Pengertian Tasawuf
Ditinjau dari segi bahasa (etimologi), para ahli berbeda pendapat tentang nisbah/sandaran asal kata tasawuf. Harun Nasution menyebutkan lima istilah yang berkenaan dengan asal kata tasawuf, yaitu:
- Ṣafa (suci). Disebut ṣafa (suci) karena kesucian batin kaum sufi dan kebersihan tindakan dan keikhlasannya.
- Ṣaff (barisan). Karena kaum sufi mempunyai iman kuat, jiwa bersih, ikhlas dan senantiasa memilih barisan yang paling depan dalam ṣalat berjama’ah.
- Theosophi (Yunani: theo = Tuhan; shopos = hikmah, ilmu yang tinggi dan dalam); yang artinya hikmah / kearifan ketuhanan.
- Ṣuffah (serambi tempat duduk); yakni serambi masjid Nabawi di Madinah yang disediakan untuk orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal dari kalangan Muhajirin di masa Rasulullah Mereka bisaa dipanggilahli shuffah (pemilik serambi) karena di serambi masjid itulah mereka bernaung.
- Ṣūf (bulu domba); hal ini disebabkan kaum sufi bisaa menggunakan pakaian dari bulu domba yang kasar, sebagai lambang akan kerendahan hati mereka, juga untuk menghindari sikap sombong di hatinya di samping untuk menenangkan jiwa, serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. Syuhrawardi mengatakan bahwa mereka berkumpul di masjid Madinah, seperti halnya orang sufi berkumpul di Zawiyah dan Mereka tidak tergerak untuk berusaha mencari nafkah dan membutuhkan hidup. Rasulullah sendiri membantu mereka untuk memperhatikan dan memberi bantuan kepadanya.
Sedangkan secara terminologi, berikut ini adalah beberapa definisi tasawuf yang diungkapkan oleh para ahli:
- Abu Yazid Al-Bustami (w. 261 H / 875 M), pencetus teori fana’ baqa’ dan ittihad mengemukakan bahwa tasawuf meliputi tiga aspek, yaitu kha’, ha’ dan jim. Kha’ maksudnya takhalli berarti mengosongkan diri dari perangai yang tercela; ha’ maksudnya tahalli berarti menghiasi diri dengan akhlak terpuji, dan jim maksudnya tajalli, berarti mengalami kenyataan
- Al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H/910 M) yang dikenal dengan bapak tasawuf Ia mendefinisikan tasawuf sebagai keberadaan bersama Allah SWT tanpa adanya penghubung. Baginya tasawuf berarti membersihkan hati dari sifat yang menyamai binatang, menekan sifat basyariyah, menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, memberi nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji kepada Allah SWT dan mengikuti syari’at Rasulullah Saw.
- Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili (w.1258), Syaikh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan
- Muhammad Amin al-Kurdy memandang tasawuf sebagai suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal-hal yang terkait dengan kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dengan sifat-sifat terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhoan yang diperintahkan-Nya. Orang sufi menurut Al-Kurdi yaitu orang yang hatinya jernih, terhindar dari kehidupan buruk, dan senantiasa terisi oleh nur ilahi, sehingga kemurnian hatinya bagaikan emas.
- Zakaria al-Anshari (852– 925 H/ 1448-1519 M) seorang penulis tasawuf memandang tasawuf sebagai cara menyucikan diri, meningkatkan akhlak dan membangun kehidupan jasmani dan rohani untuk mencapai kebahagiaan abadi. Unsur utama tasawuf adalah penyucian diri dan tujuan akhirnya adalah kebahagiaan dan keselamatan.
- Ibrahim Basyuni mengkategorikan pengertian tasawuf pada tiga hal: Pertama, al- Bidayah, yaitu pemahaman tasawuf pada tingkat permulaan yaitu menekankan kecenderungan jiwa dan kerinduannya secara fitrah kepada Yang Maha Mutlak, sehingga orang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah Kecenderungan jiwa seperti ini menurutnya dimiliki oleh setiap manusia. Dalam fitrah inilah manusia berbeda dengan binatang. Kedua, al-Mujahadah, yaitu pemahaman tasawuf pada pengalaman yang didasarkan pada kesungguhan yaitu yang lebih menonjolkan akhlak dan amal dalam pendekatan diri kepada Allah Swt. Ketiga, al-Madzaqat yaitu pemahaman tasawuf pada pengalaman batin dan perasaan keberagamaan, terutama dalam mendekati dzat yang mutlak. Dari ketiga pemahaman kategori tasawuf di atas, Basyuni menyimpulkan bahwa tasawuf adalah kesadaran murni yang mengerahkan jiwa secara benar kepada amal dan aktivitas yang sungguh-sungguh dan menjauhkan diri dari keduniawian dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. untuk mendapatkan perasaan dalam berhubungan dengan-Nya.
- Amin Syukur mendefinisikan tasawuf sebagai sistem latihan dengan kesungguhan (riyāḍah, mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi dan memeperdalam aspek kerohanian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) sehingga segala perhatian hanya tertuju kepada-Nya.
Merujuk kepada pengertian di atas, maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.
Sejarah dan Asal-Usul Tasawuf
Awal Mula dan Pengaruh Awal
Tasawuf memiliki akar yang sangat dalam dalam sejarah Islam. Meskipun sering dianggap muncul pada abad ke-8 atau ke-9 Masehi, elemen-elemen tasawuf sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Para sahabat Nabi yang mendalami kehidupan spiritual, seperti Ali bin Abi Thalib, sering dianggap sebagai figur awal yang mewakili ajaran tasawuf.
Perkembangan di Era Klasik
Tasawuf mulai terbentuk sebagai sebuah disiplin yang terorganisir pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Para tokoh awal seperti Hasan al-Basri (w. 728 M) dan Rabiah al-Adawiyah (w. 801 M) memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ajaran-ajaran tasawuf. Hasan al-Basri dikenal dengan ajarannya tentang kewaspadaan terhadap dunia dan pentingnya ketulusan dalam ibadah, sedangkan Rabiah dikenal dengan konsep cinta ilahi yang mendalam.
Pengaruh Filsafat dan Teologi
Selama periode abad pertengahan, tasawuf banyak dipengaruhi oleh filsafat dan teologi Islam. Para sufi seperti Al-Ghazali (w. 1111 M) dan Ibn Arabi (w. 1240 M) menggabungkan elemen-elemen tasawuf dengan filsafat dan teologi, menciptakan suatu kerangka yang lebih sistematis untuk memahami dan mempraktekkan tasawuf. Al-Ghazali, misalnya, dikenal dengan karyanya “Ihya Ulum al-Din” (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama) yang mengintegrasikan tasawuf dengan syariah Islam.
Konsep-Kosep Utama dalam Tasawuf
Maqam dan Hal
Dalam tasawuf, perjalanan spiritual seorang sufi sering digambarkan sebagai perjalanan melalui berbagai maqam (tahapan) dan hal (keadaan spiritual). Maqam adalah tahapan yang dicapai melalui usaha dan latihan spiritual, sedangkan hal adalah keadaan spiritual yang diberikan oleh Tuhan sebagai karunia.
Maqam
Beberapa maqam yang dikenal dalam tasawuf antara lain:
- Tawbah (Pertobatan): Langkah awal dalam perjalanan sufi, di mana individu menyesali dosa-dosanya dan memutuskan untuk kembali kepada Tuhan.
- Wara’ (Menjauhi Dosa): Meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan dan menjauhi hal-hal yang meragukan.
- Zuhud (Kehidupan Sederhana): Menyederhanakan kehidupan dan menjauhkan diri dari keinginan duniawi yang berlebihan.
- Sabr (Kesabaran): Menunjukkan ketabahan dan keteguhan dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup.
- Tawakkul (Kepercayaan kepada Tuhan): Mempercayakan segala urusan kepada Tuhan dan tidak tergantung pada makhluk.
Hal
Hal-hal yang sering dialami oleh para sufi antara lain:
- Wajd (Ekstase): Keadaan kebahagiaan dan kegembiraan yang luar biasa sebagai hasil dari pengalaman spiritual.
- Sukr (Mabuk Cinta Ilahi): Keadaan mabuk spiritual yang disebabkan oleh cinta dan kerinduan yang mendalam kepada Tuhan.
- Fana (Peleburan Diri): Hilangnya kesadaran diri dalam kesadaran akan Tuhan.
- Baqa (Kekekalan): Keberlanjutan kesadaran spiritual setelah fana, di mana individu tetap berada dalam kesadaran akan Tuhan namun tetap menjalankan kehidupan duniawi.
Dzikir dan Murqaba
Dzikir, atau ingatan kepada Tuhan, adalah praktik utama dalam tasawuf. Dzikir dapat dilakukan secara lisan maupun dalam hati, dan sering kali melibatkan pengulangan nama-nama Tuhan atau frasa tertentu seperti “La ilaha illallah” (Tiada tuhan selain Allah).
Murqaba, atau meditasi, adalah praktik lain yang sangat penting dalam tasawuf. Murqaba melibatkan perhatian penuh kepada Tuhan dan pemusatan pikiran pada kehadiran-Nya. Kedua praktik ini dirancang untuk membantu seorang sufi mencapai keadaan kesadaran yang lebih tinggi dan kedekatan dengan Tuhan.
Cinta Ilahi dan Makrifat
Cinta ilahi (mahabbah) adalah tema sentral dalam tasawuf. Para sufi percaya bahwa cinta kepada Tuhan adalah puncak dari semua pengalaman spiritual dan merupakan jalan utama menuju makrifat, atau pengetahuan langsung tentang Tuhan. Seorang sufi yang mencapai makrifat memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat Tuhan dan realitas spiritual.
Peran Sufi dalam Masyarakat
Tarekat dan Organisasi Sufi
Sufi sering berkumpul dalam kelompok-kelompok yang disebut tarekat. Tarekat adalah organisasi spiritual yang dipimpin oleh seorang guru sufi, yang dikenal sebagai mursyid atau syaikh. Tarekat-tarekat ini memiliki aturan, praktik, dan ajaran khusus yang diturunkan dari pendiri tarekat tersebut.
Beberapa tarekat yang terkenal antara lain:
- Qadiriyah: Didirikan oleh Abdul Qadir al-Jilani.
- Naqsyabandiyah: Didirikan oleh Baha-ud-Din Naqshband Bukhari.
- Syadziliyah: Didirikan oleh Abu al-Hasan al-Shadhili.
- Rifaiyah: Didirikan oleh Ahmad al-Rifa’i.
Peran Sosial dan Pendidikan
Para sufi sering berperan penting dalam pendidikan dan penyebaran Islam. Banyak dari mereka yang mendirikan madrasah, masjid, dan pusat-pusat pembelajaran lainnya. Mereka juga sering terlibat dalam kegiatan sosial dan amal, membantu masyarakat sekitar dengan berbagai cara.
Seni dan Budaya
Tasawuf juga memiliki pengaruh besar dalam seni dan budaya Islam. Banyak puisi, musik, dan tarian yang terinspirasi oleh ajaran-ajaran tasawuf. Salah satu bentuk seni yang terkenal adalah tarian sufi atau sama’, yang sering dilakukan oleh tarekat Mevlevi. Puisi-puisi dari sufi terkenal seperti Jalaluddin Rumi dan Hafiz juga menjadi warisan budaya yang sangat berharga.
Tasawuf dalam Konteks Modern
Peran Tasawuf di Dunia Kontemporer
Di zaman modern, tasawuf terus memainkan peran penting dalam kehidupan spiritual banyak umat Islam. Ajaran-ajaran tasawuf menawarkan cara untuk menemukan kedamaian batin dan makna hidup di tengah-tengah dunia yang semakin materialistik dan cepat berubah.
Tantangan dan Kritik
Meskipun tasawuf dihormati oleh banyak orang, ia juga menghadapi kritik dari beberapa kalangan. Beberapa kritikus menganggap tasawuf sebagai penyimpangan dari ajaran Islam yang murni dan mengkritik beberapa praktik yang dianggap berlebihan atau tidak sesuai dengan syariah. Namun, para pendukung tasawuf berargumen bahwa esensi tasawuf adalah mencari kedekatan dengan Tuhan, yang merupakan tujuan utama dari semua ajaran Islam.
Tasawuf dan Dialog Antaragama
Tasawuf juga memainkan peran penting dalam dialog antaragama. Nilai-nilai universal yang diajarkan dalam tasawuf, seperti cinta, kedamaian, dan toleransi, membantu membangun jembatan antara berbagai tradisi agama dan budaya. Para sufi sering kali terlibat dalam upaya-upaya untuk mempromosikan pemahaman dan kerjasama antaragama.
Kesimpulan
Tasawuf adalah dimensi esoteris dari Islam yang berfokus pada pencarian pengalaman langsung akan Tuhan dan kebijaksanaan spiritual. Dengan sejarah yang panjang dan kaya, tasawuf telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan umat Islam, dari teologi dan filsafat hingga seni dan budaya. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kritik, tasawuf terus menjadi sumber inspirasi dan kedamaian bagi banyak orang di dunia modern. Melalui praktik-praktik seperti dzikir, murqaba, dan cinta ilahi, tasawuf menawarkan jalan menuju kedamaian batin dan makrifat, membantu individu menemukan makna hidup dan kedekatan dengan Tuhan.