanfaatkannya secara optimal karena terjajah oleh kapitalisme asing maupun dalam negeri. Marhaenisme menolak kapitalisme maupun komunisme sebagai sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Marhaenisme menawarkan sistem ekonomi yang berdasarkan pada kerakyatan, kesejahteraan, dan keadilan sosial.

Konsep Marhaenisme diterima dengan baik oleh Partindo sebagai alternatif ideologi yang dapat menarik simpati rakyat Indonesia. Partindo kemudian mengadopsi Marhaenisme sebagai salah satu program partainya dalam bidang ekonomi. Selain itu, Partindo juga memiliki program-program lain dalam bidang politik, hukum, sosial-budaya, pendidikan, pertahanan, dan luar negeri.

Pembubaran dan Kebangkitan Partindo

Partindo tidak berlangsung lama sebagai partai politik nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1934, pemerintah Belanda melakukan penangkapan besar-besaran terhadap para pemimpin dan anggota Partindo, termasuk Soekarno, Sartono, Agus Salim, dan Mohammad Hatta. Mereka dituduh sebagai penghasut dan pengkhianat yang mengancam keamanan dan ketertiban Hindia Belanda. Mereka kemudian diadili di pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara, pengasingan, atau pembuangan ke berbagai tempat.

Akibat penangkapan tersebut, Partindo menjadi lumpuh dan tidak mampu bergerak lagi. Partindo kemudian dibubarkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1936. Sebagian besar anggota Partindo beralih ke partai-partai lain yang masih aktif, seperti PNI-Baru, Gerindo, atau Parindra. Sebagian lainnya memilih untuk tidak terlibat lagi dalam pergerakan politik dan fokus pada kegiatan sosial, ekonomi, atau budaya.

Partindo baru bangkit kembali pada tahun 1957, setelah Indonesia merdeka dan menjadi republik. Beberapa mantan anggota Partindo yang masih hidup memutuskan untuk menghidupkan kembali partai tersebut dengan nama yang sama. Mereka mengklaim bahwa Partindo adalah partai tertua dan paling berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga mengatakan bahwa Partindo adalah partai yang mewakili aspirasi rakyat marhaen yang mayoritas di Indonesia.

Namun, Partindo yang bangkit kembali ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan Partindo yang lama. Partindo yang baru lebih condong ke arah sayap kiri dan mendukung Presiden Soekarno dalam konfrontasi dengan Belanda dan Malaysia. Partindo juga mendukung konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) yang dicanangkan oleh Soekarno sebagai dasar ideologi negara. Partindo juga bersikap anti-imperialisme dan anti-kolonialisme terhadap Barat, terutama Amerika Serikat.

Partindo yang baru juga mengalami beberapa konflik internal dan eksternal. Beberapa mantan anggota Partindo yang lama tidak setuju dengan arah politik partai yang baru dan memilih untuk keluar atau bergabung dengan partai lain. Beberapa tokoh Partindo yang baru juga berselisih dengan Soekarno karena merasa tidak dihargai atau dimarginalkan oleh presiden. Selain itu, Partindo juga bersaing dengan partai-partai lain yang memiliki basis massa yang sama atau lebih besar, seperti PKI, PNI, NU, atau Masyumi.

Partindo akhirnya bubar lagi pada tahun 1965, setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI yang mengguncang Indonesia. Partai ini dituduh sebagai salah satu partai yang terlibat dalam upaya kudeta komunis terhadap Soekarno dan pemerintahan revolusioner. Partai ini kemudian dilarang oleh pemerintah Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. Sebagian besar pemimpin dan anggota Partindo ditangkap, ditahan, atau dibunuh oleh aparat keamanan atau massa anti-komunis.

Kesimpulan

Partai Indonesia (Partindo) adalah sebuah partai politik nasionalis yang pernah berdiri di Indonesia sebelum kemerdekaan dan kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1957 sebagai partai sayap kiri. Partai ini memiliki peran penting dalam pergerakan nasional Indonesia, terutama dalam mengusung cita-cita kemerdekaan melalui politik non-kooperasi terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun, partai ini juga mengalami beberapa konflik internal dan eksternal yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan persaingan dengan partai-partai lain.

Partai ini juga mengalami nasib tragis karena dua kali dibubarkan oleh pemerintah Belanda maupun Orde Baru. Partai ini juga menjadi korban dari penangkapan, pengasingan, pembuangan, penahanan, dan pembunuhan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menentang perjuangan dan ideologi partai ini. Partai ini akhirnya menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang penuh dengan liku-liku dan perjuangan.

Sumber:
(1) Partai Indonesia – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Indonesia.
(2) Partindo (Partai Indonesia) – TribunnewsWiki.com. https://www.tribunnewswiki.com/2021/08/09/partindo-partai-indonesia.
(3) Partindo – Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Partindo.
(4) Partai Indonesia – Terakreditasi. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Partai_Indonesia.

Lainnya: