Menu Tutup

Rezeki dalam Islam: Pengertian, Landasan Syariah, Macam-Macam, dan Aplikasinya dalam Kehidupan

Rezeki dalam Islam: Pengertian, Landasan Syariah, Macam-Macam, dan Aplikasinya dalam Kehidupan

Rezeki adalah salah satu konsep yang sangat penting dalam ajaran Islam, namun sering kali dipahami secara sempit hanya sebagai materi atau harta benda. Padahal, dalam pandangan Islam, rezeki mencakup segala bentuk pemberian Allah SWT yang bermanfaat untuk kehidupan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dari uang, makanan, dan tempat tinggal hingga kesehatan, ilmu, hingga kesempatan hidup yang membawa berkah—semua itu adalah bagian dari rezeki yang harus disyukuri.

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang apa itu rezeki dalam Islam, mulai dari pengertiannya menurut Al-Qur’an, Hadits, dan para ulama, hingga berbagai macam rezeki yang diberikan oleh Allah, baik yang bersifat umum maupun khusus. Selain itu, kita juga akan membahas bagaimana seharusnya umat Islam memahami dan memanfaatkan rezeki dalam kehidupan sehari-hari, serta aplikasi nilai-nilai tersebut dalam praktik hidup yang lebih berkah dan penuh makna.

A. Pengertian Rezeki

Pengertian Rezeki dalam Islam

Rezeki adalah salah satu konsep yang sangat penting dalam ajaran agama Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengaitkan rezeki dengan hal-hal materi seperti uang, makanan, atau harta benda. Namun, dalam pandangan Islam, rezeki memiliki makna yang lebih luas dan mendalam, mencakup segala bentuk pemberian Allah SWT yang bermanfaat bagi kehidupan makhluk-Nya.

Pengertian Rezeki Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “rezeki” memiliki dua pengertian utama. Pertama, rezeki diartikan sebagai segala sesuatu yang digunakan untuk memelihara kehidupan, seperti makanan sehari-hari atau nafkah. Pengertian ini lebih merujuk pada kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup, yang secara langsung mendukung kehidupan fisik seseorang.

Kedua, rezeki juga diartikan sebagai kata kiasan yang mencakup penghidupan, pendapatan, atau keuntungan yang diterima oleh seseorang, seperti uang atau sumber daya lainnya yang digunakan untuk memelihara kehidupan. Dalam konteks ini, rezeki tidak terbatas hanya pada hal-hal yang tampak secara fisik, tetapi juga mencakup segala bentuk kesempatan dan sumber daya yang dapat memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Rezeki dalam Perspektif Bahasa Arab

Kata “rezeki” dalam bahasa Arab adalah “رزق” (rizq). Secara etimologi, kata ini berasal dari akar kata yang memiliki arti pemberian atau anugerah. Dalam konteks agama Islam, rezeki dipandang sebagai segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT kepada makhluk-Nya untuk menunjang kehidupan mereka.

Definisi Rezeki Menurut Para Ulama

Menurut ulama, rezeki mencakup segala sesuatu yang diperoleh oleh seseorang sebagai pemberian dari Allah, baik yang berupa hal-hal materi seperti uang, makanan, atau tempat tinggal, maupun hal-hal non-materi seperti ilmu, kesehatan, kebahagiaan, dan kesempatan. Dalam hal ini, rezeki bukan hanya terbatas pada hal-hal yang tampak, tetapi juga mencakup segala bentuk anugerah yang mendukung kelangsungan hidup dan kesejahteraan seseorang.

Salah satu definisi yang sering dikutip dalam kitab-kitab tafsir adalah pendapat dari Al-Jurjani, yang menyatakan bahwa ar-rizq berarti segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT kepada makhluk-Nya untuk mereka konsumsi dan manfaatkan. Ini termasuk rezeki yang bersifat halal maupun haram, yang semuanya merupakan bagian dari takdir dan ujian kehidupan. Namun, dalam Islam, rezeki yang baik dan bermanfaat adalah yang berasal dari sumber yang halal, sementara yang haram justru membawa mudarat bagi pemiliknya.

B. Landasan Syariah tentang Rezeki dalam Islam

Dalam pandangan Islam, rezeki tidak hanya terbatas pada materi, harta, atau benda yang dapat dihitung. Rezeki dalam Islam meliputi segala sesuatu yang ada dalam kehidupan manusia. Selain harta dan kekayaan, rezeki mencakup waktu, kesehatan, kesempatan, kecerdasan, bahkan keluarga, seperti istri, anak, orang tua, tetangga, teman, serta lingkungan yang mendukung. Bahkan, hujan, tanaman, dan hewan peliharaan pun merupakan bagian dari rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Rezeki dalam Al-Qur’an

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa rezeki bukan hanya sebatas materi, tetapi juga segala nikmat yang ada dalam kehidupan. Dalam surah Al-An’am (142), Allah berfirman:

“Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-An’am: 142)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki, baik itu hewan ternak, tanaman, maupun harta benda, adalah bagian dari rezeki yang diberikan oleh Allah, yang harus disyukuri.

Nikmat Rezeki yang Tak Terhitung

Allah SWT juga mengingatkan umat manusia bahwa nikmat atau rezeki yang diberikan-Nya sangatlah banyak dan tidak dapat dihitung. Dalam surah Ibrahim (34), Allah berfirman:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS: Ibrahim: 34)

Ayat ini menunjukkan bahwa rezeki Allah sangat luas dan mencakup segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita harus selalu bersyukur atas segala pemberian-Nya.

Rezeki yang Mulia

Rezeki yang mulia dalam pandangan Islam adalah rezeki yang tidak hanya bersifat materi, tetapi juga rezeki yang membawa keberkahan di akhirat. Dalam surah Al-Hajj (50), Allah berfirman:

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Hajj: 50)

Menurut Ibn Katsir, rezeki yang mulia ini merujuk pada surga yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada umat yang beriman dan beramal shaleh. Surga adalah tujuan utama bagi setiap Muslim, yang lebih mulia daripada segala harta atau kekayaan dunia.

Rezeki yang Paling Mulia: Surga

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa rezeki yang paling mulia dalam Islam adalah surga. Oleh karena itu, umat Islam harus mengutamakan dua hal yang sangat penting dalam hidup ini: iman dan amal shaleh. Keduanya adalah kunci utama untuk mendapatkan rezeki yang mulia di sisi Allah SWT.

Rezeki Bukan Sekadar Harta

Sangat disayangkan jika seorang Muslim merasa hina hanya karena kurang harta. Bahkan, lebih tercela lagi jika seseorang mengambil keputusan yang salah dalam hidupnya hanya karena alasan kemiskinan. Rezeki yang paling mulia adalah surga, bukan kekayaan dunia yang sifatnya sementara. Para Nabi dan Rasul pun tidak pernah berbangga dengan harta yang mereka miliki. Mereka lebih memilih kehidupan sederhana demi mendapatkan rezeki yang mulia di sisi Allah.

Meskipun demikian, Islam tidak mengharamkan umatnya untuk kaya. Kekayaan yang disertai dengan iman dan amal shaleh justru bisa membawa seseorang pada derajat yang mulia di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, kekayaan harus digunakan untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.

C. Macam-Macam Rezeki dalam Islam

Rezeki adalah pemberian dari Allah SWT yang mencakup segala bentuk kenikmatan dan kebutuhan hidup yang diberikan-Nya kepada makhluk-Nya. Dalam pandangan Islam, rezeki terbagi menjadi dua macam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abdur Razzaq bin Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, seorang ulama besar. Kedua jenis rezeki ini memiliki karakteristik dan pembagian yang sangat jelas, yang perlu dipahami oleh setiap Muslim. Berikut adalah penjelasan mengenai macam-macam rezeki menurut Syaikh Abdur Razzaq:

1. Rezeki yang Umum

Rezeki yang pertama adalah rezeki umum, yaitu rezeki yang diberikan oleh Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya, tanpa memandang status atau keimanan seseorang. Rezeki ini mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan hidup fisik, seperti makanan, minuman, tempat tinggal, dan kesehatan. Rezeki ini diberikan baik kepada orang yang baik maupun yang buruk, yang beriman maupun yang kafir, tanpa terkecuali.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan rezeki kepada semua makhluk hidup, baik yang beriman maupun tidak. Namun, pemberian rezeki tersebut tidak menunjukkan bahwa Allah meridhai perbuatan mereka. Bahkan, dalam ayat lain Allah berfirman:

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu berarti bahwa Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56)

Dari ayat ini, kita dapat memahami bahwa pemberian rezeki kepada orang yang tidak beriman bukanlah tanda bahwa Allah ridha terhadap perbuatan mereka. Rezeki yang diberikan hanya sebagai ujian dan kesempatan untuk mereka berbuat baik.

2. Rezeki yang Khusus

Selain rezeki yang umum, ada juga rezeki yang khusus yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Rezeki ini tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga mencakup rezeki hati, yaitu ilmu, iman, dan kebahagiaan spiritual. Rezeki khusus ini akan memperbaiki agama seseorang dan membimbingnya menuju kebaikan.

Rezeki ini khusus diberikan kepada orang-orang yang beriman sesuai dengan tingkat keimanan dan ketaqwaan mereka. Allah SWT memberikan rezeki yang lebih baik kepada mereka yang mengikuti petunjuk-Nya dengan ikhlas dan penuh pengabdian.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan (mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.” (QS. At-Thalaq: 11)

Rezeki yang khusus ini meliputi ilmu yang bermanfaat, iman yang kokoh, dan rezeki yang halal yang akan membawa seseorang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah memberikan kemuliaan dan karunia-Nya yang lebih besar kepada hamba-Nya yang memiliki keimanan yang kuat dan amal saleh. Sebagai ganjarannya, mereka akan memperoleh kebahagiaan yang sempurna di surga kelak.

D. Batasan Rezeki

Rezeki dalam kehidupan manusia seringkali dipahami hanya sebagai harta kekayaan. Padahal, jika kita memahaminya lebih dalam, rezeki itu sangat luas, mencakup segala bentuk nikmat yang Allah berikan kepada kita, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, kita harus memperluas pemahaman tentang rezeki agar kita selalu bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya.

Rezeki bisa datang dalam berbagai bentuk. Contohnya, kita sebagai manusia diciptakan dengan banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kita juga diberi akal untuk berpikir dan meraih tujuan hidup. Selain itu, rezeki bisa berupa penciptaan langit dan bumi, di mana Allah menyediakan segala kebutuhan bagi manusia yang mau berusaha. Sehat, hujan yang turun, kemarau, ilmu yang bermanfaat, saudara seiman, bahkan kehidupan itu sendiri adalah sebagian kecil dari rezeki yang Allah berikan kepada kita.

Lalu, jika rezeki begitu luas, mengapa kita sering kali hanya melihatnya dalam bentuk kekayaan materi saja? Seringkali, kita lupa untuk mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan, padahal kita sebagai manusia memiliki banyak keistimewaan. Coba bayangkan, jika kita diciptakan sebagai hewan, apakah kita akan menikmati rezeki yang sama seperti kita sebagai manusia?

Sebagai makhluk yang diberi iman dan akal, sudah seharusnya kita bersyukur dan berusaha memperoleh rezeki yang Allah janjikan kepada hamba-Nya. Rezeki itu datang kepada kita bukan hanya melalui harta, tetapi juga melalui cara-cara yang halal dan baik. Kita harus terus berusaha di jalan Allah, menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan keyakinan, serta menggunakan segala nikmat yang ada untuk kebaikan diri kita dan orang lain.

Dengan pemahaman ini, kita dapat lebih menghargai segala bentuk rezeki yang Allah berikan dan tidak terbatas hanya pada harta semata.

E. Aplikasi Berlandaskan Al-Hadits

Umat manusia diberikan kedudukan yang lebih mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Oleh karena itu, sangat tidak pantas bagi manusia untuk merendahkan diri dengan mengagungkan atau menyembah makhluk selain Allah, seperti sapi, ular, kerbau, jin, wali, nabi, atau benda lainnya. Padahal, banyak makhluk ini diciptakan untuk kepentingan manusia.

Qatadah rahimahullahu ta’ala pernah berkata, yang artinya: “Tidak ada sifat baik yang diyakini dan diamalkan oleh masyarakat Jahiliyah dahulu, kecuali sudah diperintahkan oleh Allah. Dan tidak ada sifat buruk yang dulu mereka cela, kecuali sudah dilarang oleh Allah. Sesungguhnya Allah hanya melarang sifat-sifat yang rendah dan tercela.”

Islam mengajarkan akhlak mulia, salah satunya adalah sifat mandiri dan tidak bergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Rasulullah s.a.w. bersabda, yang artinya: “Tidak ada makanan yang lebih baik daripada makanan yang dihasilkan dari pekerjaan tangannya sendiri. Nabi Dawud ‘alaihissalam pun makan dari hasil pekerjaan tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi Dawud memiliki kekayaan dan kekuasaan, beliau memilih untuk bekerja sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Rasulullah juga bersabda: “Seorang dari kalian yang mengambil talinya, mencari kayu bakar, membawanya dengan punggungnya, dan menjualnya, lebih baik bagi dia daripada meminta-minta kepada orang lain, baik orang itu memberi atau menolaknya.” (HR. Bukhari).

Hadits lainnya berbunyi: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah tangan yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta.” (HR. Bukhari).

Para sahabat dan ulama salaf pun bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka, seperti berdagang, bertani, atau bekerja tanpa rasa malu atau gengsi.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, terdapat cerita tentang ‘Umar bin Khaththab r.a. yang bertanya kepada seorang laki-laki yang terlambat datang shalat Jum’at. Laki-laki itu menjelaskan bahwa dia terlambat karena baru mendengar adzan. ‘Umar tidak mencela laki-laki tersebut karena bekerja untuk mencari rezeki, namun beliau menegur karena terlambat dan lupa untuk mandi sebelum shalat Jum’at. (HR. Bukhari dan Muslim).

F. Studi Kasus

Dalam bukunya yang berjudul Mafaatihul Rizq fi Daw’ Al-Kitab wa Al-Sunnah, Fadl-ul-Ilahi membahas dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menjelaskan bagaimana Allah membuka pintu-pintu rezeki. Misalnya, dalam Surah Nuh ayat 10-12 dan Surah Hud ayat 3 dan 52, yang menjelaskan sebab-sebab datangnya rezeki. Selain itu, terdapat hadits dari Abdullah bin Abbas r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Nisa’i, dan Hakim: “Barang siapa yang memperbanyak Istighfar, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan mengganti kesempitan dengan kelapangan, serta memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.”

Namun, yang perlu dipahami adalah bahwa rezeki dan kerja adalah dua hal yang berbeda. Menganggap rezeki hanya berasal dari pekerjaan kita adalah kesalahan. Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam bukunya Rezeki (Gema Insani Press, 1995), Allah memiliki rezeki yang sangat luas.

Jika kita hanya menggantungkan rezeki pada pekerjaan, kita sebenarnya mempersempit pintu rezeki yang telah dibuka lebar-lebar oleh Allah. Tetapi, jika kita berharap rezeki tanpa berusaha dengan kerja keras, maka kita telah mengabaikan nasihat Nabi Muhammad s.a.w. yang menyatakan: “Sesungguhnya bekerja mencari rezeki yang halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah-ibadah fardu” (HR At-Tabrani dan Baihaqi).

Hadits inilah yang mungkin menginspirasi masyarakat Pakistan untuk mencantumkan makna hadits ini di setiap uang kertas mereka: “Husul rizq halal ibadat hay” (Mendapatkan rezeki halal adalah ibadah yang hidup).

Sayangnya, banyak masyarakat yang menghadapi kesulitan dalam mencari rezeki, dan mereka terkadang menyalahkan agama atas kesulitan itu. Padahal, pemahaman yang salah seperti ini sangat berbahaya, karena bisa membuat masyarakat menjadi antipati terhadap agama.

Untuk itu, penting bagi kita untuk menjelaskan pemahaman yang benar tentang rezeki. Jika pemahaman ini tidak disampaikan dengan baik, tidak jarang orang Islam sendiri akan merasa bahwa “aturan agama menyulitkan untuk memperoleh rezeki”. Oleh karena itu, para da’i (penceramah agama) memiliki peran penting dalam hal ini. Dakwah tidak hanya soal memberi pengaruh, tetapi juga memberi solusi nyata untuk membantu masyarakat dalam mencari rezeki. Dengan memenuhi kebutuhan mereka terlebih dahulu, barulah mereka akan mendengarkan nasihat-nasihat agama yang kita sampaikan.

Praktik semacam ini adalah cara yang pernah digunakan oleh para misionaris Kristen untuk mempengaruhi umat Islam di tanah air.

Referensi:

  • Amalia, Euis. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Depok: Gramata Publishing, 2010.
  • Fajri, Em Zul, dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Difa Publishing.
  • Musthafa, Ibrahim, dkk. al-Mu’jam al-Wasith. Istanbul: al-Maktabah al-Islamiyah, 1972.
  • al-Jurjani, Ali ibn Muhammad. at-Ta’rifat. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1405.
  • Mannan, M. Abdul. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa, Edisi Lisensi, 1997.
  • Al-Faruq, Asadullah. Rahasia Sukses Dagang Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abdurrahman bin Auf. Solo: As-Salam Publishing, 2012.
  • Al-Badr, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin. Fikih Asma’ul Husna. Jakarta: Darus Sunnah Press, 2010.
  • Badri, Muhammad Arifin bin. Sifat Perniagaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Panduan Praktis Fiqih Perniagaan Islam. Bogor: Pustaka Darul Ilmi, Cet. II, 2010.

Lainnya: