Menu Tutup

Tafsir Maudhu’i : Pengertian, Pembagian, Metode, Kelebihan / Kekurangan dan Perbandingannya

Tafsir Maudhu’i : Pengertian, Pembagian, Metode, Kelebihan / Kekurangan dan Perbandingannya - Artikel Universitas Wira Buana

afsir Maudhu’i adalah salah satu pendekatan penting dalam ilmu tafsir yang memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan metode tafsir lainnya. Dalam pendekatan ini, ayat-ayat Al-Qur’an ditafsirkan berdasarkan tema atau topik tertentu, bukan urutan turun atau konteks tertentu.

Tafsir Maudhu’i memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu kontemporer dengan memadukan ayat-ayat yang relevan dalam Al-Qur’an. A

rtikel ini akan membahas secara rinci mengenai pengertian tafsir maudhu’i, pembagiannya, metode yang digunakan dalam penyusunan tafsir ini, serta kelebihan dan kekurangannya.

Tidak hanya itu, artikel ini juga akan membandingkan tafsir maudhu’i dengan pendekatan tafsir lainnya, memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang bagaimana tafsir ini dapat diterapkan dalam kajian keagamaan dan sosial saat ini.

Pengertian Tafsir Maudhu’i

Tafsir Maudhu’i, atau yang dikenal juga sebagai tafsir tematik, adalah metode penafsiran Al-Qur’an yang berfokus pada pengumpulan ayat-ayat yang memiliki tema atau topik yang sama, kemudian menganalisisnya secara mendalam dan sistematis.

Metode ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas dan terfokus karena diskusinya didasarkan pada tema tertentu, sehingga keunggulan dari tafsir maudhu’i adalah dinamis, sistematis, dan mudah dipahami secara keseluruhan (Anshory, 2020; Nazhifah & Karimah, 2021; Alawi, 2018).

Dalam tafsir maudhu’i, ayat-ayat yang berkaitan dengan tema tertentu dikumpulkan dan disusun berdasarkan kronologi turunnya ayat serta memperhatikan latar belakang sebab-sebab turunnya ayat tersebut.

Setelah itu, ayat-ayat tersebut dijelaskan, diberi komentar, dan diambil poin-poin penting dari isinya (Maisaroh & Toriquddin, 2021; Mulyaden & Fuad, 2021).

Misalnya, dalam penafsiran mengenai manajemen kesiswaan di lembaga pendidikan Islam, ayat-ayat yang relevan dikumpulkan dan dianalisis untuk memberikan panduan tentang bagaimana manajemen siswa seharusnya dilakukan menurut perspektif Al-Qur’an (Maisaroh & Toriquddin, 2021).

Tafsir maudhu’i juga dikenal dengan beberapa karakteristik khusus, seperti bersifat spesifik (juz’iyyah) bukan komprehensif (kuliyah), lebih fokus pada tema-tema tertentu yang berkaitan erat dengan kemanusiaan, dan memperhatikan masalah-masalah kontemporer (Yusuf & Permana, 2021).

Metode ini dianggap lebih praktis dan aktual dalam menjawab tantangan zaman serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna Al-Qur’an (Mulyaden & Fuad, 2021).

Para ahli tafsir seperti Abdul Hayy Al-Farmawi, Muhammad Baqir Ash-Sadr, dan Abdussatar Fathullah Said sepakat bahwa metode tafsir maudhu’i sangat penting karena dapat menjawab masalah-masalah kontemporer dan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Al-Qur’an (Yunus et al., 2021).

Meskipun mereka memiliki pandangan yang sama mengenai urgensi metode ini, terdapat perbedaan dalam langkah awal dan proses operasional yang mereka formulakan (Yunus et al., 2021).

Secara etimologi, kata “maudhu’i” dalam Al-Qur’an ditemukan sebanyak 24 kali, yang salah satu maknanya adalah menentukan sesuatu yang digunakan dalam suatu masalah atau topik (Nazhifah & Karimah, 2021).

Dengan demikian, istilah maudhu’i dapat diterapkan dalam studi penafsiran dengan mengumpulkan ayat-ayat yang memiliki tema atau topik yang sama dan kemudian menganalisisnya secara detail sesuai dengan aturan tafsir tahlili (Nazhifah & Karimah, 2021).

Karakteristik Tafsir Maudhu’i

Tafsir Maudhu’i, atau tafsir tematik, adalah metode penafsiran Al-Qur’an yang berfokus pada tema tertentu. Metode ini mengumpulkan dan mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan tema yang sama, sehingga memberikan penjelasan yang lebih terfokus dan jelas. Berikut adalah beberapa karakteristik utama dari Tafsir Maudhu’i:

Dinamis dan Sistematis

Tafsir Maudhu’i dikenal karena sifatnya yang dinamis dan sistematis. Penafsiran ini disusun berdasarkan tema, yang memungkinkan pembaca untuk memahami isi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan lebih mudah dan terstruktur. Sebagai contoh, As-Sa’di dalam karyanya “Taisirul Lathifil Mannani fi Khulashati Tafsiril Qur`an” menggunakan metode ini dengan mengumpulkan ayat-ayat berdasarkan tema tertentu, seperti aqidah, hukum Islam, dan kisah para nabi (Anshory, 2020).

Fokus pada Tema Tertentu

Metode ini memungkinkan penafsiran yang lebih mendalam dan spesifik terhadap tema tertentu. Misalnya, dalam studi tentang materialisme dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, penafsiran dilakukan dengan mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan materialisme. Hal ini membantu dalam memahami bagaimana Al-Qur’an membahas isu-isu kontemporer seperti gaya hidup materialistis dan dampaknya terhadap kehidupan sosial (Khudzaifah et al., 2022).

Relevansi dengan Isu Kontemporer

Tafsir Maudhu’i juga sering digunakan untuk mengkaji isu-isu kontemporer yang relevan dengan kehidupan modern. Sebagai contoh, penelitian tentang eksistensi konselor sebagai khalifah menggunakan metode tafsir maudhu’i untuk mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang konselor dalam perspektif Islam. Penelitian ini menunjukkan bagaimana tafsir maudhu’i dapat digunakan untuk memberikan panduan praktis dalam profesi tertentu (S & Irman, 2023).

Kemudahan Pemahaman

Salah satu keunggulan utama dari Tafsir Maudhu’i adalah kemudahan dalam pemahaman. Dengan mengelompokkan ayat-ayat berdasarkan tema, pembaca dapat lebih mudah memahami pesan-pesan Al-Qur’an tanpa harus mencari-cari ayat yang tersebar di berbagai surah. Hal ini membuat tafsir maudhu’i menjadi pilihan yang sangat efektif untuk pendidikan dan dakwah (Anshory, 2020; S & Irman, 2023).

Pembagian Tafsir Maudhu’i

Dalam perkembangannya, metode maudhu’i memiliki dua bagian (Nushruddin, 1988):

–  Mengkaji sebuah surat dengan kajian universal (tidak parsial), yang di dalamnya dikemukakan misi awalnya, lalu misi utamanya, serta kaitan antara satu bagian surat dan bagian lain, sehingga wajah surat itu mirip seperti bentuk yang sempurna dan saling melengkapi. Contoh:

Artinya: “ Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. (Q.S Saba [34] :1-2)

Di Al-Qur’an surat saba’: 1-2 ini diawali pujian bagi Allah dengan menyebutkan kekuasaan-Nya. Setelah itu, mengemukakan pengetahuan-Nya yang universal, kekuasaan-Nya yang menyeluruh pada kehendak-Nya yang bijak.

Menghimpun seluruh ayat Al-qur’an yang berbicara tentang tema yang sama. Semuanya diletakkan dibawah satu judul, lalu ditafsirkan dengan metode maudhu’i.

Contohnya: Allah SWT, berfirman:

Artinya: “ Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dan tuhannya , maka Allah menerima tibatnya, sesungguhnya Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang.” (Q.S Al-Baqarah [2] : 37)

Untuk menjelaskan kata ‘kalimat’ pada firman Allah Ta’ala di atas ,nabi mengemukakan ayat.

Artinya:“ Keduanya berkata, : ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang merugi.” (Q.S Al-A’raaf [7] : 23)

Langkah-langkah Tafsir Maudhu’i

Langkah-langkah metode tafsir maudhu’i baru dimunculkan pada akhir tahun 1960 oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid Al-Kumiy dengan langkah-langkah sebagai berikut (Nushruddin, 1988):

  1. Memilih atau menetapkan masalah al-Qur’an yang akan dikaji secara maudhu’i (tematik).
  2. Menghimpun seluruh ayat al-quran yang terdapat pada seluruh surat al-Qur’an yang berkaitan dan berbicara tentang tema yang hendak dikaji, baik surat makkiyyat atau surat madaniyyat.
  3. Menentukan urutan ayat-ayat yang dihimpun itu sesuai dengan masa turunnya dan mengemukakan sebab-sebab turunnya jika hal itu dimungkinkan (artinya, jika ayat-ayat itu turun karena sebab-sebab tertentu).
  4. Menjelaskan munasabah (relevansi) antara ayat-ayat itu pada masing-masing suratnya dan kaitan antara ayat-ayat itu dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya pada masing-masing suratnya (dianjurkan untuk melihat kembali pada tafsir tahlily).
  5. Menyusun tema bahasan di dalam kerangka yang pas, sistematis, sempurna, dan utuh (outline) yang mencakup semua segi dari tema kajian.
  6. Mengemukakan hadith-hadith Rasulullah SAW yang berbicara tentang tema kajian serta men-takhrij dan menerangkan derajat hadith-hadith itu untuk lebih meyakinkan kepada orang lain yang mempelajari tema itu. Dikemukakan pula riwayat-riwayat (athar) dari para sahabat dantabi’in.
  7. Merujuk kepada kalam (ungkapan-ungkapan bangsa) Arab dan shair-shair mereka dalam menjelaskan lafaz-lafaz yang terdapat pada ayat-ayat yang berbicara tentang tema kajian dan dalam menjelaskan makna-maknanya.
  8. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara maudu’i dan menyeluruh dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung pengertian serupa, mengkompromikan pengertian antara yang ‘am dan khas, antara yang mutlaq dan muqayyad, mengsinkronkan ayat-ayat yang lahirnya tampak kontradiktif, menjelaskan ayat yang nasikh danmansukh, sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna-makna yang sebenarnya tidak tepat.

Sedangkan  yang melakukan tafsir maudu’i dengan surat persurat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengambil satu surat dan menjelaskan masalah-masalah yang berhubungan dengan surat tersebut, sebab-sebab turunnya dan bagaimana surat itu diturunkan (permulaan, pertengahan ataupun akhir, madaniyat atau makkiyat, dan hadith-hadith yang menerangkan keistimewaanya).
  2. Menyampaikan pengertian dari tujuan mendasar dalam surat dan membahas mengenai terjadinya nama surat itu.
  3. Membagi surat (khusus untuk surat yang panjang) kepada bagian-bagian yang lebih kecil, menerangkan unsur-unsurnya (meliputi ‘am khas-nya, nasikh mansukh-nya, lafaz-nya dalam bahasa Arab dan lain-lain) dan tujuan masing-masing bagian serta menetapkan kesimpulan dari bagian tersebut.
  4. Menghubungkan keterangan atau kesimpulan dari masing-masing bagian kecil tersebut dan menerangkan pokok tujuannya.

Analisis Kelebihan dan Kelemahan Tafsir Maudhu’i

Kelebihan metode tafsir maudhu’i antara lain:

  1. Menjawab tantangan zaman: Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Maka metode maudhu’i sebagai upaya metode penafsiran untuk menjawab tantangan tersebut. Untuk kajian tematik ini diupayakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat.
  2. Praktis dan sistematis: Tafsir dengan metode  tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam usaha memecahkan permasalahan yang timbul.
  3. Dinamis: Metode tematik membuat tafsir al-Qur’an selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman sehingga menimbulkan image di dalam pikiran pembaca dan pendengarnya bahwa al-Qur’an senantiasa mengayomi dan membimbing kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan starata sosial.
  4. Membuat pemahaman menjadi utuh: Dengan ditetapkannya judul-judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-ayat al-Qur’an dapat diserap secara utuh. Pemahaman semacam ini sulit ditemukan dalam metode tafsir yang dikemukakan di muka. Maka metode tematik ini dapat diandalkan untuk pemecahan suatu permasalahan secara lebih baik dan tuntas

Kekurangan metode tafsir maudhu’i antara lain:

  1. Memenggal ayat al-Qur’an: Yang dimaksud memenggal ayat al-Qur’an ialah suatu kasus yang terdapat di dalam suatu ayat atau lebih mengandung banyak permasalahan yang berbeda. Misalnya, petunjuk tentang shalat dan zakat. Biasanya kedua ibadah itu diungkapkan bersama dalam satu ayat. Apabila ingin membahas kajian tentang zakat misalnya, maka mau tidak mau ayat tentang shalat harus di tinggalkan ketika menukilkannya dari mushaf agar tidak mengganggu pada waktu melakukan analisis.
  2. Membatasi pemahaman ayat: Dengan diterapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat menjadi terbatas pada permasalahan yang dibahas tersebut. Akibatnya mufassir terikat oleh judul itu. Padahal tidak mustahil satu ayat itu dapat ditinjau dari berbagai aspek, karena dinyatakan Darraz bahwa, ayat al-Qur’an itu bagaikan permata yang setiap sudutnya memantulkan cahaya. Jadi, dengan diterapkannya judul pembahasan, berarti yang akan dikaji hanya satu sudut dari permata tersebut.

Kedudukan Tafsir Maudhu’i

Ali Hasan al-Aridl, mengatakan bahwa urgensi metode maudhu’i dalam era sekarang ini yaitu: Metode maudhu’i berarti menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang tersebar pada bagian surat dalam al-Qur’an yang berbicara tentang suatu tema. Tafsir dengan metode ini termasuk tafsir bi al-ma’tsur dan metode ini lebih dapat menghindarkan mufassir dari kesalahan. Dengan menghimpun ayat-ayat tersebut seorang pengkaji dapat menemukan segi relevansi dan hubungan antara ayat-ayat itu. Dengan metode maudhu’i seorang pengkaji mampu memberikan suatu pemikiran dan jawaban yang utuh dan tuntas tentang suatu tema dengan cara mengetahui, menghubungkan dan menganalisis secara komprehensif terhadap semua ayat yang berbicara tentang tema tersebut.

Dengan metode ini seorang pengkaji mampu menolak dan menghindarkan diri dari kesamaran-kesamaran dan kontradiksi-kontradiksi yang ditemukan dalam ayat. Metode maudhu’i sesuai dengan perkembangan zaman modern dimana terjadi diferensiasi pada tiap-tiap persoalan dan masing-masing masalah tersebut perlu penyelesaian secara tuntas dan utuh seperti sebuah sistematika buku yang membahas suatu tema tertentu. Dengan metode maudhu’i orang dapat mengetahui dengan sempurna muatan materi dan segala segi dari suatu tema.

Metode maudhu’i memungkinkan bagi seorang pengkaji untuk sampai pada sasaran dari suatu tema dengan cara yang mudah tanpa harus bersusah payah dan menemui kesulitan. Metode maudhu’i mampu menghantarkan kepada suatu maksud dan hakikat suatu masalah dengan cara yang paling mudah, terlebih lagi pada saat ini telah banyak bertaburan ”kotoran” terhadap hakikat agama-agama sehingga tersebar doktrin-doktrin kemanusiaan dan isme-isme yang lain sehingga sulit untuk dibedakan.

Dari berbagai uraian tentang kelebihan dan kelemahan dari masing-masing metode yang dikemukakan, menurut Hujair A.H Sanaky kebutuhan ummat pada zaman modern, metode Maudhu’i mempunyai peran yang sangat besar dalam penyelesaian suatu tema dengan mendasarkan ayat-ayat al-Qur’an, walaupun setiap metode memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang tentu tergantung pada kepentingan dan kebutuhan mufassir serta situasi dan kondisi yang ada.

Dengan demikian metode maudhu’i dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh ummat dewasa ini, karena metode maudhu’i mampu menghantarkan ummat (pembaca Tafsir) ke suatu maksud dan hakekat suatu persoalan dengan cara yang paling mudah, sebab tanpa harus bersusah payah dan memenuhi kesulitan dalam memahami tafsir. Selain itu sisi lain yang dilihat adalah dengan metode maudhu’i, mufassir berusaha berdialog aktif dengan al-Qur’an untuk menjawab tema yang dikehendaki secara utuh, sementara kalau kita perhatikan penafsiran al-Qur’an dengan metode tahlili, mufassir justru bersikap pasif sebab hanya mengikuti urutan ayat dan surat dalam al-Qur’an.(Nushruddin, 1988)

Perbedaan dan Persamaan Tafsir Hadits Maudhu’i

  1. Perbedaan metode maudhu’i (tematik) dengan metode tahlili
Metode Tahlili Metode Maudhu’i (Tematik)
–  mufassir terikat dengan susunan ayat sebagaimana tercantum dalam mushaf.

–  Mufassir berusaha berbicara menyangkut beberapa tema yang ditemukan dalam satu ayat.

–  Mufassir berusaha menjelaskan segala sesuatu yang ditemukan dalam satu ayat.

–  Sulit ditemukan tema-tema tertentu yang utuh

–  Sudah dikenal sejak dahulu dan banyak digunakan dalam kitab-kitab tafsir yang ada.

–  Mufassir tidak terikat dengan susunan ayat dalam mushaf, tetapi lebih terikat dengan urutan masa turunya ayat, atau kronologi kejadian.

–  Mufassir tidak berbicara tema lain  selain tema ysng sedang dikaji. Oleh  karena itu, ia dapat mengangkat tema-tema Al-qur’an yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak bercampur aduk dengan tema-tema lain.

–  Mufassir tidak membahas segala permasalahan yang dikandung oleh satu ayat. Tetapi hanya yang berkaitan dengan pokok bahasan.

– Mudah untuk menyusun tema-tema al-qur’an yang berdiri sendiri.

–  Walaupun benihnya ditemukan sejak dahulu, sebagai sebuah metode penafsiran yang jelas dan utuh baru dikenal belakangan saja.

  1. Perbedaan metode maudhu’i (tematik) dengan metode ijmali (global)
Metode Ijmali (Global) Metode Maudhu’i (Tematik)
– Mufassir terikat dengan susunan mushaf.

– Mufassir berusaha berbicara menyangkut beberapa tema yang ditemukan dalam satu ayat.

– Mufassir tidak terikat dengan susunan mushaf.

– Mufassir tidak berbicara tema lain selain tema yang sedang dikaji.

  1. Perbedaan metode maudhu’i dengan metode muqaran
Metode Muqaran Metode Maudhu’i
– Mufassir menjelaskan al-Qur’an dengan apa saja yang ditulis oleh para mufassir.

– Mufassir terikat dengan uraian para mufassir.

– Mufassir tidak berbicara tema lain selain tema yang sedang dikaji.

–  Mufassir tidak terikat dengan uraian para mufassir.

 

Referensi:

Lainnya: